Mencicipi Bakso di Bandung
Posted on | December 17, 2007 | No Comments
Lis Dhaniati
Bakso adalah makanan yang nyaris bisa diterima di semua kalangan. Sangat mudah mencari warung bakso. Bahkan, dengan tinggal diam pun abang bakso akan datang menghampiri. Juga warung atau restoran bakso selalu didatangi penggemar. Begitu juga di Bandung.Berdasar penelusuran di internet, di Bandung ini ada lebih dari 150 warung maupun restoran bakso. Belum lagi di kota-kota lain,” kata pemilik bakso Lampu Merah, Yusdi Ghozali.
Tentu saja, jumlah itu belum termasuk warung dan penjual bakso di Bandung yang namanya tidak tercatat di internet. Toh, Yusdi yang termasuk pemain baru dalam dunia “perbaksoan” tidak gentar. Yusdi langsung tancap gas sesaat setelah mengawali usaha bakso sembilan bulan lalu.
“Sebelum memutuskan berjualan bakso, saya sudah survei. Bakso itu makanan yang tidak mengenal musim, usia, maupun jenis kelamin. Di mana-mana bakso bisa diterima,” kata alumnus Jurusan Teknik Kimia Universitas Bandung Raya ini. Namun, ia tahu betul, perlu ciri khas agar warung baksonya di kompleks pertokoan dekat Terminal Cicaheum dilirik orang.
Orang-orang seperti Yusdi inilah yang selalu mencari bentuk dan rasa baru makanan yang membuat Bandung lalu terkenal sebagai tempat mencari makan. Setiap kali orang dari luar Bandung kembali mengunjungi kota itu selalu ada makanan baru yang bisa dicoba di sana.
Bakso tomat
“Kebanyakan variasi bakso hanya telur dan urat. Bakso isi keju juga sudah ada, meski waktu itu belum terlalu banyak,” kata Yusdi. Ia pun terus berpikir sampai akhirnya menemukan ide pembuatan bakso tomat.
Ini bukan bakso yang dicampur tomat atau bakso yang diisi tomat. Sebaliknya, justru bakso yang “dibungkus” tomat. Untuk membuatnya, butiran tomat dipotong pada bagian pangkal. Lalu, isi tomat dikeluarkan dan diganti dengan bulatan bakso. Setelah itu, bakso direbus seperti biasa.
“Tomat tidak boleh terlalu matang atau terlalu muda. Dengan demikian, rasa khas tomat sudah ada, tetapi tekstur tomat tidak hancur karena direbus,” kata Yusdi. Ukuran tomat juga diseleksi. “Saya hanya menggunakan tomat dengan diameter sekitar empat sentimeter supaya besarnya seragam,” kata Yusdi.
Soal bumbu kuah, Yusdi mengaku tak menggunakan resep istimewa. “Seperti biasa saja, yakni bawang putih, merica, vetsin, dan garam, tetapi takarannya memang khusus. Itu sudah saya bakukan,” kata Yusdi.
Di warung Yusdi, bakso tomat bisa dinikmati dengan harga Rp 7.000. Kulit tomat memberikan rasa asam-manis yang khas. Rasanya berbeda dibandingkan dengan saus tomat botolan yang kebanyakan justru tidak berbahan dasar tomat. Setelah kulit tomat kita santap, bulatan bakso di dalamnya bisa kita lahap. Menjamin baksonya bebas boraks dan formalin, Yusdi menyajikan bakso yang tak terlalu kenyal. Sebaliknya juga tak terlalu lunak.
Ia menjagokan bakso tomat sebagai menu andalan. Namun, warungnya juga menyediakan bakso isi telur, urat, keju, sumsum, dan daging cincang. Bagi yang ingin mencicipi semua varian, bisa memesan menu bakso spesial. Isinya terdiri dari bakso tomat, keju, dan telur dilengkapi selembar pangsit kering. Kisaran harga beragam dari Rp 7.000 hingga Rp 11.000.
Untuk urusan kuah, Yusdi memadukan kuah bakso malang yang bening dengan bakso solo yang cenderung berlemak. Setelah makan bakso, pengunjung bisa menikmati sop buah dan aneka jus buah.
