<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tourism and City Development &#187; BANDUNG PURBA</title>
	<atom:link href="http://dieny-yusuf.com/category/bandung-purba/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dieny-yusuf.com</link>
	<description>Tourism and City Development for Better Life</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Nov 2011 17:18:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Dari Cisanti ke Curug Jompong</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/dari-cisanti-ke-curug-jompong</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/dari-cisanti-ke-curug-jompong#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 09:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny-yusuf.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Oleh BUDI BRAHMANTYO CITARUM, sungai terpanjang di Jawa bagian barat, merupakan sungai yang mengalir tepat membelah tengah-tengah Tatar Priangan. Berhulu di Gunung Wayang, salah satu anak Gunung Malabar, mengalir melalui cekungan Bandung ke arah utara, dan bermuara di ujung Karawang, di Laut Jawa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">Oleh BUDI                          BRAHMANTYO </span></p>
<p style="text-align: justify;">CITARUM, sungai terpanjang di Jawa bagian barat,                          merupakan sungai yang mengalir tepat membelah                          tengah-tengah Tatar Priangan. Berhulu di Gunung Wayang,                          salah satu anak Gunung Malabar, mengalir melalui                          cekungan Bandung ke arah utara, dan bermuara di ujung                          Karawang, di Laut Jawa. Sepanjang alirannya sekira 225                          km, dari waktu ke waktu sungai ini merekam kebingungan                          manusia dalam memahami alam.<span id="more-1038"></span></p>
<p>Citarum merupakan sungai yang memegang peranan                          penting dalam sejarah Jawa Barat. Pertama, nama sungai                          diambil pula sebagai nama kerajaan Hindu tertua di Jawa                          Barat, yaitu Tarumanegara, pada abad ke-5. Menurut                          Carita Parahyangan, sebuah tanah merdeka diberikan oleh                          Raja Tarumanegara, Purnawarman, kepada Resiguru                          Manikmaya di daerah Kendan, Nagreg, yang boleh dikatakan                          berada di kawasan hulu Citarum. Kerajaan kecil ini                          kemudian oleh Wretikandayun, cucu Manikmaya, dialihkan                          ke Galuh. Berdirinya Kerajaan Galuh telah membagi                          kerajaan di Tanah Sunda menjadi dua dengan batas Sungai                          Citarum.</p>
<p>Pada masa-masa awal berdirinya Kota Bandung pada                          tahun 1810, Krapyak, Ibu Kota Tatar Ukur yang meliputi                          cekungan Bandung, berada di tepi Sungai Citarum. Setelah                          kepindahannya ke Kota Bandung sekarang, Krapyak lalu                          berubah nama menjadi Dayeuh Kolot (Kota Tua). Sepanjang                          Citarum saat itu besar kemungkinan merupakan deretan                          kampung-kampung yang mengandalkan sungai Citarum sebagai                          akses utama Tatar Ukur sebagaimana kebudayaan lama yang                          selalu mengandalkan aliran sungai.</p>
<p>Pada masa modern ini, bukan main jasa Citarum bagi                          rakyat Pulau Jawa. Dari alirannya telah terbangun tiga                          bendungan besar yang memberi energi listrik untuk Jawa                          dan Bali, dan air irigasi untuk Jakarta dan Jawa Barat                          utara. Bendungan-bendungan itu, yaitu Jatiluhur                          dibendung tahun 1967, Saguling 1985, dan Cirata 1988,                          seakan-akan merupakan ramalan yang terwujud dari Legenda                          Sangkuriang yang juga membendung Citarum untuk dapat                          menyunting Dayang Sumbi.</p>
<p>Cerita singkat sejarah Citarum di atas selain                          mencatat kedigdayaan manusia atas alam, tetapi juga di                          balik itu mengandung kebingungan manusia dalam memahami                          alam. Kebingungan itu terutama terjadi pada akhir-akhir                          ini ketika akibat bencana banjir yang selalu mendera                          setiap tahun, beberapa orang yang merasa digdaya atas                          alam, dengan semena-mena menyalahkan alam sebagai                          penyebab bencana.</p>
<p>Menyalahkan Curug Jompong</p>
<p>Ketika banjir selalu datang menyergap Bandung Selatan                          sepanjang aliran Citarum antara Majalaya dan Dayeuh                          Kolot, tiba-tiba saja seseorang yang merasa digdaya atas                          alam menyalahkan Curug Jompong sebagai penyebab bencana                          itu. Sungguh aneh, manusia yang baru lahir akhir-akhir                          ini saja berani menyalahkan Curug Jompong yang dibentuk                          oleh batuan dasit sejak 4 juta tahun yang lalu. Sungguh                          membingungkan pula menyalahkan aliran Citarum yang                          bergerak pelan berkelok-kelok yang telah dilakoninya                          sejak berribu-ribu tahun yang lalu sebagai penyebab                          bencana banjir itu.</p>
<p>Memang keberadaan Curug Jompong yang seolah-olah                          membendung aliran Citarum di daerah Nanjung, menyebabkan                          alirannya di bagian hulu bergerak sangat pelan. Respons                          alam terhadap adanya halangan ini adalah terakumulasinya                          sedimen di daerah dataran Bandung Selatan yang terbawa                          dari jaringan sungai-sungainya yang berhulu di                          lereng-lereng gunung api di sekeliling cekungan Bandung.                          Akibat semua ini, aliran sungai berusaha menambah                          kapasitas tampungnya, tidak dengan memperdalam                          lembahnya, tetapi dengan memperpanjang alirannya. Tetapi                          karena keterbatasan ruang akibat adanya penghalang Curug                          Jompong itu, proses memperpanjang aliran sungai adalah                          dengan cara membuatnya berkelok-kelok, atau disebut                          meander.</p>
<p>Namun demikian dalam waktu-waktu tertentu ketika                          curah hujan tinggi, daya tampung itu terlampaui pula.                          Sungai kemudian mempunyai alternatif kedua untuk                          menambah daya tampungnya yaitu dengan menciptakan                          lahan-lahan yang disebut dataran banjir (flood                          plain). Lahan-lahan ini hanya tergenang ketika musim                          hujan saja, dan kering pada musim kemarau.</p>
<p>Pada tahun 1980-an, masalah banjir Bandung selatan                          telah dibahas alot. Dalam pembahasan itu keluarlah                          beberapa faktor yang dijadikan kambing hitam bencana                          banjir Bandung selatan, di antaranya dua penyebab di                          atas yaitu aliran pelan bermeander dengan                          gradien sungai sangat kecil, dan penghalang Curug                          Jompong. Penyebab lain adalah karena hampir seluruh                          anak-anak sungai bermuara ke Citarum di tempat yang                          hampir berdekatan. Sungai-sungai Cikeruh, Citarik, dan                          Cirasiah bermuara ke Citarum di Majalaya, serta                          Cikapundung dan Cisangkuy di Dayeuh Kolot. Tambahan                          pula, anak-anak sungai itu masuk ke Citarum dalam arah                          tegak lurus. Bagaikan di persimpangan jalan yang ramai,                          maka kemacetan aliran air terjadi pula di pertemuan                          sungai-sungai ini pada puncak musim hujan. Maka                          meluaplah air sungai menggenangi dataran banjir yang                          terbentuk sepanjang alirannya dari Majalaya ke Dayeuh                          Kolot.</p>
<p>Proses di atas adalah proses yang sangat alamiah dari                          suatu aliran sungai sebesar Citarum yang telah                          dilakoninya sejak beribu-ribu tahun. Sejak mengalir dari                          sumbernya di Cisanti, lereng Gunung Wayang selatan                          Gunung Malabar, Sungai Citarum mengalir melalui lembah                          yang menyayat tajam di daerah Pacet hingga Maruyung. Di                          daerah selatan Majalaya, Sungai Citarum membentuk kipas                          aluvial akibat masuknya aliran sungai dari daerah                          pegunungan ke dataran. Mulai dari daerah Jolok di                          Majalaya yang bermorfologi sangat datar, Citarum                          mengekspresikan alirannya dengan meander yang                          berkelok-kelok melengkung-lengkung hingga Dayeuh Kolot                          dan Margahayu. Dari sinilah banyak anak-anak sungainya                          bergabung membentuk aliran yang lebih besar.</p>
<p>Memasuki daerah Nanjung di suatu tempat yang disebut                          Leuwi Sapi, sungai mulai mengikis tajam membentuk lembah                          berdinding terjal. Alirannya kemudian membentuk jeram                          cascade yang dikenal sebagai Curug Jompong, mengikis                          batuan intrusi dasit, sisa-sisa gunung api purba berumur                          Pliosen, kira-kira 4 juta tahun yang lalu. Setelah                          melewati jeram ini, gradien sungai meninggi dan aliran                          menjadi kencang sebelum berhenti ketika memasuki kawasan                          tenang Waduk Saguling di Batujajar.</p>
<p>Manusia-manusia pendatang baru memadati dataran                          sepanjang aliran sungai ini. Karena bermorfologi datar,                          maka pembangunan sangat mudah dilaksanakan. Tetapi                          seolah-olah para pendatang ini datang pertama kali pada                          musim kemarau, dan terkejut bukan main ketika mengalami                          musibah dibanjirinya rumah-rumah mereka di musim hujan.                          Seperti yang kita ketahui kemudian, sungai yang mengalir                          pelan karena terhalang Curug Jompong kemudian menjadi                          kambing hitam atas semua peristiwa musibah para                          pendatang baru di dataran banjir yang telah terbentuk                          beribu tahun yang lalu ini.</p>
<p>Solusinya tampaknya sangat mudah dan tanpa                          perhitungan, hancurkan Curug Jompong! Benar sekali jika                          Curug Jompong yang mempunyai beda tinggi sekira 12 m                          dihancurkan, maka aliran Sungai Citarum akan                          menggelontor cepat. Sekali Curug Jompong hancur, gradien                          sungai baru akan mengejar level dasar baru minus 12 m                          dari aliran semula. Ke arah hulu, tidak perlu ada                          pengerukan dasar sungai, karena sungai akan otomatis                          menggerus dasarnya secara vertikal mengejar level dasar                          baru itu.</p>
