Potensi "Walking Tour" di Bandung
Posted on | March 3, 2007 | 29 Comments
WALKING tour di Bandung akan menelusuri kawasan dan bangunan bersejarah yang terkonsentrasi di kawasan inti Bandung. Ada tiga contoh potensi walking tour, yaitu Tur Bandung Awal, Tur Kota Taman, dan Tur Zaman Keemasan.
Tur pertama adalah Tur Bandung Awal (Early Bandung Tour) yang akan menelusuri tempat-tempat bersejarah di pusat kota, tempat Bandung untuk pertama kalinya didirikan. Feature utama tur ini mencakup kawasan dan arsitektur lama dari abad ke-19, dengan nilai superlatif (”paling”, contoh paling pertama, paling eksotik, dan sebagainya).
Point of interest tur ini dimulai di kilometer 0 (yang ditentukan oleh Deandels pada 1810). Jalan Asia Afrika (1810; jalan paling pertama di Bandung, sebagai bagian dari De Groote Postweg yang terbentang antara Anyer dan Pana-rukan), Grand Hotel Preanger (1889; berpredikat hotel paling eksotik yang dibangun pada masa kolonial), Hotel Savoy Homann (1880; hotel paling pertama), dan Gedung Merdeka dengan Museum Asia Afrika (1895; tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika).
Selanjutnya menuju Alun-alun (1810; taman pertama di Bandung), Masjid Agung (1812; masjid pertama), Rumah Pendopo (1810; awalnya sebagai kantor The Fo-unding Father of Bandung, Bupati Wiranatakusumah II), Makam Para Bupati dan Dewi Sartika, kawasan Pasar Baru (1906; pasar ‘modern’ pertama untuk zamannya, dikenal juga sebagai Chinatown-nya Ban-dung), Hotel Surabaya (1884; hotel unik yang dibangun bersamaan dengan kedatangan jalur kereta api dari Batavia), Gedung Selatan Stasiun Kereta Api (1884; stasiun pertama), Gedung Pakuan (1864; awalnya kediaman resmi Bupati Priangan, Van der Moore), dan diakhiri di Taman dan Gedung Balai Kota (1864; bangunan pemerintahan pertama ketika ibukota Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung).
Tur kedua adalah Tur Kota Taman (The Garden City Tour), yang akan menelusuri taman-taman hijau dan jalan-jalan rindang serta beberapa bangunan bersejarah penting di sepanjang rute ini.
Tur Kota Taman dimulai di Taman Balaikota kemudian menuju Taman Lalu Lintas (1910-an), Gedung SMA 3 dan 5 (bekas HBS/sekolah menengah atas semasa kolonial), Gedung Sabau (1916; bekas markas Kementerian Peperangan Belanda), Kodam III Siliwangi (1918), Taman Maluku, Gedung Kologdam (1920; bekas Gedung Jaarbeurs atau pameran tahunan), dan bangunan The Heritage (awal 1900-an; bekas vila pemilik perkebunan kaya).
Tur akan berlanjut ke Taman Cilaki, Gedung Dwi Warna (dulu Indische Pensioenfondsen), Museum Geologi (1926; konon museum geologi terbesar di Asia Tenggara), Museum Pos Nasional (1931), Monumen Perjuangan (1995), dan berakhir di Gedung Sate (1892).
Gedung Sate pada awalnya akan digunakan sebagai gedung pemerintahan menyusul rencana pemerintah kolonial untuk memindahkan lokasi ibu kota nusantara dari Jakarta ke Bandung. Kini Gedung Sate digunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat dan menjadi landmark kebanggaan Kota Bandung.
Tur ketiga adalah Tur Zaman Keemasan, yang akan menelusuri tempat-tempat bersejarah yang elegan dan menjadi highlight selama Zaman Keemasan (The Golden Age, 1920-30-an). Pada zaman inilah Bandung mendapat julukan ”Parijs van Java”. Feature utama Tur Zaman Keemasan mencakup 3 jalan pertama di Bandung, yaitu Jln. Asia Afrika, Jln. Braga, dan Jln. Merdeka.
Tur diawali di Grand Hotel Preanger atau alternatif lain di Simpang Lima, ujung timur Kota Bandung pada Zaman Keemasan, melalui kawasan keuangan (financial district) sepanjang Jln. Asia Afrika, kemudian berbelok ke Jln. Braga yang pada masa itu dikenal sebagai ”The Most Fashionable Street in the East Indies”. Tur akan melalui Teater Majestik (1920-an; kini AACC), Bank Pembangunan Daerah (1915), Jln. Braga (dengan bangunan-bangunan bekas pertokoan yang menjual berbagai produk terakhir Eropa pada Zaman Keemasan), Bank Indonesia (1930-an), Gereja Protestan Bethel (1926), Gereja Santo Petrus (1922), dan berakhir di Jln. Merdeka (kini kawasan perbelanjaan populer bagi kalangan muda Bandung dan pengunjung luar kota).
Sebetulnya masih banyak bangunan lama maupun baru yang unik dan berada dalam jalur tur, seperti BRI Tower (yang hingga kini berpredikat sebagai gedung tertinggi di Bandung), gedung Wahana Bakti Pos, dan gedung Bank Indonesia yang baru.
**
AGAR lebih menarik, walking tour sebaiknya dikombinasikan dengan wisata jenis lain yang dikemas sedemikian rupa menjadi paket tur. Misalnya, walking tour dilakukan pagi hari ketika belum terlalu panas. Makan siang akan dilakukan di kafe-kafe terbuka, yang cukup banyak terdapat di Bandung dewasa ini.
