Interupsi di Saung Angklung Udjo
Posted on | December 4, 2009 | No Comments
Setiap hari suasana pertunjukan seperti itulah yang bisa ditemukan di Saung Angklung Udjo (SAU). Setiap hari selalu saja ada turis asing yang datang untuk menonton pertunjukan angkung. Tak hanya itu, mereka juga disuguhi suasana lembur Sunda. Dari mulai arsitektur ruang, kesenian, hingga cindera mata.
Sambil sesekali saling dorong, anak-anak itu berdiri manis berderet dengan pakaian tradisional Sunda. Masing-masing memegang angklung. Di belakang mereka berdiri beberapa anak lelaki dengan seperangkat alat musik, dari mulai arumba, angklung ricik hingga kontra-bas, dan kendang yang dimainkan serupa drum. Mereka membentuk sebuah ensemble.
Meskipun hari itu, Senin (23/4) penonton hanya terdiri dari lima atau enam orang turis asing, tapi mereka tetap tampil bersemangat. Puluhan angklung di tangan anak-anak yang munggil itu lalu bergerak, mengeluarkan bunyi indah yang saling bersahutan dan menjadi komposisi musik yang manis. Mengalirlah dari ensemble alat musik bambu itu berbagai lagu daerah Indonesia, bahkan juga lagu pop terkenal “I Have a Dream” yang membuat para turis asing itu ikut menyanyikannya. Para turis tampak menatap takjub melihat bagaimana anak-anak itu tampil, dan tetap sebagai anak-anak. Mereka saling mengganggu dan berbuat iseng.
Menyebut nama SAU adalah menyebut sebuah tempat yang menjadi objek wisata terkenal di Bandung. Terletak di Kelurahan Pasirluyu Kecamatan Padasuka, di tepi jalan yang selalu macet dan suasana kota yang gaduh, SAU tak ubah sebuah oasis. Dunia tersendiri yang berbeda di tengah sekelilingnya yang gaduh dan pengap. Penamaan “Saung” itu sendiri seolah sebuah interupsi di tengah arus kesibukan di sekelilingnya, atau bisa juga dibaca sebagai “perlawanan” terhadap arus kesibukan kota besar seperti Kota Bandung dengan bangunan-bangunan betonnya.
Dalam makna lain, seperti juga hakikat pariwisata, nuansa lembur Sunda di tengah hingar bingar kesibukan kota di sekelilingnya, SAU merupakan representasi dari dunia Simulakra, dunia dan realitas bayang-bayang tentang lembur Sunda.
Di aula yang cukup besar dan sejuk, para pengunjung tak hanya disuguhi berbagai pertunjukan musik angklung, wayang golek, tari topeng, atau kaulinan lembur lainnya. Namun mereka juga diajak berinteraksi untuk ikut memainkan angklung.
Tempat yang telah menampilkan angklung ke berbagai negara serta memperoleh berbagai penghargaan internasional ini—termasuk PATA Gold Award di Jeyu Korea Selatan (2004)—memang tak akan pernah lepas dari pendirinya, Udjo Ngalegena (1929-2001). Bersama istrinya, Uum Sumiyati, Udjo mulai merintis pendirian tempat ini tahun 1967. Konsep pendirian tempat ini lahir dari rasa kecintaan dan keinginan agar seni angklung sebagai musik tradisional Sunda bisa menjadi sebuah pertunjukan kesenian yang tak hanya menarik, mendidik, mudah, dan murah tapi juga bersifat misal dan meriah. Selain itu, satu hal yang patut dicatat atas keberadaan dan perkembangan SAU adalah keterlibatan penduduk sekelilingnya, dari mulai para pegawai, hingga anak-anak yang kerap tampil memainkan angklung. Anak-anak inilah yang sesungguhnya menjadi daya tarik pertunjukan di SAU. Mereka umumnya adalah penduduk sekitar SAU.
Terdapat kurang lebih 150 orang anggota pemain angklung yang dimiliki SAU. Menariknya, dari waktu ke waktu regenerasi pemain terjadi secara alamiah dan bisa disebut turun-temurun. Anak-anak itu umumnya adalah adik atau anak-anak dari generasi sebelumnya. Menurut taksiran Direktur SAU, Taufik Udjo, jika dihitung sejak tahun 1966 sampai sekarang, terdapat lebih dari 1.000 orang yang pernah menjadi pemain angklung di SAU.