<p>Tentu saja seluruh jaringan sungai di hulu dari Curug                          Jompong jika dihancurkan akan mengikuti kesetimbangannya                          yang baru. Dalam jangka pendek masalah banjir memang                          teratasi. Tetapi, seluruh jaringan sungai itu secara                          proporsional akan merespons kecepatan erosinya, terutama                          secara vertikal. Erosi menyeluruh akan terjadi secara                          besar-besaran di seluruh cekungan Bandung hulu.                          Lembah-lambah baru akan terbentuk secara vertikal, dan                          bukan tidak mungkin akan meruntuhkan fondasi-fondasi                          jembatan di seluruh jaringan sungai di DAS Citarum hulu.</p>
<p>Akibat lain dari intensifnya erosi adalah terjadi                          sedimentasi yang justru semakin besar. Jika Curug                          Jompong dihancurkan, sedimen ini akan mengalir bebas                          memasuki Waduk Saguling, memperpendek umurnya. Suatu                          studi cukup tua di Amerika Serikat oleh Emerson, 1971,                          memperlihatkan bahwa penanggulangan banjir dengan cara                          sodetan dan pengerukan memang cukup efektif dalam jangka                          pendek, tetapi efek jangka panjangnya ternyata sangat                          merugikan.</p>
<p>Penghancuran penghalang Curug Jompong untuk                          penanggulangan banjir Bandung selatan, mungkin dapat                          dianalogikan ketika seorang petani digigit ular sawah                          yang tidak berbisa. Rasa sakit yang tidak seberapa                          dilampiaskan berupa dendam dengan membunuhi seluruh ular                          sawah. Dalam jangka pendek sang petani merasa lega                          terbebas dari ancaman gigitan ular. Tapi dalam jangka                          panjang kerugian yang luar biasa besar akan datang                          dengan merajalelanya hama tikus yang menghancurkan                          panennya. Janganlah kita seperti petani bodoh itu yang                          bertindak spontan tanpa perhitungan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis, staf dosen                          di Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FIKTM-ITB, dan                          koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu,              01 April 2006</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>See also:</em></p>
<ul>
<li><em><br />
</em></li>
</ul>
<h4>Incoming search terms:</h4>legenda waduk saguling,curug di bandung selatan,perbatasan kampung mahmud dayeuh kolot bandung,Sejarah sangkuriang dngn bendungan jati luhur<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/dari-cisanti-ke-curug-jompong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Tangkuban Perahu dan Prospeknya Sebagai Daerah Tujuab Wisata</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/gunung-tangkuban-perahu-dan-prospeknya-sebagai-daerah-tujuan-wisata</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/gunung-tangkuban-perahu-dan-prospeknya-sebagai-daerah-tujuan-wisata#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 00:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dieny Ferbianty</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[TANGKUBAN PERAHU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Oleh: Dieny Ferbianty Abstraksi Gunung tangkuban Perahu terletak sekitar 30 km di utara Kota Bandung. Gunung ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik di Jawa Barat. Lingkungan alamnya yang sejuk, dan sumber mata air panas di kaki-kaki gunungnya. Deretan kawah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align: center;"><strong>Oleh: Dieny Ferbianty</strong></p>
<p><strong>Abstraksi<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img style="display:block;cursor:hand;text-align:center;margin:0 auto 10px;" src="http://bp3.blogger.com/_nGIWcO_J4yA/R0aOz5bgIEI/AAAAAAAAAsI/LdiUikFugUc/s400/PANAROMA+VIEW+G+TANGKUBAN+PERAHU.KAWAH+RATU+KWH+UTAMA+OBYEK+WST+TKBN+PRAHU.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Gunung tangkuban Perahu terletak sekitar 30 km di utara Kota Bandung. Gunung ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik di Jawa Barat. Lingkungan alamnya yang sejuk, dan sumber mata air panas di kaki-kaki gunungnya. Deretan kawah yang memanjang, menjadi daya tarik tersendiri.</em><em> </em><em>Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Jawa Barat, disebut pula sebagai asal muasal terjadinya Talaga </em><em>Bandung atau dongeng Sangkuriang. Legenda ini disusun dalam bentuk sastra lisan yang didalamnya mengandung lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa,bencana,asal muasal, nasib manusia, tingkah laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Legenda Sangkuriang telah terkenal di akhir abad ke-15. Hal ini disebutkan dalam catatan perjalanan Pangeran Bujangga Manik, seorang pangeran muda kerajaan Sunda dari Istana Pakuan (Bogor sekarang), menjelajahi Pulau Jawa dengan berjalan kaki seorang diri. Catatan yang tertuang dalam lembaran lontar ini, sekarang tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford Inggris sejak tahun 1627.</em></p>
<p><img class="mce_plugin_wordpress_more" src="http://dieny-yusuf.com/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/images/spacer.gif" alt="More..." width="100%" height="10" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ringkasan Cerita Legenda Sangkuriang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor, burung tembey babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik. <a href="http://bp2.blogger.com/_nGIWcO_J4yA/R0aJmpbgICI/AAAAAAAAAr4/9LrZo_TzMuo/s1600-h/tan15.jpg"><img style="float:left;cursor:hand;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp2.blogger.com/_nGIWcO_J4yA/R0aJmpbgICI/AAAAAAAAAr4/9LrZo_TzMuo/s200/tan15.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p>Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Maka jadilah si Tumang suami Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.</p>
<p>Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang diusir dari rumahnya,kemudian ia pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya.</p>
<p>Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL, rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG). (Hidayat Suryalaga dalam Sunda.Net.Com – diakses tanggal 18 Mei 2007) Pada versi lain diceritakan bahwa sisa kayu yang ditebang untuk dijadikan perahu oleh Sangkuriang berubah menjadi Gunung Bukit Tunggul,s ebelah timur Gunung Tangkuban Parahu (Tunggul, Bahasa Sunda: yang berarti pangkal kayu), sementara daun-daunnya menjadi Gunung Burangrang (berasal dari Bahasa Sunda yang berarti berguguran),sebelah barat Gunung Tangkuban Parahu. Sementara Dayang Sumbi diceritakan dikejar Sangkuriang hingga akhirnya ia terjun ke kawah Gunung Tangkuban Perahu, sehingga kawahnya disebut Kawah ratu, versi yang lebih tragis, Dayang Sumbi bunuh diri dengan menggunakan kujang. Arti Legenda Sangkuriang bagi Masyarakat Sunda Dulu dan SekarangCerita Sangkuriang adalah legenda yang asalnya disajikan sebagai 125 cerita pantun. Di Jawa Barat cerita pantun umumnya menceritakan tentang putra-putri kerajaan. Dalam cerita pantun memang sering didongengkan hal-hal yang tidak masuk akal. Namun sebenarnya hal tersebut adalah suatu perlambang, bahkan mungkin suatu sindiran. Kebiasaan para pangeran yang bertualang cinta ke daerah-daerah sekitar kerajaan, disindir oleh penyair pantun dengan metafora buang air kecil sembarangan . Rakyat kecil digambarkan sebagai binatang, seperti babi hutan Wayungyang atau anjing Si Tumang.Disisi lain sang penyair dalam cerita ini, melaporkan peristiwa geologis yang terjadi sekitar 125000 tahun yang lalu. Suatu catatan dan hasil pengamatan luar biasa. Letusan gunung api dahsyat, mengalirnya produk letusan berupa lahar yang kemudian menyumbat Sungai Citarum, digambarkan dengan baik. Sang penyair melaporkan peristiwa alam dan sekaligus menyindir para bangsawan dalam sajian cerita pantun yang memikat. Peristiwa alam ini disaksikan manusia Bandung Purba jaman dulu. Mungkin dari sinilah awal dari kegiatan wisata yang pertama kali mereka lakukan.Jadi, jika kita rangkumkan nilai-nilai yang terkandung dalam Cerita Sangkuriang ketika itu adalah : kritik sosial pujangga terhadap kebiasaan para keturunan raja bertualang cinta, nilai pengetahuan masyarakat purba tentang kejadian alam waktu itu.Bagi masyarakat Sunda zaman sekarang Cerita Sangkuriang merupakan cerita yang mencerminkan nilai–nilai kearifan pandangan hidup masyarakat Sunda. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam melayari kehidupannya baik secara manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transcendental (ruhi).Berikut saya sajikan ringkasan alur legenda dikaitkan dengan nilai-nilai kearifan sunda yang terkandung di dalamnya menurut seorang budayawan sunda, Hidayat Suryalaga.Legenda atau Sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi manusia yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan untuk menemukan jati diri kemanusiaannya(Babi Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (= Danghyang Sumbi, Rarasati); tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (= taropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (= digagahi si Tumang) dan akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (= Danghyang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Tentu saja kesombongannya pula yang mempengaruhi Sang Ego untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Keangkuhan sang ego yang telah lelah mencari ilmu dengan mengelilingi seantero jagat, ternyata kembali ke titik awal kehidupannya. Akhirnya menemukan Sang Nurani yang secara sadar atau pun tidak tetap dicarinya (= Pertemuan Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi). Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego (= Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan oleh Sang Ego. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego (= Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency &#8211; silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (= Talaga Bandung) yang berasal dari kumpulan manusia yang bermacam corak ragam perangainya (= Citarum). Keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego sendiri(pembuatanperahu). Keberadaan Sang Ego itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (= Bukit Tunggul, pohon sajaratun) yang berasal sejak dari awal keberadaannya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan) dan Sang Ego pun pada akhirnya akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yad. dan semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (= gunung Burangrang). Betapa mengenaskannya, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego dengan Sang Nurani yang tercerahkan ( = hampir terjadinya perkawinan antara Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (= Bo&#8217;eh rarang = kain kafan).</p>
