Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat
Posted on | December 3, 2007 | No Comments
Oleh: Dieny FerbiantyA.1 Pengertian Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat
A.1.1 Pengertian Pariwisata Perkotaan
Pengertian Pariwisata dan Pengertian Perkotaan
Sebelum membahas mengenai pariwisata perkotaan, ada baiknya jika kita menengok definisi Pariwisata dan Perkotaan.
Istilah Pariwisata konon untuk pertama kali digunakan oleh mendiang Presiden Soekarno, sebagai padanan dari istilah asing “Tourism”. Pariwisata menurut R.G Soekadijo (1995:2) adalah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Sementara itu, A.J Burkat dan S. Medik dalam Tourism, Past, Present & Future mendefinisikan pariwisata sebagai perpindahan orang untuk sementara (dan) dalam jangkauan waktu pendek ke tujuan–tujuan di luar tempat mereka biasa hidup dan bekerja, dan kegiatan– kegiatan mereka selama di tempat tujuan itu. (Soekadijo : 1995). Pariwisata juga diartikan sebagai berbagai bentuk kegiatan wisata yang diwujudkan dalam berbagai macam kegiatan yang dilakukan wisatawan, yang didukung berbagai fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha dan pemerintah (Senarai Kata Kumpulan Bahan Kuliah Pariwisata, 2007). Dapat kita simpulkan dari berbagai definisi tadi bahwa Pariwisata adalah: Serangkaian kegiatan wisatawan yang dilakukan di luar tempat ia hidup dan bekerja, bersifat sementara, yang didukung berbagai fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha dan pemerintah.
Pengertian Perkotaan berdasarkan UU No 24/1992 adalah: kawasan yang mempunyai kegiatan ekonomi utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Pengertian Pariwisata Perkotaan
Pariwisata Perkotaan merupakan salah satu bentuk wisata yang memanfaatkan fasilitas perkotaan yang memberikan suatu pengalaman bagi wisatawan karena atribut yang dimiliki oleh kota tersebut,seperti:
-
Peninggalan gedung-gedung bersejarah seperti : musium, rumah tinggal orang terkenal, gedung pemerintah dan swasta.
-
Lokasi dan posisi geografis yang menarik.
-
Perbelanjaan, tempat makan minum dengan berbagai gaya dan selera yang memberikan kesan prestisius bagi pencari identitas.
-
Tempat berlangsungnya peristiwa menarik: Olimpiade, grand prixx, festival (Hilman Purwakusuma, Pikiran Rakyat,10 November 2006)
Konsep Pariwisata Perkotaan muncul sebagai usaha untuk menjawab pertanyaan mengapa wisatawan mengunjungi suatu daerah tertentu. Beberapa alasan tentang mengapa kota menjadi salah satu daerah tujuan wisata, sehingga muncul istilah pariwisata perkotaan, dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:
-
Kota menjadi salah satu daerah tujuan wisata karena adanya 4 faktor pendorong menuju ke hal tersebut. Empat faktor pendorong itu adalah: Kemunduran aktifitas manufaktur, kebutuhan menciptakan aktivitas perekonomian baru dalam upaya menanggulangi tingginya angka pengangguran, adanya persepsi bahwa pariwisata sebagai industri yang sedang tumbuh, adanya harapan bahwa pariwisata akan menghasilkan regenerasi dan revitalisasi kota. (Law dalam: Urban Tourism in Bandung, Pariwisata berbagai Aspek dan Gagasan Pembangunan, 109:1997).
-
Adanya fungsi kota yang pada awalnya diperuntukkan bagi masyarakat lokal yang tinggal di kota tersebut. Fungsi –fungsi kota ini kebanyakan dilihat dari tujuan awal didirikan kota tersebut. Fungsi – fungsi kota antara lain adalah: pusat perbelanjaan, olahraga, kesehatan, konvensi, transportasi, budaya, media massa, akomodasi dan restoran (Noviendi Makalam, RIPPDA Kota Bandung ,2006).
-
Kota merupakan tempat terkonsentrasikannya fasilitas dan atraksi yang sesuai dengan keinginan para wisatawan. Kota juga merupakan tempat terkonsentrasikannya penduduk, tempat aktifitas ekonomi yang menyediakan produksi sekaligus konsumsi barang & jasa. Faktor lain yang mendorong Kota menjadi daerah tujuan wisata adalah: kota merupakan pusat dari beragamnya kebudayaan dan aktifitas sosial, dimana penduduk terlibat, menawarkan hiburan, wisata, dan tempat pertemuan, bandara dan pusat konferensi yang dibutuhkan para wisatawan (Shaw & Williams dalam Pariwisata Indonesia berbagai Aspek & Gagasan,P2Par ITB,hal 110:1997).
-
Kota merupakan pintu gerbang keluar masuk sebuah daerah. Ketika seseorang melakukan perjalanan, pastilah ia akan melewati, bahkan singgah di suatu kota. Jika kita urut pola perjalanan kita menuju sebuah tujuan, kita bisa melihat kota sebagai simpul-simpul dalam sebuah perjalanan.
