Tourism | Travel Specials

Providing the best tourism and travel info

Gaya Bangunan, Ciri Sebuah Kota

Posted on | February 25, 2010 | No Comments

Oleh: Nusya Kuswantin

Ketika di kawasan Malioboro, Yogyakarta, tiba-tiba ada bangunan mal, orang terperangah, merasa sayang dan agak kecewa. Mengapa tiba-tiba ada bangunan “aneh” seperti raksasa warna merah jambu sedang jongkok menyesaki jalan?

Padahal, jalan tersebut mengarah ke Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Di jalan tersebut juga terdapat Gedung Kepatihan yang sekaligus merupakan Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan kedua kompleks gedung tersebut memiliki gaya bangunan yang indah dan nilai historis yang tinggi.

Mengapa mal terasa aneh di Malioboro? Ini karena bentuk bangunan modern dianggap tidak selaras dengan bangunan lainnya yang terlebih dulu ada di sana dan memiliki keindahan gaya bangunan zaman dulu.

Bukan hanya bentuknya yang tidak pas, melainkan juga ukuran tingginya yang seolah menenggelamkan bangunan-bangunan penting lainnya. Secara keseluruhan, orang kecewa karena ciri khas arsitektur bangunan di sepanjang Malioboro seolah “ternoda” dan kehilangan estetika lanskapnya.

Terhadap peristiwa munculnya bangunan mal yang tak selaras dengan lingkungannya seperti tampak di Malioboro, Yogyakarta, maupun di kota-kota lain di Indonesia inilah yang membuat orang berasumsi bahwa kekuatan modal telah mengalahkan rasa estetika penguasa.

Asumsi seperti ini bisa melebar pada isu kapitalisme versus demokrasi, katakanlah dalam obrolan para mahasiswa dan aktivis organisasi nonpemerintah di angkringan atau “kafe-tiga-ceret” yang buka malam hari di tepi-tepi jalan di Kota Yogyakarta yang dalam sejarah pernah dianggap sebagai center of excellence itu.

Victorian di Bengkulu

Sudah disepakati bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu yang diharapkan menghasilkan pendapatan daerah. Dan, untuk menjaring wisatawan tentu harus dipahami dulu kemauan para calon wisatawan. Pada umumnya hal pertama yang ingin dilihat para wisatawan bukanlah belanja oleh-oleh atau mencicipi masakan khas. Tetapi, berkeliling kota melihat karakter daerah setempat, melihat geliat proyek properti sebuah wilayah. Untuk itu yang dilihat pertama-tama adalah bentuk dan gaya bangunan serta tata kota secara keseluruhan.

Wisatawan akan merasa senang andaikata kemudian, setelah melakukan pengamatan sekilas, bisa menyimpulkan sesuatu tentang karakter daerah tersebut. Misalnya, bangunan khas di Kota Bengkulu memiliki sentuhan bergaya Victorian dengan lisplang (papan kayu sepanjang tepian genting) yang seolah menyerupai renda pada onderok (baju dalam para perempuan generasi tempo doeloe) serta pagar beranda dari kayu yang juga diberi ornamen berupa lubang-lubang kecil senada dengan ornamen lisplang yang indah. Seperti gaya rumah kediaman Bung Karno ketika dibuang oleh Belanda ke Bengkulu serta deretan pertokoan dan banyak rumah kuno setempat lainnya.

Mengapa bangunan di Bengkulu bergaya Victorian dan bukan gaya kolonial (Belanda)? Tentu saja, karena Bengkulu dulunya adalah wilayah jajahan Inggris. Namun, karena wilayah di luar Bengkulu, yaitu Nusantara, adalah bagian dari Hindia-Belanda, sedangkan Inggris menguasai jazirah Malaka, maka Inggris dan Belanda lantas saling bertukar Bengkulu dan Singapura. Itu sebabnya, bangunan di Bengkulu memiliki sentuhan Victorian.

Sejak pascatsunami hingga saat ini, di Kota Banda Aceh telah banyak dibangun kembali bangunan serta rumah-rumah penduduk. Sebagaimana banyak harapan warga, tak sedikit yang dibangun dengan mempertahankan ciri khas bangunan tradisional, yaitu dengan atap bertumpuk. Ciri khas inilah yang membedakan bentuk bangunan Aceh dengan daerah-daerah lainnya.

