Tradisi Rembuk Kota Solo
Posted on | September 2, 2011 | No Comments
Tradisi Rembuk Kota ala Jokowi-Rudy
Kompas Jumat, 2 September 2011
Menjadi pemimpin untuk periode kedua tidaklah membuat pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo, Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo, berubah. Tradisi mengumpulkan warga Kota Solo dalam sebuah acara refleksi—mengenai kepemimpinan mereka, yang digelar sejak periode pertama kepemimpinan—tetap dipertahankan.
Maka, ketika melewati tahun pertama periode kedua (2010-2015) kepemimpinan mereka, pada akhir Juli lalu, pemimpin Kota Solo yang akrab disapa Jokowi dan Rudy ini pun mengundang ribuan warga untuk berkumpul di Balai Kota Solo, Jawa Tengah.
Dalam refleksi bertema ”Solo Hijau dan Berbudaya” keduanya membuka dialog dengan warga Kota Solo, mulai dari pimpinan RT dan RW, pedagang pasar, pengusaha, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, hingga pimpinan partai politik, kalangan pendidikan, tokoh agama, dan mahasiswa.
Dalam dialog yang digelar malam hari itu, Jokowi duduk lesehan bersama dengan warga Kota Solo. Jokowi memulai paparannya dengan mengingatkan warga Solo bahwa Kota Solo adalah kota berbudaya yang memiliki kemegahan.
”Maka, sangat riskan kalau kota sebegini megahnya hanya ditumpukan kepada wali kota dan wakil wali kota. Makanya, tiap tahun, kami menggelar rembuk warga, rembuk kota, dan rembuk kampung karena kami ingin kota ini dipikirkan bersama-sama. Kalau ada persoalan, mari putuskan bersama,” paparnya.
Bicara soal APBD Kota Solo, Jokowi menegaskan, dalam enam tahun terakhir (2005-2011) APBD Solo berkembang pesat. Padahal, enam tahun lalu, saat pertama kali terpilih, menurut Jokowi, APBD Kota Solo hanya Rp 350 juta, tetapi sekarang mencapai Rp 1 triliun lebih. Pendapatan tersebut dikembalikan kepada masyarakat Solo lewat berbagai program untuk kesejahteraan masyarakat.
Dalam acara tersebut, Jokowi-Rudy membuka ruang dialog. Kesempatan tersebut dimanfaat warga, mulai dari menyampaikan unek-unek, permohonan, hingga kritik ataupun saran terhadap Pemkot Solo. Semua itu dijawab Jokowi apa adanya.
Bahkan, Jokowi sempat berkelakar, sejak menjadi wali kota dan wakil wali kota, berat badannya dan Rudy tak pernah berubah. ”Berat badan saya masih 52-53 kilogram, begitu juga Pak Wakil Wali Kota masih sama 70-72 kilogram. Tak ada yang berubah sejak enam tahun yang lalu,” ujarnya.
Ketua DPRD Kota Solo YF Sukasno yang juga hadir dalam acara itu menilai kinerja Jokowi-Rudy makin membaik. Kerja sama kedua pemimpin itu juga terlihat dari sejumlah program yang saling mendukung. Kinerja Pemkot Solo juga mendapat penilaian tinggi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam opini BPK atas laporan hasil pemeriksaan kinerja Pemkot Solo disebutkan kinerjanya wajar tanpa pengecualian.
Kendati demikian, Sukasno berharap kinerja Pemkot Solo terus ditingkatkan. ”Masih ada satuan kerja perangkat daerah atau dinas yang belum sepenuhnya mampu menerjemahkan keinginan wali kota dan wakil wali kota,” ujarnya.
Misalnya, wali kota menginginkan pendidikan di Solo murah, yakni anak-anak dari keluarga yang tidak mampu atau miskin harus bisa sekolah. Mereka dibebaskan dari sumbangan pengembangan sekolah. ”Pada praktiknya, yang miskin masih dipungut sehingga harus minta surat dari wali kota dan DPRD. Ini artinya dinas yang terkait kurang tanggap. Maka, ke depan harus ditingkatkan,” ujarnya. (son)
Tags: jokowi > Tradisi Rembuk > Tradisi Rembuk Kampung > Tradisi Rembuk Kota Solo > Tradisi Rembuk Warga > Walikota Solo