-
Adanya motivasi wisatawan untuk mencari sesuatu yang baru, pendidikan, untuk kesenangan, relaksasi, tertarik akan arsitektur kota, interaksi sosial, merasakan suasana baru. (Van Het Riet 1995 dalam “Urban Tourism in Bandung”).
-
Sementara itu Jansen Verbeke (1986) menyebutkan motif yang biasanya muncul ketika wisatawan berkunjung ke suatu tempat termasuk kota adalah mengunjungi keluarga dan teman, perjalanan bisnis, pendidikan, mengunjungi tempat-tempat budaya dan sejarah, motif keagamaan, berbelanja.
Dari pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa secara garis besar ada 2 faktor utama yang mendorong terciptanya wisata perkotaan, terutama di negara-negara berkembang, yaitu:
-
Faktor dari luar ; berupa dorongan dari masyakat/pemerintah untuk mengembangkan wisata di wilayah perkotaan, yaitu ;
-
Kemunduran aktifitas manufaktur, pariwisata dianggap sebagai katalisator pembangunan, menjadi alternatif baru setelah mundurnya industri manufaktur.
-
Kebutuhan menciptakan aktivitas perekonomian baru dalam upaya menanggulangi tingginya angka pengangguran, pariwisata dianggap potensial untuk mengurangi angka pengangguran di kota, yang antara lain dipicu oleh urbanisasi.
-
Adanya persepsi bahwa pariwisata sebagai industri yang sedang tumbuh, pariwisata dianggap sebagai katalisator pembangunan, yang dapat memicu pembangunan infrastruktur-infrastruktur baru kota. Adanya harapan bahwa pariwisata akan menghasilkan regenerasi dan revitalisasi kota sekaligus perlindungan terhadap gedung-gedung/tempat bersejarah kota.
-
Adanya motivasi wisatawan untuk mencari sesuatu yang baru.
2. Faktor dari dalam :
-
Adanya fungsi kota sebagai pusat perbelanjaan, kesehatan, konvensi, transportasi, budaya, media massa, akomodasi dan restoran.
-
Kota sebagai tempat terkonsentrasikannya penduduk, sehingga menarik wisatawan yang ingin mengunjungi keluarga/rekannya.
-
Tempat terkonsentrasikannya fasilitas dan atraksi yang sesuai dengan keinginan para wisatawan.
-
Pintu gerbang keluar masuk sebuah daerah, yang didukung oleh sarana transpotasi yang memadai.
-
Kota sebagai simbol sebuah negara, sehingga jika ingin mengunjungi suatu negara, dianggap cukup jika sudah mengunjungi kotanya.
A.A.2 Pengertian Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat
Pariwisata perkotaan bertumpu masyarakat dan paradigma baru pembangunan
Konsep Pembangunan bertumpu masyarakat ini muncul ke permukaan sekitar dekade 1970-an, begitu juga halnya dengan isu pembangunan kepariwisataan berbasis masyarakat pun muncul sebagai antitesis dari pola pembangunan sebelumnya yang berupa top down planning, dimana peran masyarakat adalah sebagai objek pembangunan dan pelaksana program yang telah dirancang sebelumnya oleh pemerintah. Kalaupun ada. isu pemberdayaan yang digulirkan lebih kepada mobilisasi masyarakat dalam memanfaatkan sumber yang datang dari atas untuk kepentingan politik tertentu sementara itu, pada saat yang bersamaan kurang memberikan peluang bagi pertumbuhan dan perkembangan inisiatif masyarakat.
Pada dasarnya pariwisata perkotaan yang bertumpu pada masyarakat berbeda dengan pariwisata pedesaan, karena pariwisata perkotaan mempunyai karakter dan ciri khas yang tidak dimiliki oleh pariwisata pedesaan. Dalam pariwisata perkotaan berbagai bentuk atau model wisata dapat diperoleh oleh wisatawan, tidak seperti pariwisata pedesaan yang lebih menonjolkan pariwisata alam dan pariwisata budaya.
Pariwisata perkotaan terutama di negara-negara berkembang, merupakan salah satu pemicu pembangunan kota. Gedung-gedung dan tempat bersejarah kota banyak dibangun/ditata kembali, begitu juga atraksi budaya untuk kepentingan pariwisata. Yang harus diperhatikan dalam pembangunan pariwisata perkotaan adalah bahwa pariwisata seharusnya dijadikan sebagai bagian dari usaha untuk melindungi aset sejarah kota dan namun di sisi lain perlu diperhatikan juga bahwa pariwisata bisa menjadi pemicu semakin meningkatnya arus urbanisasi kota. Pariwisata perkotaan yang bertumpu masyarakat, sering diharapkan menjadi solusi dari berkembangnya masalah-masalah sosial dan ekonomi akibat urbanisasi ini.