<p>Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego tidak lain hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada &#8220;dirinya&#8221;, maka ditendangnya keegoisan dirinya jadilah seonggok manusia yang tengah tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran masih merasa penasaran dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego dengan Sang Nurani, tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan kini hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego ( = bunga Jaksi).</p>
<p>Akhir kisah dari Sang Ego (=Sangkuriang) yaitu datangnya kesadaran dengan berakhirnya kepongahan hawa nafsunya (=Ujungberung); dengan kesadarannya pula, dicabut sumbat dominasi keangkuhan (= gunung Manglayang), melalui proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang Tikoro =tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong) serta memperhatikan dan menjaga dengan seksama makanan yang masuk ke dalam lambungnya yaitu makanan yang halal dan bersih (=Sanghyang Tikoro = kerongkongan). (Hidayat Suryalaga. Peran Sangkuriang dan Danghyang Sumbi dalam Legenda Tangkuban Parahu, SundaNet.Com – diakses tanggal 18 Mei 2007).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gunung Tangkuban Perahu dan Sejarah Singkat Geo<a href="http://bp1.blogger.com/_nGIWcO_J4yA/R0aKTZbgIDI/AAAAAAAAAsA/bRpmzuB_-34/s1600-h/BANDUNG12.jpg"><img style="float:right;cursor:hand;margin:0 0 10px 10px;" src="http://bp1.blogger.com/_nGIWcO_J4yA/R0aKTZbgIDI/AAAAAAAAAsA/bRpmzuB_-34/s320/BANDUNG12.jpg" border="0" alt="" /></a>logi Bandung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bandung sangat beruntung dengan sejarah alamnya. Dari laut bertaman karang yang indah, sekitar 20-30 juta tahun yang lalu berubah menjadi daratan bergunung (5-4 juta tahun yang lalu). Kemudian , 2 juta tahun yang lalu seluruh permukaanya terangkat menjadi daratan, dan menjadi pegunungan. Gunung Sunda purba meletus dahsyat sehingga membentuk kaldera. Anaknya yang bernama Gunung Tangkuban Parahu muncul di tengah kaldera dan meletus berkali-kali. Pada zaman kuarter , sekitar 135 ribu tahun yang lalu ,danau Bandung terbentuk . Genangannya yang luas mengisi seluruh dataran tinggi Bandung dari Rancaekek hingga Saguling pada ketinggian antara 710-715 meter di tas permukaan laut sekarang Seiring turunnya permukaan air laut, air danau menerobos perbukitan Saguling, mengeringkan danau Bandung. Airnya mengalir pada lembah Sungai Citarum menerobos Gua Sangiangtikoro, dan terus mengalir ke utara. Jadi tempat mengeringnya Danau Bandung Purba berada jauh ke hulu pada punggungan bukit Pasir Kiara, tidak di Sangiang Tikoro Pada masa-masa mengeringnya danau Bandung Purba antara 16-3 ribu tahun yang lalu, dataran Bandung menjadi ranca (rawa) yang becek yang menjadi tempat berjelajahnya badak-badak dan hewan-hewan lainnya. Inilah padang perburuan yang menggiurkan di masa purbakala. Dengan bersenjatakan tombak bermata obsidian mereka berburu di perbukitan sekeliling</p>
<p style="text-align: justify;">Bandung. Batu obsidian yang ditambang di antaranya adalah di daerah Bukit Dago Pakar, Bandung Utara.Sementara itu, koloni yang lain menjelajahi perbukitan kapur citatah dan bertempat tinggal di Gua Pawon, serta di ceruk-ceruk batu kapur sekitarnya. Daerah bekas danau inilah, yang sekarang berkembang menjadi Kota Bandung. Jika kita perhatikan, dataran Bandung merupakan cekungan, seperti mangkuk yang dikelilingi gunung. Bandung merupakan satu-satunya kota di dunia, yang dikelilingi gunung berapi. Hal ini merupakan daya tarik khusus bagi para geologist, untuk mempelajarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangkuban Parahu dan Prospeknya di masa mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;"><img style="width: 800px; height: 250px;" src="http://dieny.files.wordpress.com/2008/09/kontruksi-sosial-tangkuban-perahu.jpg" alt="Lintasan Konstruksi Sosial Tangkuban Perahu" width="800" height="250" align="middle" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak jaman Hindia Belanda, Gunung Tangkuban Parahu telah banyak memikat orang, selain keindahan alamnya, cerita Legenda Sangkuriang yang melatarbelakangi gunung ini juga telah ikut berperan dalam menarik wisatawan, terutama wisatawan nusantara. Ir Poldervaart dan Bandoeng Vooruit membuat jalan hingga ke puncaknya. Wisatawan terus berdatangan, untuk menyaksikan kawah dan puncaknya.Kritik pujangga terhadap bangsawan, dipadu dengan cerita mengenai kejadian alam yang terjadi di daerah Bandung dan sekitarnya, , menjadi paduan yang tepat dan menjadi magnet bagi datangnya wisatawan ke gunung tersebut. Arti filosofis dari cerita ini sendiri, berupa nilai-nilai kearifan orang sunda, tidak begitu difahami oleh kebanyakan orang sunda jaman sekarang. Jika kita kaji kembali, maka ada beberapa lintasan perkembangan yang telah dilalui Gunung Tangkuban Parahu, seiring dengan perbahan masyarakat di sekitarnya , khususnya masyarakat sunda. Pada jaman dahulu, alam dipandang manusia sebagai tempat hidup/mengembaranya saja, kemudian ketika alam bergejolak manusia mulai memahami alam sebagai gejala adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur alam semesta (sadar akan adanya kekuatan transenden). Manusia Bandung purba pun demikian, ketika menyaksikan letusan Gunung Sunda, terjadinya Danau Bandung, dan Gunung Tangkuban Parahu, mereka mengartikannya sebagai sebuah perlambang dari hal yang lebih besar lagi, bahwa semua gejala alam memberikan pelajaran bagi manusia, bahwa kejadian alam mengandung arti filosofi manusia, para pujangga waktu itu kemudia membuat pantun untuk mengungkap kejadian geologis beserta filosofi yang terkandung di dalamnya. Para pujangga juga dengan cerdik menyindir perilaku para keturunan raja dengan kebiasaanya mengembara cinta. Maka jadilah Legenda Sasakala/Asal Muasal Danau Bandung/Sangkuriang/Gunung Tangkuban Parahu. Penulis berpendapat, pada perkembangan selanjutnya, kegiatan manusia menyaksikan kejadian alam ini menjadi awal kegiatan wisata. Namun legenda Tangkuban Parahu ikut mewarnai kegiatan wisata tersebut, bahkan mendukung perkembangan Gunung Tangkuban Parahu menjadi suatu objek wisata alam yang potensial untuk perkembangan Kota Bandung dan sekitarnya. Namun pada lintasan perkembangan tersebut, kegiatan wisata hanya merupakan milik bangsawan saja. Pada lintasan selanjutnya, dimana ilmu berkembang luas, kesejahteraan meningkat, dan berkembangnya modernisasi, maka kegiatan wisata juga merupakan milik rakyat, para geologist/pecinta alam juga ikut mewarnai dan menyerukan konservasi alam Gunung Tangkuban Parahu. Penulis berpendapat, kelak, mungkin antara mereka (pemerintah,geologist/pecinta alam) akan bekerjasama/bernegosiasi. Objek Wisata Tangkuban Parahu akan dikembangkan menjadi ekowisata/geowisata, namun jika keduanya tidak dapat berkolaborasi, maka ada kemungkinan, penurunan nilai objek wisata ini, karena kerusakan alam yang tak dapat dihindari.Mungkin objek ini tidak akan dikunjungi lagi, walaupun Gunung Tangkuban Parahu masih berdiri tegak mengawal Bandung dan sekitarnya. Potensi gunung tersebut, sebagai wisata berbasis geologi atau geowisata/ekowisata harus dikembangkan agar hal itu tidak terjadi.Legenda Tangkuban Parahu menjadi pelengkap yang mengungkap sisi menarik lain dari Tangkuban Parahu. Pada dasarnya cerita tersebut merupakan jawaban manusia Bandung prasejarah atas kejadian bumi yang dahsyat. Bagaimana jawaban manusia</p>
<p style="text-align: justify;">Bandung zaman sekarang, bisa menjadi pelengkap yang menambah sempurna daya tarik objek wisata tersebut menjadi daya tarik wisata milik Kota Bandung dan sekitarnya. Dalam perjalanan menuju gunung tersebut, ajaklah wisatawan untuk membayangkan Bandung Purba! Ketika melewati pendopo Bandung, ajak mereka untuk membayangkan bahwa mereka berada di dasar Danau Bandung pada kedalaman 10-15 m. Sedangkan Sungai Citarum di Jembatan Dayeuh Kolot, merupakan dasar danau dengan kedalaman 50-65 m dari permukaan air danau Bandung Purba. Ceritakan Gunung Tangkuban Parahu merupakan anak gunung Sunda yang meletus dengan dahsyat. Ketika Gunung Tangkuban Parahu meletus, materialnya menahan aliran Citarum Purba, secara bertahap dalam waktu yang lama daerah ini menjadi Danau Bandung Purba. Pada saat itu juga terjadi gesekan air danau dengan Pasir Kiara di selatan Rajamandala, hingga terjadilah erosi dan air Danau Bandung Purba menyusut. Bagi para geologist tentu saja kajiannya lebih dalam, setelah menghubungkan Legenda Tangkuban Parahu dengan sejarah geologi Kota Bandung, mungkin tracking di kawasan sekitar gunung tersebut, akan menjadi satu paket wisata yang menarik dan unik bagi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :</p>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Brahmantyo, Budi,2004.Bandung Purba,Masyarakat Geografi Indonesia, Bandung Brahmantyo, Budi.2006.Geowisata, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, Bandung</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Suryalaga, Hidayat. Peran Sangkuriang dan Danghyang Sumbi dalam Legenda Tangkuban Parahu, Sunda.Net.Com – diakses tanggal 18 Mei 2007)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lampiran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata yang saya tulis kapital pada ringkasan cerita diatas masing-masing mempunyai arti menurut konsep nilai-nilai intrinsik pandangan hidup &#8220;urang Sunda&#8221; begitu juga alur ceritanya. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan legenda gunung Tangkuban Parahu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>
<p align="justify">SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. &gt; &#8216;ng = penanda hormat, honorifik. &gt; kara = matahari. Maknanya &#8221; Penanda dari kebaikan/kebenaran sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya&#8221;</p>
</li>
<li>Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang &gt; w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).</li>
<li>DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : &gt; Dang = penanda hormat, honorific. Yang &lt; hyang =&#8221; gaib.&#8221;&gt; Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.</li>
<li>RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : &gt; Raras = perasaan yang sangat halus. &gt; ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi.</li>
<li>Si TUMANG. Artinya: &gt; tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.</li>
<li>SANGKURIANG. Artinya: &gt; 1) Sang = penanda hormat, honorifik. &gt; Kuriang &lt; kuring =&#8221; saya,&#8221; sang =&#8221; penanda&#8221;&gt; Kuriang &lt; hyang =&#8221; ego&#8221; sangkuriang =&#8221; Jiwa&#8221;&gt;</li>
<li>TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.</li>
<li>Sungai CITARUM. Artinya: &gt; Ci &lt; cai =&#8221; air.&#8221;&gt; Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.</li>
<li>SANGHYANG TIKORO. Artinya: &gt; Sang = penanda hormat, honorifik. &gt; Hyang = gaib. &gt;Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya: Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.</li>
<li>Gunung PUTRI. Artinya &gt; Putri = gadis, wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.</li>
<li>Gunung MANGLAYANG. Artinya: &gt; Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 2) Mang-layang &gt; palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari karakter yang kotor.</li>
