Kota yang Merangsang Imajinasi
Posted on | November 27, 2007 | No Comments
Oleh JUNIARSO RIDWAN
SEBUAH tempat terpencil,dengan rimbunan pepohonan, ditingkah gemericik air sungai dan angin yang mendesir di sela-sela dedaunan; tampaknya akan menjadi lokasi yang barangkali sangat menyiksa dirinya. Ia lebih tertarik untuk berada di tengah keramaian kota, ingar-bingar aneka bunyi, dengan kondisi bangunan-bangunan rapat. Nalurinya akan tergerak, menyerap rintihan, sumpah-serapah warga kota atau gemuruhnya suara kendaraan bermotor. Di tengah kota yang berisik ia akan merenung, batinnya menjelajah relung-relung kehidupan masyarakat urban. Simak puisi yang berjudul “Bis Membawa Mereka Pergi” dari kumpulan “Kalung dari Teman”(1999) ini: Dengan bis yang asing, kami tinggalkan rumah-rumah tak berlistrik. Berangkat ke negeri-negeri baru, tumbuh di sepanjang jalan. Senja tertahan pada pendaran lampu-lampu neon. Orang hanya tinggal bayang-bayang berkelebat. Begitu saja anak-istri kami berdandan baju merah biru. Kami putar impian-impian Amerika, seperti makhluk-makhluk setiap saat sibuk mengubah diri// Kota seperti etalase dihuni jam weker yang buas di situ. Menangkapi ikan-ikan dari limbah industri. Lalu kami bersorak, kami bisa bekerja apa saja, mengangkat batu, memindahkan hutan dan sungai-sungai, atau mencuri. Tetapi siapakah kami, di antara tombol-tombol TV, menyentuh sunyi di tengah pasar.// Kalau kami telah pergi bersama embusan angin, tua dan kering, kami menetes pada setiap impian jadi manusia. Seperti daerah berbahaya yang terbuka, tanpa siapa pun bisa bicara lagi di situ.
Sepintas, dari penggalan-penggalan puisi itu bisa menangkap kilasan citra sebuah kota. Untuk memperhatikan kondisi sebuah kota, citra kota menjadi sangat menentukan dalam konteks perangcangan. Citra kota erat kaitannya dengan citra mental masyarakatnya. Seseorang bisa merasakan kenyamanan tinggal di sebuah kawasan kota, ia bisa memahami keberadaannya dengan identitas bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya; ia merasa memiliki hubungan emosional dengan lingkungan yang secara struktur memiliki kaitan satu dengan lainnya; dan selanjutnya ia merasakan sesuatu yang menggugah dirinya mengenai fungsi kehadiran objek-objek fisik yang menandai kehidupan sebuah kota (Lynch, 1969). Masyarakat dapat merasakan bagaimana perasaannya tinggal di sebuah kota, yang secara jelas memperlihatkan indikator-indikator indrawi berkaitan dengan aspek-aspek identitas, struktur, dan makna. Citra kota bagi penyair akan merangsang tumbuhnya imajinasi, menimbulkan inspirasi.
**
UNTUK menelisik citra sebuah kota, terdapat lima elemen yang harus dicermati, yakni: 1) path (jalur), adalah jaring sirkulasi bagi pergerakan manusia secara umum, yang bisa dijumpai berupa jalan, gang, lintasan rel kereta api, sempadan sungai dan sebagainya. Identitas jalur ini dinilai baik apabila memiliki tujuan yang menonjol seperti alun-alun, stasiun atau monumen, dan secara fisik memperlihatkan karakter yang kuat seperti adanya fasad, tegakan pohon atau tiang-tiang lampu; 2) edge (tepian) yang merupakan elemen linear, sebagai pembatas antara dua kawasan, misalnya berupa tembok atau jalur hijau; 3) district (kawasan) bisa dikatakan sebagai kawasan-kawasan kota dalam skala dua dimensi; yang dicirikan dengan kesamaan baik dalam bentuk, pola dan penampilannya; 4) Node (simpul) merupakan bidang pertemuan atau lingkaran dari pergerakan dari satu tempat ke tempat lain, misalnya persimpangan jalan, jembatan, taman dan sebagainya; 5) Landmark (tengeran), yang merupakan titik referensi sebagai elemen eksternal dan menonjol pada sebuah kawasan kota, misalnya gedung tinggi, menara, pohon besar, kubah masjid dan sebagainya. Keberadaan tengeran ini, bisa untuk suatu kawasan kecil, namun juga bisa untuk seluruh kota – yang bisa dilihat dari jarak jauh dan dari berbagai arah. Pada kenyataannya keseluruhan elemen citra kota tersebut memiliki keterkaitan satu dengan lainnya, yang memberikan sentuhan visual kehidupan kota.