Dalam pariwisata perkotaan yang bertumpu pada masyarakat, masyarakat harus dijadikan pelaku dan objek kegiatan bukan pengusaha dan pemerintah karena masyarakatlah yang harus mengembangkan potensi diri mereka, pemerintah dan pengusaha hanya menjadi fasilitator saja. Jadi rakyat adalah sebagai tujuan dari pembangunan , rakyat sebagai kekuatan dasar sedangkan pemerintah dan pengusaha sebagai kekuatan inti.
Prinsip-Prinsip Pokok Pariwisata Perkotaan Bertumpu Pada Masyarakat:
-
Menumbuhkan kecintaan penduduk setempat dan wisatawan terhadap budaya, tradisi dan lingkungan setempat.
-
Turut aktif melestarikan budaya, tradisi dan lingkungan setempat.
-
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, mengurangi angka pengangguran diantaranya akibat urbanisasi kota.
-
Memberdayakan masyarakat setempat
Dari prinsip-prinsip di atas dapat disimpulkan bahwa pariwisata perkotaan berbasis masyarakat harus memusatkan kegiatan pada rakyat, rakyat/masyarakat sebagai sentral dari semua kegiatan pariwisata dari mulai tahap perencanaan sampai pelaksanaan.
Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat dan Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan di Indonesia
Kebijakan pokok pembangunan kepariwisataan di Indonesia adalah:
-
Kepariwisataan meningkatkan pemerataan kesejahteraan dan martabat masyarakat.
-
Kepariwisataan dengan main stream berbasis masyarakat, berwawasan budaya dan berkelanjutan.
-
Kepariwisataan untuk menegakkan kebebasan, kemandirian, keutuhan bangsa dan wilayah.
Konsep pariwisata perkotaan bertumpu masyarakat, termasuk salah satu dokumen kebijakan pembangunan di Indonesia, yang berarti bahwa:
-
Masyarakat adalah pelaku pembangunan kepariwisataan.
-
Masyarakat adalah tujuan pembangunan.
-
Masyarakat adalah kekuatan dasar.
Dengan kata lain kepariwisataan bertumpu masyarakat adalah kepariwisataan dari, oleh dan untuk masyarakat (Drs I Gede Ardike Pembangunan Kepariwisataan Berwawasan Budaya, makalah disampaikan pada pelatihan Kepariwisataan P2PAR ITB, 2007)
Pariwisata perkotaan memerlukan perencanaan yang sangat matang, mengingat fakta bahwa dalam wisata jenis ini, wisatawan dan penduduk kota mempergunakan fasilitas di tempat yang sama, disinilah pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pembangunan pariwisata di suatu kota.
Potensi insani masyarakat kota yang relatif lebih tinggi daripada masyarakat desa, bisa menjadi faktor pendorong yang baik dalam pembangunan pariwisata perkotaan, sehingga dalam perkembangannya, pariwisata perkotaan muncul tanpa adanya dorongan dari pemerintah setempat.
Partisipasi sebagai alat dalam pembangunan parwisata bertumpu masyarakat
Dalam pembangunan kepariwisataan, seperti juga perencanaan pembangunan lainnya, diperlukan perencanaan yang dapat memaksimalkan manfaat pariwisata bagi suatu daerah dan mengurangi persoalan-persoalan yang muncul sebagai akibat dari pembangunan.
Dalam proses perencanaan,peran serta masyarakat / partisipasi, menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan pariwisata di suatu daerah.Partisipasi atau peran serta masyarakat merupakan alat dalam pembangunan pariwisata bertumpu masyarakat. Karakteristik utama dari pembangunan pariwisata berbasis masyarakat adalah adanya keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan , penggunaan pengetahuan, produk dan teknologi lokal, memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, serta adanya manjemen lokal atas proses dan kegiatan pariwisata (Mandke dan Jamieson 2001 dalam Laporan Kemajuan Kegiatan Penelitian). Partisipasi juga adalah salah satu prinsip yang harus dijalankan dalam pembangunan kepariwisataan berkelanjutan selain: keterlibatan para pemangku kepentingan, adanya rasa memiliki dari masyarakat setempat terhadap program pembangunan, terpeliharanya sumber daya bagi generasi selanjutnya.
Tentu saja ada beberapa elemen yang harus diperhatikan dalam rencana kepariwisataan kota di suatu tempat. Elemen-elemen suatu rencana kepariwisataan di perkotaan menurut Page (1995) dalam Pariwisata Indonesia berbagai Aspek dan Gagasan Pembangunan hal 47, yaitu :
1. Lingkungan alam dan sosial ekonomi
2. Daya tarik dan kegiatan – kegiatan wisata
3. Akomodasi
4. Transportasi
5. Elemen – elemen kelembagaan
6. Prasarana lain
7. Fasilitas , utilitas dan pelayanan wisata lainnya.
8. Pasar wisata domestik dan internasional
9. Penggunaan prasarana wisata oleh penduduk setempat.
A.2 Masalah–Masalah yang Muncul dalam Pengembangan Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat dan Pemecahannya.
A.2.1 Masalah yang muncul dalam Pengembangan Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat.
