Menapaki Ngarai Curug Cimahi
November 24, 2008 – 5:32 pmOleh Yulvianus Harjono
Mencari lokasi wisata alam yang indah, seru, tetapi mudah dijangkau dari Kota Bandung? Datanglah ke Curug Cimahi. Di sana ada air terjun alami setinggi 85 meter-salah satu yang tertinggi di Bandung dan sekitarnya yang menawarkan pesona flora dan fauna yang indah.
Memasuki gerbang Curug Cimahi yang sempit, pemandangan berupa ngarai yang luas dan tinggi bakal langsung menyita perhatian. Dari kejauhan, di sela-sela semak dan pepohonan cemara yang menjulang, Curug Cimahi berdiri angkuh membelah ngarai. Suara deru air sungai yang jatuh dari ketinggian terdengar sayup-sayup seolah menggoda pengunjung untuk mendekat.
Namun, jangan pernah menganggap sepele untuk bisa meraih dasar air terjun (curug). Di depan mata, terbentang 600 meter jalan setapak dengan 506 anak tangga ke bawah. Butuh waktu 15-20 menit untuk menuju ke dasar air terjun. Jalan menyusuri ngarai di Desa Kertawangi, Cisarua, Bandung Barat, ini cukup curam dan juga berkelok-kelok.
Semua jalan setapak dalam kondisi baik yang tersusun dari batu-batu kali yang tidak akan becek kala musim hujan. Namun, saat gerimis, Anda harus berhati-hati melangkah sebab bisa-bisa terpeleset dan terkilir, bahkan bisa terperosok ke jurang. Jalan setapak dengan lebar 1,2-2,5 meter ini betul-betul ada di pinggir jurang dan kadang hanya diberi batas pegangan kayu yang sering tak kuat menopang badan.
Di sepanjang perjalanan, jika beruntung, Anda akan menemui “pribumi” setempat, yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kawasan wisata ini merupakan salah satu tempat habitat satwa jenaka itu. Populasinya sekitar 100 ekor. Kera-kera liar ini biasa bersarang di pepohonan tinggi dan berdaun lebat. Sesekali mereka muncul di jalan setapak untuk memungut remah-remah makanan dari pengunjung.
Jika Anda termasuk penggemar burung-burung liar, tempat ini dapat memuaskan. Di ketinggian 600 meter dari dasar curug, persis di sebelah kanan aliran air terjun, Anda bisa menyaksikan burung-burung dari berbagai jenis, banyak di antaranya jalak dan ciung batu kecil (Myophonus glaucinus) yang bersarang di bebatuan terjal. Jumlahnya yang hanya puluhan ini hanya bisa diamati jika Anda membawa teropong.
Anda dituntut memiliki stamina kuat untuk bisa melewati jalan setapak yang curam ini, apalagi jika pulang dan harus menapakinya kembali. Usahakan membawa bekal ataupun baju ganti yang cukup selama perjalanan.
Tempat ini kerap dijadikan area joging penduduk setempat ataupun dari Bandung dan sekitar Cimahi. “Pemandangannya sangat indah. Rasa capai pun tidak terasa,” tutur Nunu Sumarna (52), warga Cimahi yang datang berkunjung ke tempat ini seminggu sekali.
Air cukup
Rasa lelah menuruni tangga akan lunas terbayar saat embun hasil percikan air terjun membasuh peluh di wajah. Siapa pun yang tiba di bawah bakal tidak kuasa menikmati air segar dan dingin dari curug dengan sekadar cuci tangan, membasuh kaki, ataupun mandi.
Lepaskan dahaga dan lapar dengan mencoba berbagai camilan, penganan, dan makanan yang dijajakan di berbagai warung sederhana yang tersedia di sekitar dasar air terjun ini. Jangan lupa mencicipi wajik bakar yang menjadi jajanan khas setempat.
Menurut Engkos Kosasih (51), tokoh setempat, jika dilihat dari atas, air terjun ini memiliki dua tingkat. Curug Cimahi ini termasuk yang unik.
Sesuai namanya, cimahi alias “air cukup”, debit air terjun ini selalu sama, baik saat musim hujan maupun kemarau. Namun, dibandingkan dengan puluhan tahun lalu, debitnya jauh berkurang. “Dahulu, tahun 1970-an, derasnya bisa lima kali lipat dari sekarang,” ujarnya.
Debit air yang mengalir ke Kota Cimahi ini dalam tiga dasawarsa terakhir makin berkurang karena eksploitasi air Sungai Cimahi untuk permukiman dan air PDAM di dua daerah sekaligus, yaitu Kabupaten dan Kota Bandung. Padahal, dahulu, saat percikan air sungai begitu deras dan terempas hingga berpuluh-puluh meter dari lokasi, biasa tercipta pelangi di daerah ini.
Sumber: Kompas, Sabtu, 22 November 2008.
Liha Pula:
Foto: www. lagulama.blogspot.com