<li>UJUNGBERUNG. Artinya: &gt; Ujung = akhir. &gt;berung &gt; ngaberung = menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.</li>
<li>Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi &gt; bisa dimaknai jadi + saksi . 2) Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya.</li>
<li>BO&#8217;EH RARANG. Artinya : &gt; Bo&#8217;eh = kain kafan. &gt; rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.</li>
<li>Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : &gt; Bukit = Bentuk gunung yang lebih kecil. &gt; Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya.</li>
<li>Gunung BURANGRANG. Artinya &gt; Burangrang &gt; Bukit + rangrang. &gt; rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yad. yang pada gilirannya semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan).</li>
<li>Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: &gt;Tangkuban = tertelungkup, menelungkup. &gt; Parahu = perahu. &gt; Gunung Tangkubanparahu = gunung yang bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.</li>
<li>TALAGA BANDUNG. Artinya: &gt; talaga = danau. &gt;bandung = 1) perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) bandung &gt; bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter ( setara di depan hukum) dan egaliter (setara di dalam kehidupan)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
<h4>Incoming search terms:</h4>deskripsi gunung tangkuban perahu,karakteristik gunung tangkuban perahu,kesimpulan cerita sangkuriang,pengertian gunung tangkuban perahu,sejarah bandung,gunung tangkuban perahu dan prospeknya,Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Sangkuriang,kembang jaksi,terjadinya gunung tangkuban perahu,nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tangkuban perahu<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/gunung-tangkuban-perahu-dan-prospeknya-sebagai-daerah-tujuan-wisata/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibalik &#8220;Bujangga Manik&#8221;</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/dibalik-bujangga-manik</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/dibalik-bujangga-manik#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 08:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dieny Ferbianty</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[Bandungpedia]]></category>
		<category><![CDATA[ATTRACTIONS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Oleh Atep Kurnia Dari dulu orang Belanda meneliti Sunda. Sekarang pun mereka masih melakukannya. Buktinya, pada tahun 2006, terbit sebuah buku monumental dalam bidang penelitian naskah Sunda kuno berjudul Three Old Sundanese Poems. Buku setebal 496 halaman ini diterbitkan oleh KITLV Press di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span style="color:#ff0000;">Oleh Atep Kurnia</span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari dulu orang Belanda meneliti Sunda. Sekarang pun mereka masih melakukannya. Buktinya, pada tahun 2006, terbit sebuah buku monumental dalam bidang penelitian naskah Sunda kuno berjudul Three Old Sundanese Poems. Buku setebal 496 halaman ini diterbitkan oleh KITLV Press di Leiden, Belanda.<span id="more-184"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Buku itu disusun oleh dua orang, yaitu J Noorduyn (1926-1994) dan A Teeuw. Pertama, alih aksara dan alih basa tiga naskah Sunda kuno ini dikerjakan oleh Noorduyn. Akan tetapi, sayang, Noorduyn keburu sakit sehingga diteruskan A Teeuw.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam pengerjaannya, Teeuw sangat mengandalkan bantuan Edi S Ekadjati (alm) dari Universitas Padjadjaran.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Teeuw mendapatkan bantuan berupa bahan-bahan penelitian naskah Sunda kuno. Selain itu, atas permintaan Teeuw, Edi mengirimkan Undang A Darsa untuk membantu pekerjaan Teeuw.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Naskah yang dimuat dalam buku ini berupa tiga puisi Sunda kuno. Ketiganya adalah &#8220;The Sons of Rama and Rawana&#8221; (Kisah Keturunan Rama dan Rawana), &#8220;The Ascension of Sri Ajnyana&#8221; (Ngahiangna Sri Ajnyana), dan &#8220;The Story of Bujangga Manik: A Pilgrim&amp;apos;s Progress&#8221; (Kisah Bujangga Manik: Sebuah Alegori).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di antara tiga naskah tersebut, naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221; paling menarik. Naskah Sunda kuno ini berasal dari Inggris dan disimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford. Koleksi ini berawal dari hibah saudagar Andrew James pada 1627 atau 1629.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah diteliti dengan saksama, Teeuw menduga bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik yang berlangsung atau ditulis pada zaman Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan di Nusantara, terutama sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221; berpusat pada tokoh Bujangga Manik. Ia adalah seorang tohaan atau pangeran dari Keraton Pakuan di Cipakancilan, Bogor. Ia lebih memilih hidup sebagai rahib pengelana daripada menjadi penguasa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Naskah ini merekam perjalanan Bujangga Manik dua kali mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Mula-mula, Bujangga Manik berangkat ke Jawa Timur, selanjutnya pulang ke Pakuan melalui jalan laut dengan menumpang kapal yang berlayar dari Malaka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kedua kali, Bujangga Manik kembali mengembara ke Jawa Tengah, Jawa Timur, lalu menyeberang ke Bali. Setelah pulang, ia memilih hidup memencilkan diri dengan bertapa di sebuah gunung di Tatar Sunda hingga mencapai moksa. Wawasan geografis</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kesan setelah membaca naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221;, ternyata orang Sunda pada hakikatnya teu kurung batokkeun. Orang Sunda terbiasa mengembara. Orang Sunda lampar. Karena terbiasa mengembara, banyak tempat dikunjungi. Banyak tempat mereka ketahui. Alhasil, orang Sunda telah menyadari pentingnya wawasan geografis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Noorduyn yang menemukan naskahnya telah membuat tilikan, terutama saat Bujangga Manik merinci tempat-tempat, baik di Nusantara maupun di luar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tahun 1982, Noorduyn menulis &#8220;Bujangga Manik&amp;apos;s Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source&#8221; (BKI, 138:413-42). Tulisan tersebut diindonesiakan pada tahun itu juga menjadi &#8220;Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno&#8221;, yang diterjemahkan oleh Iskandarwassid. Edisi Sunda-nya muncul secara bersambung di majalah Mangle pada 1984, &#8220;Lalampahan Bujangga Manik Ngurilingan Pulo Jawa: Data Topografis tina Sumber Sunda Buhun&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Menurut catatan Noorduyn, Bujangga Manik menyebutkan 450 nama tempat, termasuk nama gunung, sungai, dan pulau yang dilalui dan dilihat dari jarak dekat dan jarak jauh. Nama-nama itu meliputi Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, China, bahkan Mekkah dan Madinah nun di jazirah Arab.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Memang muskil membacanya. Akan tetapi, hal ini paling tidak menggambarkan bagaimana orang Sunda sudah mengenal dengan baik wawasan geografis yang melingkupi diri mereka. Mereka telah mengenal daerah di luar daerah teritorial mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Menimba ilmu</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di sisi lain, naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221; pun menyajikan gambaran tentang tradisi orang Sunda menimba ilmu, di antaranya dengan nyantrik dan membaca buku. Dari naskahnya terbaca kesungguhan Bujangga Manik menuntut ilmu, terutama yang berhubungan dengan agama, sampai-sampai urusan kehidupan dunianya tidak diperhatikan sama sekali. Padahal, terbuka kesempatan bagi Bujangga Manik untuk mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan Kerajaan Sunda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Selama perjalanannya, Bujangga Manik belajar kepada mahapandita di mandala Gunung Damalung, Jawa Tengah, dan Pamerihan. Bujangga Manik pun sempat bertapa untuk beribadah dan mendalami ilmu agama di mandala Balungbungan (Blambangan) di Jawa Timur selama lebih dari setahun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bahkan, Bujangga Manik pernah bermukim di Rabut Palah, mandala paling utama di Kerajaan Majapahit, selama setahun lebih. Di sana ia mendalami ilmu agama dan mengkaji kitab Darmaweya dan Pandawa Jaya. Untuk keperluan itu, ia pun mempelajari dan bisa berbahasa Jawa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Selain itu, kebiasaan membaca di kalangan orang Sunda ikut pula terbaca, terutama di kalangan ahli agama. Sebab, tampaknya tradisi membaca yang hidup di Tatar Sunda pertama kali hidup di kalangan tersebut. Eksemplarnya ialah semacam &#8220;Bujangga Manik&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kebiasaan membaca ini terlihat saat Bujangga Manik pulang pertama kali dan pergi untuk kedua kali. Saat pulang dari Pamalang dan tiba di istana, ia terlihat oleh Jompong Larang, pelayan putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana. Pelayan itu melaporkan kepada Ajung Larang bahwa seorang ameng (rahib pengelana) telah kembali. Jompong Larang menggambarkan keelokan Bujangga Manik yang melebihi Banyak Catra dan Siliwangi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Selain itu, menurut kabar yang didengar Jompong Larang, pangeran pengelana itu menguasai bahasa Jawa dan paham sekali akan buku-buku keagamaan. Inilah kutipan naskahnya, Teher bisa carek Jawa/w(e)ruh di na eusi tangtu/lapat di tata pustaka/w(e)ruh di darma pitutur/bisa di sanghiang darma.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Satu lagi yang menggambarkan tradisi membaca adalah saat Bujangga Manik pergi untuk kedua kali. Di sana digambarkan, setelah berpesan kepada ibunya, Bujangga Manik menyandang kantong besar berisi apus ageung (buku besar) yang disatukan dengan naskah keagamaan, Saa(ng)geus nyaur sakitu/dicokot ka(m)pek karancang/dieusian apus ageung/dihurun deung siksa guru&#8230;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:red;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:red;font-family:&quot;">Oleh: ATEP KURNIA Penulis Lepas, Tinggal di Bandung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sumber: Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2008.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<h4>Incoming search terms:</h4>bujangga manik<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/dibalik-bujangga-manik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gajah Pernah Hidup di Tatar Sunda</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/gajah-pernah-hidup-di-tatar-sunda</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/gajah-pernah-hidup-di-tatar-sunda#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 08:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dieny Ferbianty</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Benda keras yang semula dikira catang kalapa (tunggul kelapa) itu ternyata fosil geraham gajah purba yang pernah berkeliaran di Tatar Sunda. Penemuan fosil ini tidak terduga. Di musim kemarau tahun 2004, sumur keluarga Ishak Surjana (55) pun makin hari semakin berkurang airnya. Maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Benda keras yang semula dikira <em>catang kalapa</em> (tunggul kelapa) itu ternyata fosil geraham gajah purba yang pernah berkeliaran di Tatar Sunda. Penemuan fosil ini tidak terduga. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Di musim kemarau tahun 2004, sumur keluarga Ishak Surjana (55) pun makin hari semakin berkurang airnya. Maka diputuskanlah untuk memperdalam sumur yang bentuknya persegi empat itu. Putranya, Imam Rismansyah (31) dibantu Ishak melakukan pekerjaan memperdalam sumur tersebut. <span id="more-173"></span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Saat Imam menggali lapisan yang terdiri dari pasir dan bebatuan seukuran jeruk siam, linggisnya menghantam benda keras. Saking kerasnya benda tersebut, Ishak menyarankan Imam untuk memahatnya, dan benda keras itu berhasil diangkat. Tapi sungguh mengagetkan. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Benda yang baru saja diterimanya itu bukan batu biasa. Ia memperlihatkan kepada istrinya, yang mengomentarinya, “Seperti <em>catang kalapa</em>!” katanya, karena bentuknya seperti serat-serat akar pohon kelapa, ada galur-galur seukuran kelingking. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Keluarga itu semakin penasaran, apalagi Imam yang saat SMP dulu pernah berkunjung ke Museum Geologi, Bandung, dan melihat banyak fosil di sana. Atas dasar itulah Imam dengan diantar saudaranya mengantarkan sepotong benda itu ke Museum Geologi di Jln. Diponegoro No. 57, Bandung. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Ketika fosil gajah yang ditemukan di Rancamalang, Kabupaten Bandung, 7 Juli 2004 itu diperlihatkan kepada ahlinya di Museum Geologi, Dr. Fachroel Aziz dengan hanya mengamati sepintas pun sudah langsung dapat menduga, ini adalah fosil geraham gajah Asia (<em>Elephas maximus</em>). Dari segi keutuhan fosil geraham, fosil dari Rancamalang ini bisa jadi merupakan fosil geraham paling utuh, bahkan di dunia. Akar giginya masih lengkap dan utuh. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Di Jawa Barat, sebenarnya sudah banyak ditemukan fosil stegodon dan gajah, seperti di Baribis, di Punggungan Tambakan (Subang), di Cibinong (Bogor), di Cikamurang (Sumedang), di Cijurai (Cirebon), atau di Mauk (Tangerang). </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Melihat banyaknya fosil gajah yang ditemukan di Jawa Barat, rasanya tak kebetulan bila <em>karuhun</em> kita menamai tempat memakai kata gajah. Di Kota Cimahi ada <em>Leuwigajah</em>, di Kabupaten Bandung ada <em>Kampung</em> <em>Gajah, Gajahcipari, Gajaheretan, Gajahkantor, Gajahmekar</em>, di Garut ada <em>Gununggajah</em> dan <em>Karang Gajah</em>, di Cirebon ada <em>Pagajahan</em> dan <em>Palimanan.</em> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Nama tempat lainnya yang memakai kata gajah dicatat oleh Bujangga Manik (abad ke 16) dalam perjalanannya yang kedua mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Bujangga Manik menulis:</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">“….Samungkur aing ti Tumbuy,</span></span></em></p>
<p>meuntasing di Ci Haliwung,</p>
<p>nanjak di sanghyang Darah,</p>
<p>nepi ka Caringinbentik,</p>
<p>sananjak ka Balagajah,</p>
<p>ku ngaing geus kaleumpangan.</p>
<p>Nanjak aing ka Mayangu,</p>
<p>ngalalar ka Kandangserang</p>
<p>na jalan ka Ratujaya,</p>
<p>ku ngaing geus kaleumpangan.</p>
<p>Datang ka Kadukadaka,</p>
<p>meuntas aing di Ci Leungsi,</p>
<p>nyangkidul ka Gunung Gajah….”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Melihat begitu banyaknya nama tempat yang menggunakan kata gajah, dan hampir di setiap daerah ada, sangat mungkin manusia prasejarah di Tatar Sunda sudah sangat terkesan dengan binatang berkaki empat yang ukurannya sangat besar ini.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bahkan, anak-anak di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, yang pada tahun 1960-an belum pernah melihat gajah, tetapi kalau <em>tatarucingan </em>(teka-teki) sehabis salat isa di masjid, ada saja anak yang memberikan soal, “<em>Gajah depa ngegel rokrak/ruhak!”</em> <em>atawa “Gajah depa beureum hatena!”</em> Jawabannya adalah <em>hawu </em>atau tungku.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bukan hanya nama tempat yang memakai kata gajah, tapi juga nama tokoh dalam cerita pantun Sunda, seperti Gajah Lumantung (<em>Carita Gajah Lumantung</em>), Prabu Munding Liman (<em>Lalakon Kuda Wangi</em>), Bagawad Liman Sanjaya, Dipati Gajah Waringin, Dipati Gajah Cina (<em>Carita Raden Rangga Sawung Galing</em>), Dipati Gajah Waringin (<em>Carita Raden Tanjung</em>), Gajah Hambalang (<em>Carita Nyi Sumur Bandung</em>), Raden Pati Gajah Menggala (<em>Carita Panggung Keraton</em>), Gajah Taruna Jaya (<em>Carita Lutung Leutik</em>), atau Gajah Siluman, Liman Sanjaya (<em>Carita Raden Mungdinglaya Di Kusumah</em>). </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam babad, ada juga Gajah Manggala dan Arya Gajah, dua pembesar Pajajaran yang menjadi utusan Prabu Siliwangi untuk melamar putri Limbangan yang cantik jelita</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Walaupun pada awalnya Nyi Putri menolak lamaran itu dengan jalan menghilang dari kampungnya, sehingga meninggalkan jejak berupa nama-nama Kampung Buniwangi atau Kampung Sempil. Setelah dinasihati orangtuanya, Nyi Putri berkenan dinikahi Prabu Siliwangi. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dari pernikahannya itu mereka dikaruniai dua putra, Basudewa, dan yang satunya lagi namanya menggunakan kata gajah, <em>Liman Sanjaya</em>. Atau juga <em>Anggaranting Gajah</em>, putra dari Sanghyang Cakradewa, atau adik dari Sanghyang Borosngora dari Panjalu.Dalam cerita Sunda kuna dari kaki Gunung Cikuray, Kabupaten Garut yang berjudul Ratu Pakuan terdapat kata gajah.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Perjalanan hidup</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kata gajah hampir dipakai dalam setiap kesempatan yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia Sunda. Ketika menanam padi di sawah, ada sejenis rumput yang tinggi, dengan buahnya seperti gandum yang biasa disebut petani sebagai <em>gagajahan.</em> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Ketika berbahasa, ada peribahasa <em>Banteng ngamuk gajah meta</em>. Di Kepulauan Sunda Besar ada juga peribahasa, <em>Gajah mati meninggalkan gading</em>, <em>harimau mati meninggalkan belang</em>, dan <em>Tiada gading yang tak retak.</em> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Rumput yang biasa ditanam di halaman rumah pun namanya <em>jukut gajah.</em> Ada juga jenis rumput <em>jukut cengceng </em>yang disebut juga , <em>tapak liman,</em> atau tanaman pot berdaun lebar di teras rumah, <em>kuping gajah,</em> yang pernah menjadi tanaman kesayangan para ibu. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Ketika membangun rumah (<em>ngadegkeun imah</em>), tiang-tiang rangka dengan palang dan siku-sikunya dinamai <em>gagajah</em>. Demikian juga nama penyakit, <em>kakigajah</em>, dan Museum Nasional di Jakarta.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Tampaknya masyarakat Sundakalapa tak ambil pusing dengan nama resmi, karena di depan gedung itu ada patung gajah, maka disebutlah <em>Gedonggajah</em> atau <em>Museum</em><em> Gajah</em>! </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sedangkan di Kesultanan Cirebon ada kereta zaman kesultanan yang diberi nama <em>Joli paksi naga liman</em>. Kereta berkepala gajah, berbadan naga yang bersayap.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bahasa Jawa kuno untuk gajah adalah <em>liman</em>, artinya binatang buas dengan satu tangan. Bahasa Kawinya adalah <em>asthi</em>. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bila melacak lebih ke belakang, dalam naskah Sunda kuna, gajah adalah binatang yang sudah sangat akrab, seperti terulis dalam <em>Carita Parahyangan</em>. Pada saat Raja Tarumanagara, Sri Maharaja Suryawarman melepas kepergian Resiguru Manikmaya yang menikah dengan putrinya Dewi Tirthakancana, menghadiahi pengantin baru itu berupa Mandala Kendan lengkap dengan hamba sahaya, pasukan bersenjata lengkap, dan beberapa ratus warga masyarakat anak negeri. Lebih lanjut dituliskan:</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">“Kepada menantunya, Sri Maharaja juga memberikan berbagai harta benda, perhiasan raja, begitu juga pakaian dan tanda kebesaran raja beserta istri dan sejumlah menteri, abdi raja, para pejabat kerajaan, </span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">bahkan seluruh harta-benda, dan berbagai makanan dan minuman yang lezat, </span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;">berbagai kendaraan, yaitu kereta, liman (gajah), kuda, sapi, lembu, kambing, anjing, ayam dan yang lainnya pula.</span></em><span style="font-family:&quot;">(Dalam Drs. Atja dan Dr. Edi S. Ekadjati, 1988).</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Naskah Sunda kuna yang juga memuat kata gajah (<em>gajendra</em>) adalah <em>Sanghyang Siksakandang Karesian</em>, seperti tertulis dalam seloka: </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">“Telaga dikisahkan angsa</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Gajendra (gajah) mengisahkan hutan</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Ikan mengisahkan laut</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;">Bunga dikisahkan kumbang.”</span></em><span style="font-family:&quot;">(dalam Saleh Danasasmita, dkk., 1987)</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam naskah Sunda kuna <em>Darmajati </em>pun terdapat kata gajah, seperti yang ditulis di bawah ini: </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;">“Mengitarai kenyataan itu, kegiliran jadi hamba sahaya, sebab sudah ketentuan Hiyang Guru, menjadi penyelam dan pemburu, menjadi penjaring dan pemarak ikan, menjadi penggembala dan sarati (pawang gajah), menjadi pembantu dan pengusung, menjadi penyapu orang, pelindung penopang orang, perahu tidak berhenti, tersapu banjir jadi mengembang, egois jadi malu bercampur marah, racun ikan tidak mempan.”</span></em><span style="font-family:&quot;">(dalam Undang A. Darsa, dkk., 2004).</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Naskah Sunda kuna lainnya yang memuat kata gajah adalah <em>Sanghyang Raga Dewata</em>: </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">“Adalah sepotong kayu di jalan, direbahkan ditegakkan,</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">diberdirikan untuk dihalangkan, dipalangkan waktu kita berperang, tatkala kekuatan kita (akan) kalah. Sepertinya semua bergerak, gajah singa macan beruang,</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">kerbau sapi badak lasun.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;">Jangan takut oleh musuh!”</span></em><span style="font-family:&quot;">(dalam Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa, 2004)</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Selain dalam naskah Sunda kuno, Dr. N.J. Krom, pada tahun 1914 melaporkan, banyak patung yang ditemukan di Tatar Sunda berbentuk gajah. Patung-patung itu ada yang disimpan di Museum Gajah di Jakarta. Demikian juga dalam Yantra/Mandala yang ditemukan di Tapos (Bogor). Dalam batu itu terukir gambar stilisasi gajah.