Usaha Pengembangan pariwisata yang bertumpu pada masyarakat mengalami
beberapa kesulitan. Menurut Woodley (Nelson Butler and Wall, 1993: 142) dalam Laporan Kemajuan Penelitian Perguruan Tinggi II-9, terdapat beberapa keterbatasan dalam pengembangan pariwisata antara lain:
-
Keterbatasan Visi; dalam banyak kasus, inisiatif pengembangan lebih banyak berasal dari pihak swasta / pemerintah, dan jarang sekali berawal dari masyarakat. Dengan latar belakang ini, keuntungan dari adanya visi keseluruhan tentang masa depan masyarakat dan efek kumulatif pengembangan tidak dapt diraih secara optimal. Masyarakat tidak ditanya untuk mengindikasikan dukungan mereka dalam konsep pembangunan pariwisata.
-
Keterbatasan Perhatian & Kesadaran terhadap Pariwisata; bagi penduduk lokal untuk dapat berpartisipasi secara efektif dalam perencanaan pariwisata untuk menentukan masa depan mereka, harus memiliki tingkat kesadaran serta modal usaha agar dapat mengembangkan industri pariwisata yang sukses.
-
Keterbatasan Pelatihan dan Penyuluhan; sumber daya terlatih bisa menjadi jaminan bahwa manfaat pembangunan pariwisata dapat diserap oleh masyarakat lokal. Pelatihan dan penyuluhan bagi masyarakat lokal harus diintegrasikan dalam proses perencanaan , sejak awal tahap pengembangan. Tanpa adanya pelatihan bagi tenaga kerja lokal, maka industri pariwisata hanya dapt berfungsi dengan menggunakan tenaga dari luar daerah, yang menyebabkan tersingkirnya manfaat pengembangan pariwisata bagi penduduk lokal.
-
Batasan Budaya; hambatan komunikasi antara tuan rumah dan pendatang / wisatawan tidak dapat dihindari. Di beberapa kasus , wisatawan datang dengan ekspektasi tertentu mengenai kualitas pelayanan dan fasilitas yang disediakan, sementara penduduk tidak terbiasa dengan tuntutan seperti itu. Hal ini dapt menyebabkan friksi dan akan berlanjut pada ketidak puasan wisatawan. Batasan budaya ini juga dapt terjadi antara pihak perencana dan penduduk lokal, yang berimplikasi pada komunikasi yang tidak lancar antara kedua pihak. Akibatnya partisipasi penduduk lokal menjadi terbatas. Keterbatasan waktu perencana untuk bergaul dan menyerap aspirasi masyarakat menyebabkan pembagunan yang bertumpu masyarakat menjadi terlewatkan.
-
Perbedaan Kebutuhan Waktu Perencanaan; proses perencanaan yang terbentur pada kerangka waktu yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sesuai agenda waktu/anggaran menyebabkan pendekatan berfokuspada masyarakat menjadi terhambat. Seharusnya proses perencanaan menyediakan waktu yang lebih panjang untuk menyerap aspirasi masyarakat.
-
Keterbatasan Modal Investasi Dalam Masyarakat; satu dari faktor yang paling signifikan dari pengembangan pariwisata adalah kepemilikan dan investasi. Di banyak kasus, pembiayaan pengembangan pariwisata tidak berasal dari masyarakat tetapi datang dari pihak luar yang mempunyai kepentingan, bail itu swasta atau pemerintah. Hilangnya Kontrol terhadap pengembangan pariwisata yang disebabkan oleh investasi dari luar menjadi sulit teratasi.
A.2.2 Pemecahan Masalah Pengembangan Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat.
Sesungguhnya ada banyak sekali metode beserta tool/teknik-teknik yang dapat diterapkan dalam upaya pemecahan masalah pengembangan pariwisata, yang penerapannya dapat dikombinasikan, disesuaikan dengan kondisi lapangan perkotaan.
Tool – tool tersebut membantu masyarakat perkotaan khususnya, bersiap dalam upaya pembangunan pariwisata di daerahnya. Hal yang paling penting yang harus diperhatikan dalam tool–tool tersebut adalah bahwa tool–tool tersebut menjamin keterlibatan masyarakat secara terus–menerus dalam pembangunan pariwisata. Harus diperhatikan, bahwa pada setiap tahap proses penyadaran dan pendidikan masyarakat merupakan elemen penting, sehingga masyarakat tetap tertarik, mendukung pembangunan yang dilaksanakan, dan membuat mereka siap untuk mengambil keuntungan dari kesempatan yang tercipta.
Penulis akan mencoba menerapkan tool – tool yang telah dibahas dalm bab–bab sebelumnya, dikaitkan dengan masalah–masalah yang muncul dalam pembangunan pariwisata perkotaan, seperti yang telah diungkapkan dalam sub bab A2.1, berikut uraiannya:
1. Masalah keterbatasan Visi: Dalam Participatory Urban Appraisal (PUA) terdapat City Consultation (CC), CC ini memfasilitasi penyebaran informasi yang bersifat bottom up process, sehingga hambatan keterbatasan visi; bahwa masyarakat tidak ditanya untuk mengindikasikan dukungan mereka bisa teratasi. Tool Carousel (APPA) dan PRA bisa menangani masalah ini. Salah satu tahapan dalam Carousel, yaitu: mengumpulkan gagasan, dan metodenya yang dapat melibatkan banyak orang, memungkinkan orang saling berbagi visi. Begitu juga dengan permainan dan PRA .
