Dari Cisanti ke Curug Jompong
Posted on | March 31, 2010 | No Comments
Oleh BUDI BRAHMANTYO
CITARUM, sungai terpanjang di Jawa bagian barat, merupakan sungai yang mengalir tepat membelah tengah-tengah Tatar Priangan. Berhulu di Gunung Wayang, salah satu anak Gunung Malabar, mengalir melalui cekungan Bandung ke arah utara, dan bermuara di ujung Karawang, di Laut Jawa. Sepanjang alirannya sekira 225 km, dari waktu ke waktu sungai ini merekam kebingungan manusia dalam memahami alam.
Citarum merupakan sungai yang memegang peranan penting dalam sejarah Jawa Barat. Pertama, nama sungai diambil pula sebagai nama kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat, yaitu Tarumanegara, pada abad ke-5. Menurut Carita Parahyangan, sebuah tanah merdeka diberikan oleh Raja Tarumanegara, Purnawarman, kepada Resiguru Manikmaya di daerah Kendan, Nagreg, yang boleh dikatakan berada di kawasan hulu Citarum. Kerajaan kecil ini kemudian oleh Wretikandayun, cucu Manikmaya, dialihkan ke Galuh. Berdirinya Kerajaan Galuh telah membagi kerajaan di Tanah Sunda menjadi dua dengan batas Sungai Citarum.
Pada masa-masa awal berdirinya Kota Bandung pada tahun 1810, Krapyak, Ibu Kota Tatar Ukur yang meliputi cekungan Bandung, berada di tepi Sungai Citarum. Setelah kepindahannya ke Kota Bandung sekarang, Krapyak lalu berubah nama menjadi Dayeuh Kolot (Kota Tua). Sepanjang Citarum saat itu besar kemungkinan merupakan deretan kampung-kampung yang mengandalkan sungai Citarum sebagai akses utama Tatar Ukur sebagaimana kebudayaan lama yang selalu mengandalkan aliran sungai.
Pada masa modern ini, bukan main jasa Citarum bagi rakyat Pulau Jawa. Dari alirannya telah terbangun tiga bendungan besar yang memberi energi listrik untuk Jawa dan Bali, dan air irigasi untuk Jakarta dan Jawa Barat utara. Bendungan-bendungan itu, yaitu Jatiluhur dibendung tahun 1967, Saguling 1985, dan Cirata 1988, seakan-akan merupakan ramalan yang terwujud dari Legenda Sangkuriang yang juga membendung Citarum untuk dapat menyunting Dayang Sumbi.
Cerita singkat sejarah Citarum di atas selain mencatat kedigdayaan manusia atas alam, tetapi juga di balik itu mengandung kebingungan manusia dalam memahami alam. Kebingungan itu terutama terjadi pada akhir-akhir ini ketika akibat bencana banjir yang selalu mendera setiap tahun, beberapa orang yang merasa digdaya atas alam, dengan semena-mena menyalahkan alam sebagai penyebab bencana.
Menyalahkan Curug Jompong
Ketika banjir selalu datang menyergap Bandung Selatan sepanjang aliran Citarum antara Majalaya dan Dayeuh Kolot, tiba-tiba saja seseorang yang merasa digdaya atas alam menyalahkan Curug Jompong sebagai penyebab bencana itu. Sungguh aneh, manusia yang baru lahir akhir-akhir ini saja berani menyalahkan Curug Jompong yang dibentuk oleh batuan dasit sejak 4 juta tahun yang lalu. Sungguh membingungkan pula menyalahkan aliran Citarum yang bergerak pelan berkelok-kelok yang telah dilakoninya sejak berribu-ribu tahun yang lalu sebagai penyebab bencana banjir itu.
Memang keberadaan Curug Jompong yang seolah-olah membendung aliran Citarum di daerah Nanjung, menyebabkan alirannya di bagian hulu bergerak sangat pelan. Respons alam terhadap adanya halangan ini adalah terakumulasinya sedimen di daerah dataran Bandung Selatan yang terbawa dari jaringan sungai-sungainya yang berhulu di lereng-lereng gunung api di sekeliling cekungan Bandung. Akibat semua ini, aliran sungai berusaha menambah kapasitas tampungnya, tidak dengan memperdalam lembahnya, tetapi dengan memperpanjang alirannya. Tetapi karena keterbatasan ruang akibat adanya penghalang Curug Jompong itu, proses memperpanjang aliran sungai adalah dengan cara membuatnya berkelok-kelok, atau disebut meander.
Namun demikian dalam waktu-waktu tertentu ketika curah hujan tinggi, daya tampung itu terlampaui pula. Sungai kemudian mempunyai alternatif kedua untuk menambah daya tampungnya yaitu dengan menciptakan lahan-lahan yang disebut dataran banjir (flood plain). Lahan-lahan ini hanya tergenang ketika musim hujan saja, dan kering pada musim kemarau.