“Proses kemampuan mereka bermain angklung sangat alamiah. Coba kita lihat, di sana ada ibu-ibu yang sedang menonton. Nah, mereka adalah ibu-ibunya para pemain atau tetangga dekat sini. Mereka menonton sambil membawa anak-anak kecil. Perlahan-lahan anak-anak tersebut akan tertarik dengan sendirinya. Dan pada umur tiga atau empat tahun, dia sudah bisa mengikuti kakaknya untuk tampil bermain angklung. Jadi tempat ini terbuka untuk semua penduduk untuk ikut dan sebetulnya kegiatan kamilah yang mengundang mereka datang ke sini,” papar Taufik Udjo. Menurutnya bagi anak-anak itu, SAU seolah telah menjadi rumah kedua bagi mereka. Di SAU mereka itu tak hanya tampil bermain angklung, tapi juga menjadi tempat bermain sehari-hari.
“Kami, anak-anak yang menjadi pemain, dan para pegawai hidup bersama-sama mengelola tempat ini dengan penuh rasa kekeluargaan serta kebersamaan. Ketika kondisi kami sedang prihatin, tanpa terkecuali kami semua prihatin. Yuk, kita senang dan lapar bersama-sama!” ungkap Taufik.
Adanya keterlibatan warga sekitar yang bahkan keterlibatan itu telah menjadi sebuah penanda dalam mengemas pertunjukan seperti yang diperlihatkan dalam penampilan anak-anak itu, agaknya telah membuat SAU tak hanya sekadar sebuah keterangan tempat. Namun juga memiliki pemaknaannya dalam hubungan seni tradisi dan masyarakat sekelilingnya. Bisa saja anak-anak itu bukanlah yang kelak diharap menjadi seniman angklung, tapi di tempat itulah dimulai persentuhan pengalaman mereka dengan seni tradisi. Sekaligus uniknya, persentuhan itu berlangsung di tengah hingar-bingar kota. Dan di mata seniman karawitan Nano S., apa yang dilakukan oleh SAU dengan melibatkan anak-anak haruslah dilihat dari bagaimana sebenarnya sedang terjadi proses keberlanjutan mata rantai seni tradisi.
**
SAU adalah jejak yang terus hidup sepeninggal Udjo Ngalagena dan istrinya. Denyut jejak mereka kini berada di tangan sembilan orang anak dan seorang cucunya, Ajeng Riswati, Sam Udjo, M. Riza Hamdani (putra alm. Udjo Nan Bahagia), Hj. Hetty Seniwati, Budi Asih, Yayan Mulyana, Agustina Septarina, Daeng Oktafiandi Udjo, Taufik Hidayat, dan Mutiara Deciana. Dalam manajemen pengelolaan SAU mereka saling berbagi tugas mengurusi berbagai lini, dari mulai pertunjukan, suvenir, dan administrasi keuangan. Namun demikian bukan berarti keluarga Udjo menjadi dominan, sebab di samping itu mereka juga menyerahkan sejumlah hal pada orang-orang yang profesional di bidangnya.
“Idealnya memang keluarga, tetapi kalau sudah sedemikian luasnya ruang lingkup kegiatan, akhirnya kami berpikir juga perlunya orang yang benar-benar kompeten untuk mengurus ini semua, dan keluarga ada tetap di dalam untuk menjaga misi dan visi yang diamanatkan dari Pak Udjo. Kami sadar, secara operasional harus diserahkan pada orang-orang yang ahli. Jadi saya pikir SAU itu tidak mesti didominasi hanya oleh darah daging Pak Udjo,” papar Taufik Udjo.
Melihat kembali ke belakang, Udjo Ngalegana seolah memang telah mempersiapkan anak-anaknya untuk menjaga terus denyut SAU. Bukan semata-mata dalam konteks pengelolaan sehingga tempat itu bisa terus didatangi oleh para turis, namun juga dalam hal mencintai seni tradisi. Taufik mengenang bagaimana ayahnya sangat otoriter dalam mendidik anak-anaknya. Jika beberapa yang lain lebih terkonsentrasi pada manajemen pengelolaan SAU, Daeng Oktafiandi Udjo merupakan anak yang mewarisi kemampuan ayahnya dalam mengeksplorasi seni angklung, bahkan anak-anaknya pun mulai memperlihatkan skill performance yang menjanjikan untuk menjadi generasi seterusnya dari trah Udjo Ngalagena.
