Tourism and City Development

Tourism and City Development for Better Life

Hanjeli, Makanan Orang Sunda yang Terlupakan

Posted on | November 11, 2008 | No Comments

Oleh: Yenti Aprianti

hanjeliHiruk-pikuk Jalan Cihampelas tak lagi mengingatkan orang Sunda pada hanjeli, makanan masa lalu yang bergizi. Padahal, di sana, dulu banyak ditumbuhi hanjeli.

Hanjeli atau jali alias Coix lacryma-jobi L merupakan tanaman yang populer di masyarakat Sunda masa lalu. Tanaman tersebut mirip alang-alang atau tanaman jagung. Buahnya yang merupakan sumber makanan berbentukbulat menyerupai biji jeruk.

Jika masih mentah, warna buah hanjeli hijau. Namun, jika sudah matang, buah hanjeli berwarna putih.

Buah hanjeli putih bisa dipanen dan diolah menjadi makanan. Ia diolah dengan cara dijemur lalu ditumbuk. Isi biji hanjeli yang ditumbuk bisa langsung ditanak seperti beras. Hasilnya seperti nasi matang, tetapi lebih lengket menyerupai nasi ketan. Orang Sunda biasa memakan hanjeli yang ditanak atau menjadikannya peuyeum atau tape. Tanaman pagar

Menurut situs bandungheritage.org, dahulu di Cihampelas terdapat situ atau danau kecil bernama Situ Bunjali di selatan kolam renang Cihampelas. Nama Bunjali yang diambil dari kata jali atau hanjeli merupakan salah satu tempat yang dahulu banyak ditanami hanjeli.

Daerah lain yang juga banyak ditanami hanjeli adalah kawasan Punclut, Lembang, Kabupaten Bandung. Kini di Lembang, hanjeli ditanam sebagai tanaman pagar. Tiga tahun lalu di Jalan Barisan Keamanan Rakyat (BKR), Kota Bandung, terdapat kios bubur kacang hijau yang juga menyediakan bubur hanjeli, tetapi kini sudah tutup.

Di kawasan Oray Tapa, Manglayang, Kabupaten Bandung, masih banyak petani menanam hanjeli sebagai tanaman pagar. Samsu (65), petani di kawasan Oray Tapa, mengatakan, hanjeli hanya ditanam untuk dipetik buahnya sebagai pengganjal perut keluarga. Dari kebunnya ia hanya bisa memanen hanjeli setiap enam bulan sekali dengan jumlah tak sampai 5 kilogram.

“Biasanya disimpan dan tak pernah dijual. Di keluarga saya, hanjeli biasa diolah jadi tape,” katanya.

Tanaman hanjeli milik Samsu ditanam di pinggir huma bersama kunyit dan katuk.

Samsu biasanya menanam hanjeli pada musim hujan dan memanen pada musim kemarau. Sebagai tanaman bahan makanan, hanjeli tergolong mudah dipelihara.

“Jarang ada hamanya dan pasti bisa dipanen. Soalnya, tanaman ini memang kuat terhadap hama, seperti tanaman liar,” kata Samsu.

Menurut situs http://www.kaskus.us, biji hanjeli mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin B1, asam amino, coixol, coixenolide, dan coicin. Secara farmakologis, biji hanjeli dapat memperkuat limfa dan paru-paru, meningkatkan daya tahan tubuh, peluruh kencing, antiradang, antitoksin, dan menyembuhkan bisul.

Biji hanjeli juga mampu mengganggu pertumbuhan sel kanker pada tingkat metafase. Di samping itu, bagian ini juga mampu meningkatkan fungsi korteks adrenal dan menambah imunitas sel serta fungsi hormonal.

Sumber: Kompas, Rabu, 12 Maret 2008

Comments

Leave a Reply