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kapan gajah datang?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bila mengamati peta bumi Kala Plestosen, keadaan itu terjadi akibat adanya perubahan iklim yang ekstrem di kawasan lintang tinggi, sehingga kawasan yang maha luas itu membeku, bersatu dengan kutub-kutubnya. Akibatnya, air laut menyusut, sehingga Paparan Sunda dan Paparan Sahul yang semula kedalamannya kira-kira 200 meter itu menjadi kering. Situasi inilah yang dijadikan alasan bagi binatang, kemudian diikuti oleh manusia untuk berjalan dari Asia menuju kawasan di daerah tropika. Pada Kala Plestosen inilah gajah datang ke Indonesia, dan hidup dengan nyaman di Jawa Barat, yang saat itu suhunya kira-kira 17<sup>0</sup>C. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kapan gajah musnah?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Anak gajah (<em>menel</em>) yang berupa boneka kain, kini menjadi sahabat setia anak-anak. Gajah cilik yang empuk dan manis itu disukai dan dapat digendong ke mana saja oleh anak-anak. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam dunia usaha, gajah masih menjadi pilihan simbol yang dapat menggambarkan kekuatan atau prodak yang berukuran besar atau mempunyai daya muat besar (<em>jumbo</em>), seperti merek sarung, iklan kulkas, iklan mobil buntung (<em>pick up</em>), <em>printer</em>, atau kuaci. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Alfred Russel Wallace, pada bulan Oktober 1861 menjelajahi Jakarta, Bogor, Gunung Gede dan Gunung Pangrango, tidak melaporkan adanya gajah yang secara alami berada di alam asli kawasan ini. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam ekspedisinya itu Wallace tidak mengadakan perjalanan di Bandung, yang sesungguhnya masih sangat alami. Bisa jadi karena jalan kereta untuk berkuda belum masuk ke Bandung. Keadaan jalan sampai tahun 1811 baru menyambungkan Anyer – Jakarta – Bogor – Cirebon – Semarang – Surabaya &#8211; Panarukan. Berselang 27 tahun kemudian, baru ada jalan kereta kuda antara Jakarta – Bogor – dan berakhir di Bandung.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Perburuan di Bandung yang dilakukan orang-orang Eropa pun tidak menceritakan adanya gajah yang hidup secara alami. Mereka hanya menemukan badak, tak terkecuali di sekitar Bandung. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sampai kapan gajah-gajah itu berkeliaran di Tatar Sunda? Ataukah gajah-gajah asli yang bermigrasi secara alami dari daratan Asia itu musnah ketika manusia prasejarah di Tatar Sunda menemukan perkakas, sehingga mereka mempunyai kekuatan untuk membunuh gajah yang dimanfaatkan dagingnya sebagai bahan makanan?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bila fosil gajah yang ditemukan di Rancamalang itu ditaksir hidup kira-kira 35.000 tahun yang lalu, pada saat itu Danau Bandung purba sedang berada pada kondisi puncak. Air danau berada pada posisi tertinggi, mencapai kontur 712,5 meter dpl. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Danau Bandung purba mengering sejak 16.000 tahun yang lalu. Pada masa ini di Bandung sudah dihuni manusia, seperti adanya kerangka <em>ngaringkuk</em> di Gua Pawon, di perbukitan kapur Citatah, lengkap dengan perkakas batu, obsidian, tulang, <em>cangkang</em> siput, <em>cangkang</em> kemiri (muncang), bahkan ada perhiasan/kalung dari gigi ikan hiu yang sudah dilubangi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Mungkinkah musnahnya gajah di Tatar Sunda karena adanya perubahan iklim yang ekstrem? Apakah suatu perubahan iklim yang ekstrem itu hanya berlaku di suatu kawasan, dan tidak terjadi di kawsan lain atau di pulau lainnya? Mengapa gajah di Sumatra tetap hidup hingga kini walau jumlahnya kian hari kian berkurang karena kawasannya terus dipersempit manusia?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Gajah adalah binatang raksasa yang berat dan tak tahan panas. Itulah yang menyebabkan telinganya selalu mengipas-ngipas, agar suhu di dalam dapat tetap seimbang. Karena tak kuat panas itulah gajah sering pergi ke sungai atau rawa untuk berkubang. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pada umumnya, fosil gajah yang ditemukan di Jawa Barat, berada di pinggir sungai, di bekas danau atau sungai purba. Kebiasaan gajah berendam inilah yang dimanfaatkan manusia untuk membunuhnya. Daging gajah adalah sumber protein bagi manusia prasejarah.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Musnahnya gajah di Tatar Sunda adalah pelajaran bagi manusia saat ini, di kawasan ini pernah dihuni binatang raksasa, dan hampir merata di setiap daerah, mulai dari pantai hingga dataran tinggi. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Saat ini, kehauskuasaan, kerakusan, sedang berjangkit di kawasan ini. Sangat mungkin, perilaku inilah yang akan atau sudah memusnahkan beberapa mahluk Tuhan, yang kita sendiri belum menyadari betapa pentingnya keberadaan mereka bagi manusia, sementara mahluk itu sudah musnah dan tak akan pernah lahir kembali. Sayang!*** </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">T. Bachtiar, <em>Anggota Masyarakat Geografi Indonesia, dan Kelompok Riset Cekungan Bandung. </em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;">Sumber: Pikiran Rakyat,<strong> </strong></span></em><strong><em><span style="font-weight:normal;font-family:&quot;">Kamis, 21 Juli 2005.</span></em></strong></span><strong><em></em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4>carita nyi sumur bandung,gajah rancamalang,paparan sunda dan paparan sahul,penemuan fosil di rancamalang kabupaten bandung,SOEKARNO<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/gajah-pernah-hidup-di-tatar-sunda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Kendan</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/kerajaan-kendan</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/kerajaan-kendan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 08:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dieny Ferbianty</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[Bandungpedia]]></category>
		<category><![CDATA[HERITAGE]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Pedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! &#8220;&#8230;Slanjutnya Sang Resiguru Manikmaya beristrikan Dewi Tirthakancana, putri Sri Maharaja Suryawarman, raja Traumanegara. Maka Resiguru Manikmaya oleh Sri Maharaja Suryawarman diberi sebuah wilayaj, ialah Kendan namanya, elngkap dengan hamba sahaya dan pasukan bersenjata lengkap, demikian pula beberapa ratus warga masyarakat anak negeri. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;Slanjutnya Sang Resiguru Manikmaya beristrikan Dewi Tirthakancana, putri Sri Maharaja Suryawarman, raja Traumanegara.<span id="more-290"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Maka Resiguru Manikmaya oleh Sri Maharaja Suryawarman diberi sebuah wilayaj, ialah Kendan namanya, elngkap dengan hamba sahaya dan pasukan bersenjata lengkap, demikian pula beberapa ratus warga masyarakat anak negeri. Mereka turut pindah menyertai Sang Resiguru. Kemudian Sang Resiguru Manikmaya diangkat menjadi ratu di Kendan, sebagai ratu wilayah yang termasuk daerah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara. &#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">(Carita Parahyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan Pratama Sargah, terjemahan Drs. Atja dan Dr. Edi S. Ekajati, 1998).</p>
<p style="text-align: justify;">Kawasan Kendan inikah yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan sebagai tempat Resiguru Manikmaya menjadi Ratu? Dalam Carita Parahiayangan dijelaskan, Kendan sebagai pusat Kerajaan Kendan, sebelum dikemudian hari pusat kerajaannya diindahkan ke Galuh oleh Writikendayun.</p>
<p style="text-align: justify;">Manikmaya adalah ksatria pengembara dari Bharata (India) dari keluarga kaya-raya dan terpandang di sana. Keluarganya memiliki puluhan kapal dagang. Manikmayamengikuti jejak pamnnya yang sering berlayar ke Dwipantara (Nusantara). Kemudian Manikmaya beserta pengawalnya pergi ke Pulau Sailan, Gauda, Hujung Mndini, Pulau Sumatera, Bali, Jawa Timur, kemudian ke Jawa Barat, dan datang ke Jayasinghapura ibukota kerajaan Tarumanegara untuk menyebarkan agama Hindu. Manikmaya menikah dengN Dewi Tirtakencana, salah seorang putri Sryawarman, Raja Tarumanegara, lalu ditempatkan di Kendan. Dari Dewi Tirtakencana, Resiguru Manikamya dikaruniai seorang putra yang bernama Rajaputra Suraliman yang tampan dan gagah perkasa. Putranya ini dibesarkan oleh kakeknya di Tarmanegara, kelak menjadi Adipati Sarwajala/Panglima Angkatan Laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Resiguru Manikmaya memerintah di Kendan selama 42 tahun, dan wafat pada tahun 568/569 M. Kemudian Rajaputra Suraliman mnggantikan ayahnya sebagai Raja yang kedua. Suraliman memerintah selama 29 tahun, digantikan oleh sang Kandhiawan yang memerintah selama 15 tahun. Pada tahun 612 M pucuk pemeintahan bralih kepada Wretikendayun, yang kemudian memindahkan kerajaan ke Galuh. Pamr Kendan sebagai pusat kerajaan semakin memudar.</p>
<div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/kerajaan-kendan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngamprah</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/ngamprah</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/ngamprah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 07:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Pedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny-yusuf.com/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Pada Zaman Kuarter Kala Plistosen Tengah, sekitar 125.000 tahun yang lalu adalah awal lahirnya Gunung Tangkubanparahu dari Kaldera Gunung Sunda, yang disusul dengan letusan-letusan lainnya, yan mempunyai andil dalam pembentukan Danau Bandung purba. Material letusannya ada yang terlempar ke arah Sagalaherang &#8211; Subang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align: justify;">Pada Zaman Kuarter Kala Plistosen Tengah, sekitar 125.000 tahun yang lalu adalah awal lahirnya Gunung Tangkubanparahu dari Kaldera Gunung Sunda, yang disusul dengan letusan-letusan lainnya, yan mempunyai andil dalam pembentukan Danau Bandung purba.</p>
<p style="text-align: justify;">Material letusannya ada yang terlempar ke arah Sagalaherang &#8211; Subang, ada juga yang membanjir ke arah Bandung, sebagian terhalang oleh dinding Sesar Lembang yang melintang membentengi Bandung, tapi ada juga yang melewati lembah Sungai Cikapundung dan Sungai Cipaganti. Banjir lahar yang mengalir ke arah barat mencapai wilayah selatan Cimahi dan selatan PAdalarang, yang sebelumnya melewati lembah Sungai Citarum Purba di utara PAdalarang sekarang. I sanalah sungai Citarum purba terbendung.</p>
