Tourism and City Development

Tourism and City Development for Better Life

Haji Une Manonjaya, Maesenas Pergerakan Islam

Posted on | February 20, 2009 | No Comments

Oleh IIP D YAHYA

Haji Une atau RH Oene Djoenaidi adalah seorang juragan karet dan serai asal Manonjaya (1895-1966). Ia seorang pendukung berbagai pergerakan Islam Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Ia juga seorang pengusaha pers yang sukses melahirkan koran terbesar dalam era pergerakan Indonesia: Pemandangan.

Lewat harian inlah hampir semua tokoh nasional kita menulis dan pernah merasakan honor tulisannya. Sebuah buku berjudul R.H.O. Djoenaidi, Pejuang Pengusaha dan Perintis Pers, karya Badruzzaman Busyairi (1982), mencatat sejumlah hal menarik tentang Haji Une. Perintis pers

Menurut Adam Malik, harian Pemandangan pada masanya menjadi penerbit tulisan-tulisan kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Otto Iskandardinata, dan Parada Harahap. Adam Malik juga mengakui bahwa Haji Une dan Otto adalah dua tokoh perintis pers dari Pasundan.

Awalnya, Haji Une memiliki percetakan Galunggung di Bandung. Di percetakan inilah koran berbahasa Sunda Sipatahoenan dicetak. Pergaulan dengan koran pimpinan Otto Iskandardinata itu membuka jalan bagi Haji Une untuk mengenal dunia pergerakan nasional secara lebih luas. Kemudian ia mengakuisisi mingguan Pemandangan (1933) yang dipimpin Saeroen yang hampir kolaps. Saeroen tetap menjadi pemimpin redaksi dan Haji Une menjadi direkturnya. Untuk mengembangkan Pemandangan, Haji Une memindahkan percetakan ke Jakarta dan berganti nama menjadi percetakan Pemandangan. Bersamaan dengan itu weekblad (mingguan) Pemandangan berubah menjadi dagblad (harian). Harian ini memiliki semboyan, “Berpedoman Islam-Memperjuangkan Keadilan SosialTidak Berpartai”.

Selain mengelola harian, Haji Une juga membidani majalah Mingguan Pembangoen. Namun, karena Haji Une selalu berada di belakang layar, jarang menulis, namanya luput dari catatan sejarah pers Indonesia dan Jabar. Jabatannya di harian Pemandangan dan Mingguan Pembangoen memang bukan pemimpin redaksi, melainkan direktur atau sekarang disebut pemimpin perusahaan.

Sebagai direktur media terkemuka pada masanya, Haji Une memulai tradisi yang unik dan mengesankan dalam hubungan antara lembaga pers dan pelanggan. Salah satunya adalah Fonds Kematian yang memiliki ketentuan, pertama, setiap pelanggan berusia 18-50 tahun yang tidak pernah menunggak dalam membayar kewajibannya, bila meninggal, ahli warisnya mendapat bantuan dari Fonds Kematian sebesar f 25.

Kedua, pelanggan yang mendapat kecelakaan hingga mengakibatkan cacat badan dan tidak bisa bekerja lagi akan mendapatkan Pemandangan gratis seumur hidup dan selama Pemandangan masih terbit. Ketiga, permintaan uang santunan yang mendadak jika kantor telah tutup bisa langsung kepada wakil RHO Djoenaidi, yaitu saudara Soerianata.

Hubungan baik juga dijalin Haji Une dengan para penulis. Dalam konteks masa perjuangan, honor yang memadai dari Pemandangan punya makna ganda, yakni untuk menghargai mutu tulisan dan menunjang kehidupan ekonomi para penulis yang semuanya tergolong sebagai tokoh pergerakan. Bung Hatta, misalnya, dalam memoarnya mengakui bahwa honorarium dari Pemandangan cukup untuk membiayai hidupnya selama dalam pembuangan, sebagian bisa untuk membeli buku-buku, membantu kawan-kawan seperjuangan, dan selebihnya untuk keperluan lain.