2. Keterbatasan perhatian / kesadaran terhadap pariwisata: Dalam PUA terdapat tool Action Planning (AP), tingkat kesadaran masyarakat dapat diatasi mengingat didalamnya terindikasi mengenai siapa yang akan mengerjakan, bagaimana, kapan, apa yang akan dikerjakan. Jika dipadukan dengan Teknik Carousel yang membawa enegi dalam diskusi, Tool permainan yang tidak membosankan dan PRA , yang memungkinkan pembelajaran antara pihak yang berkepentingan tentunya akan lebih menarik. Bantuan modal usaha melaui Demonstration Project Planning dalam PUA dapat mengatasi kesulitan masyarakat dalam permodalan.
3. Keterbatasan pelatihan dan penyuluhan: Pelatihan dan penyuluhan melaui fasilitasi PUA antara lain dengan dibentuknya masyarakat dalam kelompok kecil, menggunakan sistem kartu untuk mengumpulkan ide, menbangun konsensus bersama dll. Adanya team work dalam PRA yang terdiri dari pria waniata dalam berbagai disiplin ilmu, memungkinkan keterbatasan pelatihan dan penyuluhan dapat teratasi terutama dari segi sumber daya. Tool permainan juga dapat digunakan sehingga tidak membosankan.
4. Batasan Budaya: Hambatan komunikasi bisa dicairkan melalui permainan (antara fasilitator–masyarakat). Jika ada hambatan komunikasi antara wisatawan–masyarakat hal itu bisa Vulnerability Assesment dan Conflict Resolution PUA, disini dibahas kelemahan, kekuatan, pencegahan atas bahaya yang mungkin timbul, termasuk masalah yang mungkin muncul karena perbedaan budaya.
5. Perbedaan Kebutuhan Waktu Perencanaan: Action Planning PUA: aktivitas, biaya dan sumber daya lain dikoordinasikan dalam waktu tertentu, dan konfirmasi komitmen. Dengan membuat diagram venn (PRA), dapat diketahui siapa saja yang berkepentingan, kemudian, dengan metode Orid ( Tahap Decisional ) Pertanyaan ditujukan menyangkut langkah, penyelesaian, komitmen setiap pemangku kepentingan di masa depan. Sehingga perbedaan waktu tersebut dapat diatasi
6. Keterbatasan Modal investasi dalam masyarakat: Hilangnya kontrol terhadap pengembangan pariwisata yang disebabkan investasi dari luar bisa ditanggulangi jika kontrol tersebut diambil oleh pihak luar, bisa LSM, atau pihak pemerintah. Untuk mengidentifikasi mana pihak luar, mana pihak dalam, mana pihak yang berada diantaranya, bisa ditampilkan melaui diagram Venn (PRA) atau Stakeholder Analysis (PUA).
B. Contoh-contoh Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat Di Indonesia
Contoh Pariwisata Perkotaan yang akan dibahas disini adalah Pariwisata Perkotaan yang ada di Kota Bandung, Jakarta Pusat dan Jogjakarta.
B.1 Pariwisata Perkotaan di Kota Bandung.
B.1.1 Pondok Pesantren Daarut Tauhid.
Berdasarkan Strategi Pengembangan RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) Kota Bandung Tahun 2006, produk wisata Kota Bandung diarahkan untuk memiliki karakter “Urban Heritage Tourism” dengan lingkungan yang sejuk, hijau dan berbunga. Dalam strategi pengembangan tersebut, produk wisata Kota Bandung dikelompokkan dan diberi tema. Pondok Pesantren Daarut Tauhid, termasuk salah satu Kantong Kawasan Wisata Gegerkalong–Setiabudi dengan tema: Bandung Specialized Tourist Site (Pilgrimag–Education). Atraksi Wisata yang tersedia di wilayah ini adalah: Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Institusi Pendidikan, Isola, factory outlet, restoran dan cafe. Adapun aktivitas wisata yang tersedia: Wisata religi, pendidikan, belanja.
Pesantren Daarut Tauhid adalah fenomena pesantren maju di Indonesia. Pesantren yang berlokasi di kelurahan Isola, kecamatan Sukasari, Geger Kalong Bandung, didirikan pada tahun 1990. Pada awalnya hanya merupakan kegiatan pengajian dan wirausaha yang dilakukan Abdullah Gymnastiar dan Kelompok Mahasiswa IslamWirausaha.