<p style="text-align: justify;">Sngat mungkin, Kampung Ngamprah yang ad di utara PAdalarang itu bersumber dari kata ngamprah, yang dalam bahaa Sunda berarti proses terbendungnya sungai hinga kawasan tergenang. Di lokasi itulah masyarakat Bandung prasesjarah menyaksikan terbendungnya Sungai Citarum purba hingga tergenang.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4>kampung ngamprah<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/ngamprah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curug Jompong</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/curug-jompong</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/curug-jompong#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 11:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dieny Ferbianty</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[Bandungpedia]]></category>
		<category><![CDATA[HERITAGE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Curug, dalam bahasa Sunda berarti iar terjun. Sedangkan jompong berarti mojang atau remaja putri. Walaupun disebut curug, sebenarnya lebih tepat fisebut jeram. Sejak air Danau Bandung purba bersentuhan dengan batuan intrusif di sini, maka secara evolutif, air yang halus itu menyayat batuan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align:justify;"><em>Curug</em>, dalam bahasa Sunda berarti iar terjun. Sedangkan <em>jompong</em> berarti <em>mojang</em> atau remaja putri. Walaupun disebut <em>curug</em>, sebenarnya lebih tepat fisebut jeram.<span id="more-282"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak air Danau Bandung purba bersentuhan dengan batuan intrusif di sini, maka secara evolutif, air yang halus itu menyayat batuan yang batuab yang tingkat kekerasannya cukup tinggi. Lama kelamaan, kehalusan air terbukti dapat mengalahkan kekerasan batuan beku, sehingga air Danau Bandung purba dapat melewati Pematang Tengah, yang berupa rangkaian gunung api tua yang berupa batuan intrusif (terobosan), berselang-seling antara jenis batuan desit, andesit, dan basal.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sebabnya nenek moyang masyarakat Bandung menamai tempat tersayatnya batuan intrusif yang keras itu Curug Jompong. Kekerasan rangkaian batuan intrusif itu dianalogikan sebagai mojang, sebagai gadis remaja yang kuat menjaga kehormatannya, yang kemudian tersayat oleh kehalusan air Danau Bandung purba. Selaput dara bumi Bandung tersayat, sehingga air Danau Bandung purba itu menembus batuan ini, dan air Danau BAndung purba sebelah timur mengering.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Brhamantyo, Geowisata Sejarah Bumi Bandung, 2006)</em></p>
<div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/curug-jompong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mt. Papandayan a Truly Fascinating Volcano</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/mt-papandayan-a-truly-fascinating-volcano</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/mt-papandayan-a-truly-fascinating-volcano#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 09:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dieny Ferbianty</dc:creator>
				<category><![CDATA[ATTRACTIONS]]></category>
		<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[DESTINATIONS]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Destinations]]></category>
		<category><![CDATA[Tujuan Wisata Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! A visit to Mt. Papandayan is one of the most spectacular outings to an active volcano you can make. Golden sulphur crystals, hissing steam, boiling mud and water, blue and black creeks, all set in a large crater with a commanding view over [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a href="http://dieny.files.wordpress.com/2008/10/papandayan-golden-crater1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-201" title="papandayan-golden-crater1" src="http://dieny.files.wordpress.com/2008/10/papandayan-golden-crater1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="228" /></a>A visit to Mt. Papandayan is one of the most spectacular outings to an active volcano you can make. Golden sulphur crystals, hissing steam, boiling mud and water, blue and black creeks, all set in a large crater with a commanding view over the Garut Plain make this outing an unforgettable experience. <span id="more-200"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">You can easily combine a visit to Mt. Papandayan with a weekend in or near Garut. Also, you can make it a one-day outing from Bandung, in which case you need a good seven to eight hours for the round trip. From Cipanas, expect a round trip to the Mt. Pandayan crater to take three to four hours.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Access to the mountain is easy with any vehicle. Public buses take you only to within 9 km of the crater, so you either have to walk the rest of the way or take an ojek (private motor bike with driver).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Though you can drive directly to the rim of the crater, keep in mind that your safety is not guaranteed-hot steam and boiling water and mud can scald you badly, and many of the sharp-edged rocks are rather loose. Do be careful.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">There are two routes to Mt. Pandayan: one from the Garut area in the east and the other from the west via Pangalengan. Note that the two routes do not connect-not even a jeep car drive the 1 km across the crater.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong>Exploring the Golden Crater</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">From the car park it’s a 20-minute walk to the middle of the crater, and now you see why it sometimes called the “Golden Crater”-its central part is a dome of yellow sulphur. Sulphur vapor hisses out of many small fissures in the dome to form columns visible from far away.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Shining yellow crystals of crystallized steam are everywhere, and in one place have collected to form a statue-like figure more than 2-meters high. In earlier times local people channeled the steam through pipes to control his crystallization process to be used for commercial purposes. Be extremely careful not to step on one of these old brittle pipes, for it is likely to break and release scalding steam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">You may wish to take a few samples of sulphur with you as souvenirs, but it would be best to wrap them first-sulphuric acid may form and burn holes in fabrics. Apart from sulphur deposits, boiling springs and streams flow in dark blue and gray colors. Be sure to avoid the soft patches of ground.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Through the open northwestern side of the crater a fantastic view stretches before you across the whole Garut Plain and as far as Mt. Ciremai near Cirebon, 80 km away. The Mt. Papandayan crater is truly a visual feast.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em>Compiled from: All Around Bandung, Exploring The West Java Highlands, Gottfried Roelcke and Gary Crabb</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4>papandayan,papandayan volcano,kampung naga garut,papandayan indonesia,volcan papandayan,volcano around papandayan<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/mt-papandayan-a-truly-fascinating-volcano/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Legend of Sangkuriang</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/the-legend-of-sangkuriang-2</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/the-legend-of-sangkuriang-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 07:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[ATTRACTIONS]]></category>
		<category><![CDATA[Art and Culture]]></category>
		<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[CULTURE]]></category>
		<category><![CDATA[DESTINATIONS]]></category>
		<category><![CDATA[HERITAGE]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Destinations]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Pedia]]></category>
		<category><![CDATA[Tujuan Wisata Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny-yusuf.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! A long time ago, the ancient land of Sunda was ruled by a king and a queen who had but a single daughter. Her name was Dayang Sumbi. She was beautiful and clever but also pampered and spoiled. One day as she was [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><img class="alignright size-medium wp-image-1011" title="legenda-sangkuriang" src="http://dieny-yusuf.com/wp-content/uploads/2010/03/legenda-sangkuriang1-300x208.jpg" alt="legenda-sangkuriang" width="300" height="208" />A long time ago, the ancient land of Sunda was ruled by a king and a queen who had but a single daughter. Her name was Dayang Sumbi. She was beautiful and clever but also pampered and spoiled. One day as she was weaving in her pavilion, she became moody and distracted, which caused her to keep dropping her shuttle on the floor. Once when it fell she exclaimed she would marry the one who gave it back to her. At that very moment her dog Tumang a demigod possessing magic powers, came up to her with the shuttle in his mouth. Dayang Sumbi had to marry him.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">They lived happily together, and Dayang Sumbi gave birth to a baby boy, human in appearance but endowed with his father’s magic powers. She named him Sangkuriang. As the boy he grew up, he was always guarded by the faithful dog Tumang, whom he knew only as a companion and not as his father. Sangkuriang became handsome and brave.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">One day his mother asked him to go hunting with the dog and bring her venison for feast. After hunting all day without success, Sangkuriang worried about facing his mother empty-handed. Desperate, he took an arrow and shot the dog. He returned home and handed over the meat to his pleased mother.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Soon after feast, however, Dayang Sumbi questioned her son about the absence of Tumang. At first he evaded her queries but finally told her what had happened. She was horrified and struck her son so hard on the temple that he collapsed. For that, the old king banished his daughter from the court and she was made to roam around the kingdom. Sangkuriang recovered with a large scar in his temple, and he too left the court to wander about the world.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Years later, Sangkuriang met a beautiful woman and instantly fell in love with her. It was his own mother-they did not recognize each other. He proposed to her and she agreed to marry him. On the day before the wedding, as she was caressing her fiancée’s hair, Dayang Sumbi detected the scar on the temple. Horror struck her, for she was about to marry her own son, Sangkuriang. Without revealing the whole truth to him, she tried unsuccessfully to dissuade him. Desperate to avoid the marriage, she set conditions she thought impossible to meet: Sangkuriang had to make a lake that filled the whole valley and build a boat for the couple to sail in, all before dawn.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Sangkuriang started to work. His love gave him extraordinary strength, and he used his magic powers to summon the spirits to help him. With boulders and much they dammed the river in the valley and the water rose and began to form a lake. In the early morning hours he chopped down a huge tree in the forest and began hollowing it out to make a boat. When Dayang Sumbi saw that he was about to accomplish what she had thought impossible, she called on the gods to bring the sun up early and thwart Sangkuriang.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">The cock crowded, the sun rose much earlier than usual, and Sangkuriang realized he had been deceived. In a fit of fury he cursed Dayang Sumbi and kicked the half-finished boat back into the forest. There it lies upside down today, forming the mountain Tangkuban Perahu (Upturned Boat). Not far away is the stump of the tree Sangkuriang had felled, now called Bukit Tunggul. The dam Sangkuriang had built caused the valley to become a lake, where both Sangkuriang and Dayang Sumbi drowned themselves. They were never had of again.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><em>Source: All Around Bandung, Gottfried Roelcke, Gary Crabb.</em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Foto: www.google.com</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><em> </em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4>legend of sangkuriang<!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/the-legend-of-sangkuriang-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibalik &#8220;Bujangga Manik&#8221;</title>