Sementara itu, Kota Sabang di Pulau Weh—yaitu pulau paling ujung Barat NKRI—memiliki ciri khas yang agaknya potensial dikembangkan sebagai kota wisata. Bangunan zaman kolonial masih banyak yang terawat baik, juga rumah atau bangunan baru yang selaras dengan bangunan kolonial. Memang ada beberapa bangunan modern yang dibuat di sana, tetapi masih dalam jumlah yang kecil. Juga masih banyak pohon besar yang rindang di tepi jalan.

Semoga saja Wali Kota Sabang terpilih Munawar Liza akan mampu mempertahankan ciri kolonial pada bangunan dan lanskap Pulau Weh sehingga wisatawan tetap betah untuk tinggal di pulau yang tertata dan indah itu. Apabila kota pelabuhan Sabang dikembangkan untuk pariwisata dengan menjaga ciri khas bangunan kolonialnya, maka tak pelak Sabang bisa menyerupai Malta di Karibia, kota pelabuhan dengan tipikal bangunan kolonial.

Untuk upaya ini, perlu sedikit pembenahan di daerah pelabuhan, yaitu dengan memberikan trotoar yang lapang di sekitar pelabuhan sehingga wisatawan bisa nyaman berjalan kaki. Dan warung makan, restoran, serta kafe ditata sehingga pengunjung bisa menyantap hidangan sambil menikmati pemandangan pantai.

Matahari terbenam di Sabang tentulah juga bisa dijual. Apalagi suasana sosiokultural di Pulau Weh tampaknya juga lebih tourists-friendly dibandingkan Kota Banda Aceh, misalnya, yang polisi syariahnya beberapa kali telah melakukan hukuman cambuk bagi pasangan kekasih di depan publik.

Romantisme wisatawan

Apa boleh buat, wisata, juga bisnis properti, memang perlu memuaskan romantisme para pelancong. Misalnya, ketika berkunjung ke Kota Malang di Jawa Timur, pelancong senior akan berusaha berjalan kaki di sepanjang Kayutangan—yang tidak lagi nyaman karena pedestrian path atau trotoarnya menjadi sangat sempit—dan mencoba menghitung bangunan kuno yang sayangnya banyak yang telah berubah menjadi modern, misalnya Kantor Telkom. Untunglah Gereja Katolik, Masjid Jami, dan Toko Oen tetap indah dalam bentuk aslinya. Juga rumah-rumah kuno di Jalan Ijen.

Namun, pelestarian ciri khas kota tentu bukanlah melulu demi tujuan wisata. Tetapi, lebih sebagai memberikan roh pada kota tersebut atau mungkin citra. Citra yang khas adalah daya tarik, dan daya tarik sudah barang tentu dengan sendirinya memesona para wisatawan.

Tentu tidak mudah menjaga citra kota melalui ciri khas bangunan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa mendesain bangunan bukanlah melulu persoalan privat, namun juga menyentuh persoalan publik. Oleh karena itu, perlu ada kesepakatan bersama, setidaknya soal kualitas bangunan tahan gempa serta sentuhan ciri khas lokal atau keselarasan lanskap serta tata kotanya.

Mungkin sudah saatnya ada wali kota yang berani mengundang warganya dari berbagai unsur untuk melakukan semacam semiloka mengenai ciri khas (bangunan) di wilayahnya, dan hasilnya dituangkan dalam sebuah rekomendasi yang kemudian dijadikan sebagai acuan pendirian gedung atau bangunan milik pemda maupun swasta serta perorangan.

Upaya seperti ini saya kira juga akan memperteguh sense of belonging (rasa memiliki) warga terhadap kotanya, dan pada gilirannya juga bisa meningkatkan kepedulian warga terhadap persoalan-persoalan publik lainnya.

Nusya Kuswantin Pemerhati Rumah

Sumber: Kompas,  Jumat, 09 Februari 2007

Comments

Leave a Reply