Dalam konteks wilayah kota Bandung, kawasan Geger Kalong tempat dimana pesantren Darut Tauhid ini berada, mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kawasan ini pada tahun 1980 an dikenal sebagai tempat premanisme, perjudian dan mabuk-mabukan. Kini kawasan tersebut mengalami perkembangan dari segi ekonomi, lingkungan, maupun akhlak masyarakat. Pondok pesantren Darut Tauhid juga menjadi tujuan wisata religi di Bandung. Pesantren ini mempunyai Departemen Pariwisata sendiri yang menyelenggarakan paket-paket wisata baik yang berupa paket wisata dalam pesantren ataupun paket tur dalam kota, juga menyediakan cottage yang bisa menampung 100 wisatawan. Mereka juga menjalin kerjasama dengan warga sekitar pesantren yang bersedia menyewakan rumahnya dengan sistem bagi hasil keuntungan. Masyarakat sekitar juga diuntungkan melalui penjualan berbagai cindera mata ataupun kebutuhan sehari-hari yang meningkat karena adanya kegiatan wisata di daerah tersebut. Setiap tahun diperkirakan sedikitnya ada 35000 wisatawan mancanegara, dan 15000 wisatawan domestik yang mengunjungi kawasan pesantren Daarut Tauhid.
Dalam pengembangan daerah tersebut menjadi kawasan wisata tidak ada konflik yang terjadi dengan masyarakat sekitar. Adapun masalah yang timbul adalah masalah aksesibilitas/ jalan yang menuju kawasan tersebut yang belum sesuai dengan keadaan wilayahnya yang telah tumbuh menjadi kawasan wisata. Dukungan pemerintah dalam pengadaan sarana dan prasarana sangatlah dibutuhkan, agar lingkungan ini menjadi lingkungan wisata yang nyaman.
B.1.2 Pengembangan Lima Kawasan Wisata Sentra produk yang bertumpu masyarakat di Kota Bandung
Di Kota Bandung terdapat potensi pariwisata lain yang bertumpu pada masyarakat selain Daarut Tauhid. Potensi masyarakat berkembang secara mandiri dan masyarakat menjadi tumpuan dalam pengembangan pariwisata daerah tersebut. Ada 5 kawasan yang dikembangkan di Kota Bandung sebagai Pariwisata Perkotaan Bertumpu pada Masyarakat, yaitu :
1. Industri sepatu Cibaduyut
Disini diproduksi sepatu yang dikelola dan di desain oleh masyarakat lokal, dalam perkembangannnya produk industri sepatu Cibaduyut sudah menjangkau di seluruh Indonesia dan beberapa Negara di luar, terutama Asia dan Afrika.
2. Industri Jeans di Jl. Cihampelas
Toko-toko Jeans Jl. Cihampelas adalah salah objek wisata yang menjadi unggulan di Kota Bandung, berada di pusat Kota Bandung, dimana dalam menarik wisatawan konsep konsep display toko di Jl. Cihampelas mempunyai keunikan masing-masing. Untuk lebih menggairahkan daerah tersebut pemerintah kota Bandung dibantu dengan para pengusaha baik lokal maupun luar membangun kawasan Ci-Walk.
3. Kain Rajut Binong
Kawasan ini baru dalam tahap pembangunan baik sarana dan prasarana, dan juga mulai dilakukan promosi untuk memperkenalkan daerah wisata tersebut.
4. Industri Kain Cigondewah
Kawasan ini sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil kain dengan harga yang murah. Mulai dilakukan penataan dalam perkembangannya, dan juga pembangunan infrastruktur agar akses ke daerah tersebut mudah dijangkau oleh wisatawan.
5. Industri Kaos dan Sablon Jl. Suci
Industri ini sudah dikenal di luar daerah Bandung, di samping itu lokasi daerah ini mudah dijangkau oleh wisatawan yang datang ke kota Bandung.
Dalam pembinaan dan upaya peningkatan ke lima kawasan tersebut pemerintah kota telah melakukan kegiatan sebagai berikut :
- Pembinaan yang dilakukan oleh dinas Industri dan Perdagangan terhadap para pengrajin dan pengusaha
- Promosi yang dilakukan Dinas Pariwisata dalam memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan
- Pemanfaatan tenaga kerja lokal
- Pembangunan sarana dana prasarana, terutama akses jalan untuk mencapai daerah tersebut
Permasalahan yang terjadi :
- Dibeberapa lokasi diatas masyarakat belum siap menerima perkembangan yang terjadi karena adanya faktor budaya, contoh: untuk kawasan Cigondewah pengembangan pariwisata di daerah tersebut harus selalu mengadakan pendekatan terhadap tokoh Masyarakat atau ulama di daerah tersebut
- Masuknya pengusaha luar yang mendominasi perkembangan daerah tersebut, memerlukan peran pemerintah daerah dalam pengaturan investasi
- Masuknya tenaga kerja luar yang dibawa pengusaha yang berinventasi di daerah pariwisata tersebut
B.2 Kawasan Wisata Jalan Jaksa, Jalan Wahid Hasyim dan Kebon Sirih, Jakarta Pusat
Sebuah kawasan pemukiman yang menjadi tempat persinggahan wisatawan asing di jantung Ibu Kota, Jakarta. Penduduknya menjual berbagai makanan, mengelola penginapan, menyelenggarakan festival, yang banyak menarik wisatawan manca negara. Suasananya yang jauh dari kebisingan dan kepadatan lalu lintas membuat kawasan ini menjadi pilihan bagi orang asing yang bekerja maupun tamasya di Jakarta. Tarif menginap sekitar Rp 50.000-Rp 100.000 per malam, losmen sekelas di kawasan lain mencapai Rp 150.000. Makanannya bervariasi, enak dan murah. Harga steak di sebuah cafe hanya antara Rp8.000 dan Rp 10.000.