Tentang generasi penerus inilah Taufik percaya bahwa setiap orang akan terbentuk oleh habitatnya. SAU sebagai sebuah habitat bagi generasi selanjutnya dalam trah Udjo Ngalagena dengan sendirinya akan membentuk mereka kembali ke seni tradisi. “Saya percaya, ketika orang sering melhat dan mendengar dalam kesehari-harian, maka akan semua akan terprogram dalam dirinya. Bisa jadi, misalnya, anak saya senang drum dan musik-musik modern, tapi saya yakin karena dia hidup di SAU suatu hari dia akan kembali ke habitat seni tradisi.”
Lepas dari soal itu, fenomena menarik dari SAU adalah keberadaannya sebagai sebuah ruang seni dan tempat seni tradisi, hadir sebagai tontonan yang komersil. Inilah yang membedakan SAU dengan ruang-ruang seni lainnya yang ada di Bandung. Seni tradisi menjadi komoditas yang dikemas sehingga hal itu bukan lagi sesuatu yang tidak punya nilai jual. Bagi sebagian kalangan yang berpikir romantik, “menjual” seni tradisi semacam ini seolah menjadi sesuatu yang tak lazim padahal dengan itulah seni tradisi bisa terus hidup dan diwariskan.
“Saya paling kesal kalau ada orang menggerutu dan mempertanyakan mengapa masuk dan nonton seni tradisi di SAU harus bayar. Saya merasa aneh, kenapa untuk nonton group band dari Barat atau minum di kafe mereka mau bayar berapa saja, tapi untuk menonton seni tradisinya sendiri mereka menggerutu?” kata Taufik.
Komersialisasi seni tradisi di tengah realitas hari ini agaknya telah menjadi keniscyaan. Bahwa kemudian itu dicemaskan akan membunuh roh seni tradisi, banyak soal harus diperdebatkan. Namun satu hal yang jelas, komersialisasi tidaklah lantas mudah dimaknai bahwa seni tradisi kemudian tak punya lagi harga diri. Justru sebaliknya pada batas-batas tertentu di situlah letaknya penghargaan terhadap seni tradisi.
Taufik Udjo menceritakan pernah ada serombongan turis dari Cina datang ke SAU. Mereka tidak menonton pertunjukan tapi malah main kartu di Guest House sambil tertawa-tawa. Ketika itu ayahnya yang masih hidup langsung mengusir mereka. Demikian pula dengan rombongan turis Eropa yang datang setelah pertunjukan, dan dengan seenaknya meminta agar pertunjukan diulang. Tentu saja Udjo Ngalagena menolak dengan tegas.
Dalam konteks SAU, inilah agaknya harga diri itu. Komersialisasi yang bukan berarti orang bisa memperlakukan ruang seni tradisi dengan seenaknya. Dan berbicara harga diri seni tradisi juga tidaklah melulu berurusan dengan komersialisasi. Harga diri seni tradisi, bagaimanapun, sangat bergantung pada bagaimana ia bisa bertahan di tengah masyarakatnya. Dan itu amat ditentukan oleh bagaimana seni tradisi dikelola dan dihidupkan bersama denyut masyarakat sekelilingnya. Keterlibatan masyarakat akan membuat seni tradisi itu tak hanya menjadi milik segelintir orang. Ia bahkan juga bisa dimiliki oleh anak-anak sebagai tempat di mana mereka memulai pengalaman dan menghayati seni yang menjadi akar budaya mereka. (Ahda Imran)
Sumber: Pikiran Rakyat, Senis, 30 April 2007.
_______________________________________
http://dunia-indah.blogspot.com
Comments
No Responses to “Interupsi di Saung Angklung Udjo”
Leave a Reply
June 24th, 2007 @ 6:11 am
Sudah saatnya pemerintah memperhatikan dan melindungi bukti sejarah danau bandung sehingga generasi yang akan datang masih bisa mengetahui dengan cara melihat langsung bukti sejarah tersebut.
Pemerintah pun harus memikirkan berjalannya pembangunan atau pengembangan usaha seharusnya tidak dibarengi dengan perusakan terhadap lingkungan alam.