Keyakinan dan keseriusan Yusdi mengelola usaha bakso sudah menunjukkan hasil. Baru sembilan bulan berdiri, warung bakso Lampu Merah sudah memiliki lima cabang yang terletak di Bandung dan Cimahi.
Variasi bentuk
Berbeda dengan Yusdi yang bermain pada variasi bahan, Taufik Faturahman senang berinovasi pada bentuk bakso. Di warung mungilnya yang bersih di Jalan Setiabudi di depan Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Taufik menyediakan menu bakso kotak dan bakso goreng.
“Kalau tahu bisa bulat, mengapa bakso tidak bisa kotak,” kata Taufik yang sebentar lagi akan menyediakan bakso berbentuk hati lambang cinta.
Ia mengaku menggunakan resep bakso dari Gunung Pereng, Tasikmalaya. “Pada dasarnya saya senang masak. Meski punya karyawan, saya tetap mengawasi proses pembuatannya,” kata Taufik.
Untuk urusan daging, Taufik selalu menggunakan sapi yang berasal dari Jawa Timur. “Tekstur sapi dari sana bagus untuk bakso. Itu pun harus diolah dalam keadaan segar. Kalau disimpan dulu, misalnya dibekukan, tekstur bakso kurang bagus,” kata Taufik.
Sedangkan bakso bakar disajikan dengan cara ditusuk sehingga menyerupai sate. Selain dilumuri kecap, bakso bakar ini disajikan dengan bumbu kacang dan acar mentimun. Semangkuk kuah panas bening yang ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng disajikan sebagai pelengkap.
Di luar dua tempat itu, tempat makan bakso yang tidak permanen pun banyak penggemarnya. Terbukti bakso Anggrek—terletak di Jalan Anggrek—selalu didatangi penggemar. Meski merupakan warung tenda, penjual bakso Anggrek, Siswo Miharjo (54), tetap mengutamakan kebersihan.
Setiap hari, Siswo yang asal Sukoharjo, Jawa Tengah, ini membutuhkan 40-50 kg daging sapi. Pada hari libur, kebutuhan daging sapi bisa meningkat hingga 65 kg. Bakso Anggrek tetap digemari meski tidak menyediakan banyak variasi, selain bakso urat dan isi daging cincang dicampur hati ayam.
“Soal bakso, di berbagai warung mungkin tidak jauh berbeda. Tetapi, rasa kuah pasti lain-lain,” kata Siswo.
Siswo mengaku tak menggunakan jenis bumbu bakso standar. “Sama saja dengan yang lainnya. Takarannya yang bikin beda. Tetapi, itu rahasia,” kata Siswo. Semangkuk bakso yang disajikan dengan irisan daun seledri dan irisan bawang goreng dijualnya dengan kisaran harga Rp 6.500-Rp 10.500.
Sumber: Kompas, Minggu, 25 November 2007
Comments
No Responses to “Mencicipi Bakso di Bandung”
Leave a Reply
June 13th, 2008 @ 9:29 am
wah, makasih nih kang dieny & yusuf, tulisan saya ikutan dimasukin di blog anda. Salam…
November 3rd, 2008 @ 3:13 am
Ass wr.wb.
Meskipun saya keturunan keluarga Sunda, tapi tak pandai berbahasa Sunda. Meskipun demikian saya cinta kesenian Sunda
khususnya Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, karena selalu teringat pd ayah-ibu saya saat saya maih kecil, suka diajak nonton pertunjukan Miss Tjitjih di Kramat Raya. Terakhir waktu masih bujangan saya masih sempat sekali nonton Miss Tjitjih di Jl Angke. Kemudian sejak gedungnya dipindah ke lokasi lain, saya jadi kehilangan informasi samasekali tentang keberadaan Miss Tjitjih. Mailis ini baru saya kirim setelah mendpt info dari internet.
May 25th, 2009 @ 8:44 pm
saya adalah slah satu cucu Almrhm bafagih…
saya kecewa dengan kinerja pemerintah sekarang.
Miss TjiTjih sekarang berbeda dengan Miss TjiTjih dahulu
sekarang pentas saja sudah susah.Tidak seperti dulu
Saya sendiri perihatin dengan keadaan Miss TjiTjih sekarang