Kawasan wisata yang dikelola penduduk sekitar jalan Jaksa, Kebon Sirih Jakarta Pusat ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kotamadya Jakarta Pusat sebagai Lokasi Wisata Malam Hari, khususnya pada setiap Sabtu malam mulai awal Juni 2001. Wisata Malam Hari ini hanya akan berlangsung setiap malam Minggu mulai pukul 18.00 hingga pukul 02.00 dini hari. Pelaksanaan Wisata Malam Hari itu dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Selain penataan pedagang kaki lima, di kawasan itu juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan kesenian dan penjualan berbagai cendera mata.
Di kawasan Jalan Jaksa terdapat 15 penginapan dan hotel. Sedangkan di Jalan KH Wahid Hasyim ada lima hotel melati dan bintang. Setiap hari sedikitnya 200 hingga 300 turis asing berkunjung dan menginap di kawasan tersebut.
Setiap malam Minggu dari pukul 18.00 hingga 02.00 dini hari arus lalu lintas di jalan-jalan sekitar pusat keramaian tersebut berlaku ketentuan khusus. Jalan Jaksa ditutup total. Sedangkan Jalan KH Wahid Hasyim yang biasa berlaku dua arah, pada malam Minggu saat acara Wisata Malam Hari hanya berlaku satu arah saja ke arah Jalan MH Thamrin. Perubahan satu arah ini hanya berlaku dari simpang lima Johar hingga ke persimpangan Sabang (Jalan Agus Salim). Para pengguna jalan yang biasa menggunakan Jalan KH Wahid Hasyim untuk menuju kearah Menteng diarahkan melalui Kebon Sirih atau Jalan Gereja Theresia. Selanjutnya, yang menggunakan Jalan Kebon Sirih menuju Menteng akan diarahkan melalui persimpangan Tugu Tani.
B.3 Kawasan Wisata Batik Prawirotaman di Jogjakarta
Sebuah kawasan yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota Yogyakarta ini adalah kawasan wisata yang dikelola oleh masyarakat sekitarnya. Kawasan tersebut tidak hanya menyediakan penginapan yang unik dan terjangkau, tetapi juga sederet artshop, cafe, toko buku, pasar tradisional, dan sebuah batu tulis yang tentu bisa menjadi alternatif wisata pula.
Semula kawasan ini merupakan sebuah kampung yang terkenal sejak abad ke-19, saat seorang bangsawan kraton bernama Prawirotomo menerima hadiah sepetak tanah dari kraton. Sejak awal, kampung ini memang mempunyai peran yang tak kecil bagi Yogyakarta. Masa pra kemerdekaan, kampung ini menjadi konsentrasi laskar pejuang. Pasca kemerdekaan, tepatnya tahun 60-an, kampung ini dikenal sebagai pusat industri batik cap yang dikelola oleh keturunan Prawirotomo. Sementara sejak tahun 70-an, seiring meredupnya industri batik cap, para keturunan Prawirotomo banting setir ke jasa penginapan dan Prawirotaman pun mulai dikenal sebagai kampung turis.
Memasuki kawasan ini, anda akan disambut dengan nuansa kampung tengah kota, mulai dari lalu lalang kendaraan hingga sapaan warga yang umumnya dapat berbahasa Inggris. Sederetan penginapan dengan keunikan rancang bangunnya, mulai Jawa klasik hingga hotel masa kini terdapat di kawasan ini. Fasilitas yang disediakan penginapan pun cukup menggoda dengan harga yang terjangkau, mulai Rp 50.000-Rp 300.000. Meski ada yang telah berpindah tangan, kebanyakan penginapan masih dikelola oleh keturunan Prawirotomo, terdiri dari tiga keluarga besar yaitu Werdoyoprawiro, Suroprawiro, dan Mangunprawiro.
Kawasan Wisata ini terbagi menjadi tiga bagian : Prawirotaman I atau biasa disebut Prawirotaman saja adalah daerah yang paling terkenal. Selain penginapan, di kawasan ini juga terdapat fasilitas wisata lainnya seperti agen tour travel, warnet dan wartel, cafe dan resto, hingga bookshop. Di cafe dan resto yang tersedia, anda bisa menikmati banyak masakan khas Jawa, Eropa, maupun paduan keduanya. Bookshop yang tersedia menyediakan buku-buku bagus dengan harga yang lebih murah. Buku-buku impor yang harganya bisa ratusan ribu bisa didapat dengan hanya mengeluarkan Rp 35.000 – Rp 60.000 saja. Kadang, ada pula turis mancanegara yang mau bertukar koleksi bukunya.