Pada tahun 1980-an, masalah banjir Bandung selatan telah dibahas alot. Dalam pembahasan itu keluarlah beberapa faktor yang dijadikan kambing hitam bencana banjir Bandung selatan, di antaranya dua penyebab di atas yaitu aliran pelan bermeander dengan gradien sungai sangat kecil, dan penghalang Curug Jompong. Penyebab lain adalah karena hampir seluruh anak-anak sungai bermuara ke Citarum di tempat yang hampir berdekatan. Sungai-sungai Cikeruh, Citarik, dan Cirasiah bermuara ke Citarum di Majalaya, serta Cikapundung dan Cisangkuy di Dayeuh Kolot. Tambahan pula, anak-anak sungai itu masuk ke Citarum dalam arah tegak lurus. Bagaikan di persimpangan jalan yang ramai, maka kemacetan aliran air terjadi pula di pertemuan sungai-sungai ini pada puncak musim hujan. Maka meluaplah air sungai menggenangi dataran banjir yang terbentuk sepanjang alirannya dari Majalaya ke Dayeuh Kolot.
Proses di atas adalah proses yang sangat alamiah dari suatu aliran sungai sebesar Citarum yang telah dilakoninya sejak beribu-ribu tahun. Sejak mengalir dari sumbernya di Cisanti, lereng Gunung Wayang selatan Gunung Malabar, Sungai Citarum mengalir melalui lembah yang menyayat tajam di daerah Pacet hingga Maruyung. Di daerah selatan Majalaya, Sungai Citarum membentuk kipas aluvial akibat masuknya aliran sungai dari daerah pegunungan ke dataran. Mulai dari daerah Jolok di Majalaya yang bermorfologi sangat datar, Citarum mengekspresikan alirannya dengan meander yang berkelok-kelok melengkung-lengkung hingga Dayeuh Kolot dan Margahayu. Dari sinilah banyak anak-anak sungainya bergabung membentuk aliran yang lebih besar.
Memasuki daerah Nanjung di suatu tempat yang disebut Leuwi Sapi, sungai mulai mengikis tajam membentuk lembah berdinding terjal. Alirannya kemudian membentuk jeram cascade yang dikenal sebagai Curug Jompong, mengikis batuan intrusi dasit, sisa-sisa gunung api purba berumur Pliosen, kira-kira 4 juta tahun yang lalu. Setelah melewati jeram ini, gradien sungai meninggi dan aliran menjadi kencang sebelum berhenti ketika memasuki kawasan tenang Waduk Saguling di Batujajar.
Manusia-manusia pendatang baru memadati dataran sepanjang aliran sungai ini. Karena bermorfologi datar, maka pembangunan sangat mudah dilaksanakan. Tetapi seolah-olah para pendatang ini datang pertama kali pada musim kemarau, dan terkejut bukan main ketika mengalami musibah dibanjirinya rumah-rumah mereka di musim hujan. Seperti yang kita ketahui kemudian, sungai yang mengalir pelan karena terhalang Curug Jompong kemudian menjadi kambing hitam atas semua peristiwa musibah para pendatang baru di dataran banjir yang telah terbentuk beribu tahun yang lalu ini.
Solusinya tampaknya sangat mudah dan tanpa perhitungan, hancurkan Curug Jompong! Benar sekali jika Curug Jompong yang mempunyai beda tinggi sekira 12 m dihancurkan, maka aliran Sungai Citarum akan menggelontor cepat. Sekali Curug Jompong hancur, gradien sungai baru akan mengejar level dasar baru minus 12 m dari aliran semula. Ke arah hulu, tidak perlu ada pengerukan dasar sungai, karena sungai akan otomatis menggerus dasarnya secara vertikal mengejar level dasar baru itu.
Tentu saja seluruh jaringan sungai di hulu dari Curug Jompong jika dihancurkan akan mengikuti kesetimbangannya yang baru. Dalam jangka pendek masalah banjir memang teratasi. Tetapi, seluruh jaringan sungai itu secara proporsional akan merespons kecepatan erosinya, terutama secara vertikal. Erosi menyeluruh akan terjadi secara besar-besaran di seluruh cekungan Bandung hulu. Lembah-lambah baru akan terbentuk secara vertikal, dan bukan tidak mungkin akan meruntuhkan fondasi-fondasi jembatan di seluruh jaringan sungai di DAS Citarum hulu.
Akibat lain dari intensifnya erosi adalah terjadi sedimentasi yang justru semakin besar. Jika Curug Jompong dihancurkan, sedimen ini akan mengalir bebas memasuki Waduk Saguling, memperpendek umurnya. Suatu studi cukup tua di Amerika Serikat oleh Emerson, 1971, memperlihatkan bahwa penanggulangan banjir dengan cara sodetan dan pengerukan memang cukup efektif dalam jangka pendek, tetapi efek jangka panjangnya ternyata sangat merugikan.
Penghancuran penghalang Curug Jompong untuk penanggulangan banjir Bandung selatan, mungkin dapat dianalogikan ketika seorang petani digigit ular sawah yang tidak berbisa. Rasa sakit yang tidak seberapa dilampiaskan berupa dendam dengan membunuhi seluruh ular sawah. Dalam jangka pendek sang petani merasa lega terbebas dari ancaman gigitan ular. Tapi dalam jangka panjang kerugian yang luar biasa besar akan datang dengan merajalelanya hama tikus yang menghancurkan panennya. Janganlah kita seperti petani bodoh itu yang bertindak spontan tanpa perhitungan.
Penulis, staf dosen di Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FIKTM-ITB, dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung.
Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 01 April 2006
See also:
Comments
Leave a Reply