		<link>http://dieny-yusuf.com/dibalik-bujangga-manik-2</link>
		<comments>http://dieny-yusuf.com/dibalik-bujangga-manik-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 16:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[BANDUNG PURBA]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Glossary]]></category>
		<category><![CDATA[HERITAGE]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage Architecture Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dieny-yusuf.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;} setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1)); ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0; Advertise here! Oleh Atep Kurnia Dari dulu orang Belanda meneliti Sunda. Sekarang pun mereka masih melakukannya. Buktinya, pada tahun 2006, terbit sebuah buku monumental dalam bidang penelitian naskah Sunda kuno berjudul Three Old Sundanese Poems. Buku setebal 496 halaman ini diterbitkan oleh KITLV Press di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="in_post_ad_top_1" style="margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(942,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_942_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">Oleh Atep Kurnia</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari dulu orang Belanda meneliti Sunda. Sekarang pun mereka masih melakukannya. Buktinya, pada tahun 2006, terbit sebuah buku monumental dalam bidang penelitian naskah Sunda kuno berjudul Three Old Sundanese Poems. Buku setebal 496 halaman ini diterbitkan oleh KITLV Press di Leiden, Belanda.<span id="more-764"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Buku itu disusun oleh dua orang, yaitu J Noorduyn (1926-1994) dan A Teeuw. Pertama, alih aksara dan alih basa tiga naskah Sunda kuno ini dikerjakan oleh Noorduyn. Akan tetapi, sayang, Noorduyn keburu sakit sehingga diteruskan A Teeuw.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pengerjaannya, Teeuw sangat mengandalkan bantuan Edi S Ekadjati (alm) dari Universitas Padjadjaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Teeuw mendapatkan bantuan berupa bahan-bahan penelitian naskah Sunda kuno. Selain itu, atas permintaan Teeuw, Edi mengirimkan Undang A Darsa untuk membantu pekerjaan Teeuw.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah yang dimuat dalam buku ini berupa tiga puisi Sunda kuno. Ketiganya adalah &#8220;The Sons of Rama and Rawana&#8221; (Kisah Keturunan Rama dan Rawana), &#8220;The Ascension of Sri Ajnyana&#8221; (Ngahiangna Sri Ajnyana), dan &#8220;The Story of Bujangga Manik: A Pilgrim&amp;apos;s Progress&#8221; (Kisah Bujangga Manik: Sebuah Alegori).</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara tiga naskah tersebut, naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221; paling menarik. Naskah Sunda kuno ini berasal dari Inggris dan disimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford. Koleksi ini berawal dari hibah saudagar Andrew James pada 1627 atau 1629.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah diteliti dengan saksama, Teeuw menduga bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik yang berlangsung atau ditulis pada zaman Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan di Nusantara, terutama sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221; berpusat pada tokoh Bujangga Manik. Ia adalah seorang tohaan atau pangeran dari Keraton Pakuan di Cipakancilan, Bogor. Ia lebih memilih hidup sebagai rahib pengelana daripada menjadi penguasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah ini merekam perjalanan Bujangga Manik dua kali mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Mula-mula, Bujangga Manik berangkat ke Jawa Timur, selanjutnya pulang ke Pakuan melalui jalan laut dengan menumpang kapal yang berlayar dari Malaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua kali, Bujangga Manik kembali mengembara ke Jawa Tengah, Jawa Timur, lalu menyeberang ke Bali. Setelah pulang, ia memilih hidup memencilkan diri dengan bertapa di sebuah gunung di Tatar Sunda hingga mencapai moksa. Wawasan geografis</p>
<p style="text-align: justify;">Kesan setelah membaca naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221;, ternyata orang Sunda pada hakikatnya teu kurung batokkeun. Orang Sunda terbiasa mengembara. Orang Sunda lampar. Karena terbiasa mengembara, banyak tempat dikunjungi. Banyak tempat mereka ketahui. Alhasil, orang Sunda telah menyadari pentingnya wawasan geografis.</p>
<p style="text-align: justify;">Noorduyn yang menemukan naskahnya telah membuat tilikan, terutama saat Bujangga Manik merinci tempat-tempat, baik di Nusantara maupun di luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 1982, Noorduyn menulis &#8220;Bujangga Manik&amp;apos;s Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source&#8221; (BKI, 138:413-42). Tulisan tersebut diindonesiakan pada tahun itu juga menjadi &#8220;Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno&#8221;, yang diterjemahkan oleh Iskandarwassid. Edisi Sunda-nya muncul secara bersambung di majalah Mangle pada 1984, &#8220;Lalampahan Bujangga Manik Ngurilingan Pulo Jawa: Data Topografis tina Sumber Sunda Buhun&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut catatan Noorduyn, Bujangga Manik menyebutkan 450 nama tempat, termasuk nama gunung, sungai, dan pulau yang dilalui dan dilihat dari jarak dekat dan jarak jauh. Nama-nama itu meliputi Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, China, bahkan Mekkah dan Madinah nun di jazirah Arab.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang muskil membacanya. Akan tetapi, hal ini paling tidak menggambarkan bagaimana orang Sunda sudah mengenal dengan baik wawasan geografis yang melingkupi diri mereka. Mereka telah mengenal daerah di luar daerah teritorial mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Menimba ilmu</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, naskah &#8220;Bujangga Manik&#8221; pun menyajikan gambaran tentang tradisi orang Sunda menimba ilmu, di antaranya dengan nyantrik dan membaca buku. Dari naskahnya terbaca kesungguhan Bujangga Manik menuntut ilmu, terutama yang berhubungan dengan agama, sampai-sampai urusan kehidupan dunianya tidak diperhatikan sama sekali. Padahal, terbuka kesempatan bagi Bujangga Manik untuk mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan Kerajaan Sunda.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama perjalanannya, Bujangga Manik belajar kepada mahapandita di mandala Gunung Damalung, Jawa Tengah, dan Pamerihan. Bujangga Manik pun sempat bertapa untuk beribadah dan mendalami ilmu agama di mandala Balungbungan (Blambangan) di Jawa Timur selama lebih dari setahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, Bujangga Manik pernah bermukim di Rabut Palah, mandala paling utama di Kerajaan Majapahit, selama setahun lebih. Di sana ia mendalami ilmu agama dan mengkaji kitab Darmaweya dan Pandawa Jaya. Untuk keperluan itu, ia pun mempelajari dan bisa berbahasa Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, kebiasaan membaca di kalangan orang Sunda ikut pula terbaca, terutama di kalangan ahli agama. Sebab, tampaknya tradisi membaca yang hidup di Tatar Sunda pertama kali hidup di kalangan tersebut. Eksemplarnya ialah semacam &#8220;Bujangga Manik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan membaca ini terlihat saat Bujangga Manik pulang pertama kali dan pergi untuk kedua kali. Saat pulang dari Pamalang dan tiba di istana, ia terlihat oleh Jompong Larang, pelayan putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana. Pelayan itu melaporkan kepada Ajung Larang bahwa seorang ameng (rahib pengelana) telah kembali. Jompong Larang menggambarkan keelokan Bujangga Manik yang melebihi Banyak Catra dan Siliwangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, menurut kabar yang didengar Jompong Larang, pangeran pengelana itu menguasai bahasa Jawa dan paham sekali akan buku-buku keagamaan. Inilah kutipan naskahnya, Teher bisa carek Jawa/w(e)ruh di na eusi tangtu/lapat di tata pustaka/w(e)ruh di darma pitutur/bisa di sanghiang darma.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi yang menggambarkan tradisi membaca adalah saat Bujangga Manik pergi untuk kedua kali. Di sana digambarkan, setelah berpesan kepada ibunya, Bujangga Manik menyandang kantong besar berisi apus ageung (buku besar) yang disatukan dengan naskah keagamaan, Saa(ng)geus nyaur sakitu/dicokot ka(m)pek karancang/dieusian apus ageung/dihurun deung siksa guru&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">ATEP KURNIA Penulis Lepas, Tinggal di Bandung</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: Kompas,  Sabtu, 23 Agustus 2008</em></p>
<div id="in_post_ad_bottom_1" style="clear:both;margin: 5px;padding: 0px;"><!-- PPCZine - ad code starts -->
<span id="show_ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945"></span>
<script language="javascript" type="text/javascript" src="http://ppczine.com/show-ads.js"></script>
<script language="javascript">
if (window.ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea ){ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+= 1;}else{ ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea =1;}
setTimeout("showAdsforContent(945,336,295,'http://ppczine.com/publisher-show-ads.php',"+ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea+",'ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea')",1000*(ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea -1));
ads_21386fae846d58fb8c069b5baa131cea_945_position=0;
</script>
<noscript><a title="PPCZine" href="http://ppczine.com/index.php?r=393">Advertise here!</a></noscript>
<!-- PPCZine - ad code ends --></div><div style='clear:both'></div><p><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1684221916397110";
/* 336x280, dibuat 09/10/31 */
google_ad_slot = "7097940247";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dieny-yusuf.com/dibalik-bujangga-manik-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