Beberapa artshop juga berjejer menjajakan pernak-pernik seni yang unik. Ada meja yang terbuat dari bambu, kain batik, lemari yang dibuat dari kayu glondongan hingga barang-barang antik seperti lampu hias dan keris berusia tua. Salah satu benda antik yang sangat laris di kalangan turis mancanegara adalah cap batik. Biasanya, cap itu digunakan untuk hiasan daun meja, angin-angin ventilasi rumah kayu atau sekedar sebagai koleksi karena dianggap mempunyai nilai seni berupa detail motif yang sangat menarik dan nilai sejarah yang cukup tinggi. Seorang warga Jerman pernah memborong 1000 buah cap batik dari sebuah perusahaan batik yang kini sudah tidak beroperasi.
Di sebelah selatan kawasan Prawirotaman I merupakan kawasan Prawirotaman II yang berbatasan langsung dengan pasar tradisional di tempat itu. Berjalan-jalan di pasar tradisional pada pagi hari merupakan alternatif wisata yang menarik. Selain bisa menyaksikan hiruk pikuk warga yang tengah berbelanja, anda juga bisa mencicipi panganan khas Yogyakarta yang banyak dijual. Bila menuju ke sebelah selatan lagi, anda akan bertemu dengan daerah Prawirotaman III yang tak kalah ramainya. Di Kawasan Prawirotaman III ini, terdapat banyak rumah penduduk.
Meski nama sebenarnya dari dua bagian paling selatan Prawirotaman adalah Prawirotaman II dan Prawirotaman III, namun daerah itu lebih dikenal dengan nama Jalan Gerilya. Menurut cerita, kawasan itu merupakan markas Prajurit Hantu Maut (laskar jaman perjuangan kemerdekaan Indonesia) yang dipimpin oleh Pak Tulus. Di salah satu sudut jalan, anda bisa menemukan sebuah batu tulis yang dibuat untuk memperingati perjuangan pasukan tersebut. Selain Pasukan Hantu Maut, laskar prajurit yang pernah bermarkas di kawasan ini adalah Prajurit Prawirotomo.
Masyarakat sekitarnya menyelenggarakan pula jasa penyewaan sepeda motor dan mobil, bahkan fasilitas antar jemput. Jika belum memiliki rencana wisata, sejumlah agen memiliki cukup referensi tentang tempat wisata menarik di Yogyakarta. Mulai dari wisata budaya seperti candi dan kraton hingga petualangan seperti trekking.
Oleh:
Dieny Ferbianty
Pariwisata Bertumpu Masyarakat.
Bab 3: Pariwisata Perkotaan Bertumpu Masyarakat.
Daftar Pustaka
Ardika, I Gede. Paparan Pengantar Pembangunan Kepariwisataan Berwawasan Budaya ,makalah pada Pelatihan Pengelolaan Pariwisata Budaya, P2PAR ITB, Bandung, 2007
Baker, Janet . Planning for Local Level Sustainable Tourism Development, Canadian Universities Consortium Urban Enviromental Management Project, Canada
Dimyati, Muh. Peran dan Keterlibatan Masyarakat dalam Penataan Ruang Perkotaan,Makalah Presentasi pada Diklat Penataan Ruang Perkotaan, Makassar, 218
Gunawan,Myra P. Berbagai Aspek dan Gagasan Pembangunan, Pusat Penilitian Kepariwisataan ITB, Bandung 1997
Gunawan,Myra P. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan, Prosiding Pelatihan dan Lokakarya, ITB Bandung 1997
Hikmat, Harry. Strategi Pemberdayaan Masyarakat, Humaniora Utama Press, Bandung, 2006
http:www//geocities.com/musikindonesia/jalanjaksa.html, Membawa Jalan Jaksa dan Kebon Sirih Jadi Objek Wisata Malam Hari,diakses 20 Mei 2007
http:www//yogyes.com/id/yogyakarta/tourismobjects/placesofinterests/prawirotaman,Kampung Batik dan Penginapan Yang Mendunia, diakses tanggal 13 Mei 2007
Ismail,Hairul,Tom Baum & Jithendan Kokranikkal, Urban Tourism In Developing Countries : A Case of Malaysia,The Scottish Hotel School,University of Strathclyde
Kompas Cyber Media, Jalan Jaksa dalam Foto, 2 September 2000, Jakarta
Laporan Kemajuan Kegiatan Penelitian Perguruan Tinggi 338.455.82 II-9 ,II-10,P2PAR ITB,Bandung
Purwakusuma, Hilman. Gedung PBB jadi Objek Wisata, Pikiran Rakyat, 10 November 2006
Pemerintah Kota Bandung, Bappeda Kota Bandung, Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kota Bandung, Bandung , 2006.
Soekadijo, R.G. Anatomi Pariwisata , PT Gramedia Pustaka Utama , Jakarta , 2000.
Urban Governance Toolkit Series , http : // uneptie.org./pc/tourism
Comments
Leave a Reply