Bagi sebuah kota apabila kaitan antara elemen itu terbangun harmonis dan secara fungsional tepat, dengan sendirinya akan memberikan rasa nyaman, namun sebaliknya akan menimbulkan kegundahan. Untuk mempersatukan keseluruhan elemen dalam rancang-bangun yang menarik, membutuhkan suatu kreativitas untuk mendukung terwujudnya keteraturan ikatan, namun tidak menimbulkan kejenuhan mental.
Keteraturan, keleluasaan, corak fisik yang asing, lingkungan sosial yang berjarak, iklim yang tidak seperti biasanya, ternyata suasana kota seperti itu mampu menimbulkan kerinduan yang begitu menggumpal. Imajinasi pun merambah menempuh jarak tak terbatas.
Soni Farid Maulana dalam puisi “Cafi de Flore Malam” (“Anak Kabut”, 2002) menulis seperti ini: Segelas coklat panas yang kupesan/Memang tidak cukup menghangatkan badan/ Lebih dari kenangan: lekuk tubuh Tiffanny/ Yang telanjang dalam play boy membayang lagi/ Dalam cekung ingatanku; yang dipeluk musim dingin// Mestinya saat seperti ini aku tidak jauh/ Dari sisimu, dipisah jarak dan bahasa. Angin/ Bersiutan di luar jendela. Cahaya bintang/ Tampak muram, lenyap, disapu kabut/ Di depanku satu dua orang datang dan pergi// Di situ aku tidak lebih dari sebutir batu/ Tergolek di dasar sungai Seine.
Sebagaimana dimaklumi, dimensi-dimensi imajinasi merupakan unsur penting dalam karya sastra, yang merupakan referensi rekaan yang menampung luapan energi untuk mencari daya ungkap baru. Dengan langkah terobosan menyajikan berbagai perubahan, perombakan, dan pengayaan makna secara terus-menerus. Kota yang dinamis, dengan sendirinya telah menyediakan berbagai kemungkinan, untuk tumbuhnya rangsangan imajinasi, untuk timbulnya dorongan bagi kepentingan penjelajahan mental. Sebuah kota yang dirancang secara kreatif, penuh inovasi, dengan visi yang cerdas, akan memberikan daya rangsang imajinasi yang kuat. Masyarakat akan merasakan suatu daya hidup yang bergelora, dengan suatu jalinan ikatan psikologis yang dipahami identitasnya, jelas fungsinya dan tepat arahnya. Seseorang bisa menyatakan, bahwa rumahku adalah kota dalam skala kecil, dan kota adalah rumahku dalam skala besar. Ketertiban yang sudah terbangun dari rumah, akan berdampak pada ketertiban sebuah kota. Kesemrawutan sebuah kota sangat boleh jadi merupakan pencerminan akumulasi dari kesemrawutan rumah-rumah yang membentuk sebuah kota.
CITRA kota telah menjadi sumber energi bagi tumbuhnya imajinasi para penyair. Untuk memotret kondisi sebuah kota, dengan mudah dapat dilacak dari puisi yang dilahirkan para penyair, baik yang pernah singgah atau berdiam di kota tersebut. Ada interaksi timbal balik antara penyair dan kota yang telah memberi sentuhan inspirasi atas puisi-puisi yang dilahirkannya. Dari sana kita bisa menakar ihwal kualitas citra sebuah kota.***
Penulis, penyair. Kepala Dinas Tata Kota Kota Bandung.
Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 09 Juli 2005
Baca Pula:
Menata Kota Kok Dari Puisi Sebatas Kartu Pos
Oleh SETIAJI PURNASATMOKO
Comments
Leave a Reply