Sementara Soekarno mengakui, “Di alam interniran saya menjadi pembantu tetap Pandji Islam dan Pemandangan”. Haji Une yang mengirimkan berbagai bahan tulisan ke pengasingan agar Bung Karno terus bisa menulis, di antaranya satu set lengkap Encyclopedia.

Pendiri Unisba

Haji Une dikenal sebagai pribadi yang pemurah dan dermawan. Perhatiannya kepada kesulitan tokoh-tokoh pergerakan Islam sangat mendalam. Dialah orang yang dititipi amanah untuk “menjaga” anak-anak HOS Tjokroaminoto saat tokoh besar itu wafat.

Seorang anak Pak Tjokro, Harsono, mengakui peran besar Haji Une itu. “Emang Une bagi saya adalah seperti ayah sendiri. Lebih-lebih karena saya tahu bahwa beliau pada masa perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda dulu adalah pendukung dari cita-cita kemerdekaan bangsa yang diperjuangkan almarhum ayah saya Haji Oemar Said Tjokroaminoto.”

Sekalipun menjadi pendukung setia Tjokroaminoto, Haji Une tetap bisa bergaul rapat dengan tokoh dari berbagai pergerakan Islam. Ia umpamanya bergaul dekat dengan KH Wachid Hasjim dan KH Masykur dari NU. Sementara Mr Mohamad Roem punya kenangan tersendiri kepada Haji Une, yaitu saat ia menjadi menteri luar negeri pada 1951.

Waktu itu Roem berinisiatif membantu pembangunan masjid di kota Washington, Amerika Serikat. Tanpa ragu Haji Une mendukungya, sementara banyak tokoh lain merasa ragu karena menurut mereka masih banyak masjid di Indonesia yang perlu dibantu. Roem mengenang, “Dia seorang yang praktis, dinamis, malah terkadang memperlihatkan gejala-gejala bahwa beliau jauh lebih maju dari zamannya.” Mr Kasman Singodimedjo secara jujur mengaku belajar wiraswasta dari juragan karet asal Manonjaya itu.

Di antara yang tak bisa melupakan jasa Haji Une adalah EZ Muttaqien. Tokoh yang akrab disebut Mang Engking ini mengenang, “Ketika suasana pertentangan politik antara Masyumi lawan PKI meningkat dan aku termasuk yang diberhentikan sebagai anggota DPR, beliau yang memberikan semangat dan menyalakan dapur rumah tanggaku. Di gudang beras beliau di Cianjur, aku dicatat sebagai keluarga yang tiap bulan dapat mengambil satu kuintal beras.”

Selain menyantuni sejumlah tokoh, Haji Une juga mendukung pendirian pondok pesantren dan perguruan tinggi, di antaranya pesantren pertanian Darul Falah Ciampea, Bogor, dan Universitas Islam Bandung (Unisba). Haji Une mewakafkan tanah 36 hektar untuk pesantren, selain juga membantu secara penuh pendirian bangunannya.

Sementara untuk Unisba, ia menyumbangkan kayu dari perkebunan Koleberes miliknya yang luasnya mencapai ribuan hektar. Jasa Haji Une ini diakui EZ Muttaqien, “Nama Haji Une tidak dapat dipisahkan dari Universitas Islam Bandung.”

Demikianlah sekilas tentang Haji Une, sosok pengusaha bersahaja yang namanya kini tak banyak lagi diingat orang, tetapi jasanya tak akan pernah lekang dimakan zaman. Melihat jasa-jasanya, ia layak dikenang dan diabadikan sebagai maesenas pergerakan Islam Indonesia.

IIP D YAHYA Penulis Lepas; Tinggal di Bandung

Sumber: Kompas, Jumat, 10 Oktober 2008

Comments

Leave a Reply