Sore hari akan digunakan untuk shopping tour, seperti berbelanja di Cihampelas, Dago, Merdeka, Alun-alun, Buah Batu, atau Cibaduyut, atau menikmati seni dan budaya khas Bandung, seperti Saung Angklung Pak Udjo atau galeri-galeri di Bandung.
Hari yang menyenangkan akan diakhiri dengan makan malam di salah satu restoran di perbukitan sekitar Bandung, sambil menikmati panorama Kota Bandung di waktu malam.
Bila wisatawan masih memiliki waktu lebih, hari kedua dapat digunakan untuk berkunjung ke dataran tinggi sekitar Bandung, seperti Gunung Tangkuban Parahu, atau melakukan agrowisata ke perkebunan bunga, buah dan sayur-mayur di Lembang, perkebunan teh Pengalengan, atau Ciwidey.
Walking tour mengisyaratkan ketersediaan infrastruktur penunjang, seperti trotoar dan interpretasi pada setiap point of interest. Penyediaan trotoar berkualitas prima, utamanya di jalur-jalur tadi, tidak saja bermanfaat bagi wisatawan, namun juga warga kota. Keberdaan PKL dewasa ini, yang banyak memanfaatkan trotoar bahkan badan jalan, sebetulnya bisa memberi warna tersendiri asalkan ditata dengan rapi. Sebagai bahan cerita, bukannya PKL tidak ada di Singapura, negara tetangga yang terkenal sebagai fine city (kota denda).
Di kawasan Bugis Junction ada lorong jalan khusus yang disediakan bagi para PKL, namun kondisinya jauh lebih teratur dan bersih. Demikian juga di Bali, yang peraturan adatnya sangat ketat terhadap keberadaan PKL.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi dan aksesibilitas pengunjung menuju bagunan-bangunan bersejarah. Kepemilikan bangunan di tangan pribadi bisa menjadi hambatan bagi aksesibilitas wisatawan untuk menikmati atau mempelajarinya. Selain itu, kondisi bangunan bersejarah di Bandung banyak yang tidak dioptimalkan, sehingga terkesan kusam dan kurang menarik.
Mudah-mudahan kelayakan pengembangan potensi wisata walking tour di Bandung bisa mulai dipelajari oleh pihak-pihak yang lebih berkompeten, seperti pemerintah kota dan pengusaha industri pariwisata, serta ahli sejarah, arsitektur, budaya, dan pariwisata, dengan mengacu pada kebutuhan warga. (Teguh Amor Patria)***
Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 19 April 2003.
Incoming search terms:
nomer telpon pemandu kampung naga tasikmalayaComments
29 Responses to “Potensi "Walking Tour" di Bandung”
Leave a Reply
March 29th, 2007 @ 2:22 pm
kok gak ada tentang asal usul & sejarah terbentuknya kampung naga, yah?
padahal itu yang paling dibutuhin
November 29th, 2007 @ 6:14 am
Apa boleh saya minta nomor telepon contact person orang yang dapat mengantar kami survei ke kampung naga?
Sekolah kami akan mengadakan live in di kampung naga dan kami membutuhkan waktu untuk survei. Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih.
December 3rd, 2007 @ 4:27 am
kebetulan hari jumat lalu saya kuliah lapangan ke sana. silahkan contact ke pemandu wisata di sana, namanya Cahya: 081646888092.
salam
semoga sukses!
December 15th, 2007 @ 8:54 am
saya mau bikin tugas akhir tentang kampung naga kira kira diijinin gak yak…? ada saran gak harus gimana2 nya dulu gituh…
makasih sekali….
December 19th, 2007 @ 5:46 am
siapa bilang ngga ada asal usulnya. kamunya aja kalee yg kurang buka2 web, di google banyak tuh sampe bejibbuuun… ttg kampung naga. buka aja..
December 19th, 2007 @ 5:56 am
saya pernah ke sana( kampung naga) kebetulan di deket2 desa situ ada rekan saya juga, jadi wktu saya nanjak ke galunggung saya sempatin mampir ke kampung naga, penduduknya ramah2 sekali, mereka manyambut setiap wisatawan yg berkunjung ke sana, tentu dengan se ijin kepala adat atau sesepuh kampung tsb. segala penat, jenuh bisa hilang pas kita di hadapakan pada sebuah kampung yg benar2 alami,sejuk,sejauh mata memandang hanya rasa damai… rasa lelah karena harus berhadapan dgn tanjakan sebanyak kira2 460 anak tangga tapi itu langsung terbayar sudah dgn keindahan alamnya.. waw !! exiting bgt!
January 8th, 2008 @ 4:17 am
hai2 kaka2 y9 ad dsna…..
aq ti2,,naq sma60 jkt…..
nak2 klaz 3 squl ku mw ngdain research k kp.nAga,tasik..
rncna prgny tgl 17-18 jan’08…
bs bntu aq 9??
qr2,aq neliti tntg ap y??
kk kn dh pnh ksna…..pst tw dunkz,dsna da ap aj,.,.
tlgn aq y….
tengkYu,,sblmnya
January 18th, 2008 @ 7:26 am
kampung naga emang indah banget……
study tour ksna gak nyesel siy…..
tp nyampe rmh lgsg pd pgel2……!
February 11th, 2008 @ 2:06 am
uUh…manK kMpuNg nGa TOP BGT.sAlUt bEnEr sMa mAsy’ sAna…
gILe gA cPe Pa tUrun nAek tAngga yG jUmLahy’ rAtuSaN…
Aq Yg BrU S’x KsN pEgEl2 uDaHanNy’.
Tp, jUjUr q sAlut m aDaT isTiADat yG mSh aSlI, HArI GiNi….mAsIh dA y mAsy’ KmPunG NGa yG MsH KeNtAL m kEbuDaYaAn.
March 18th, 2008 @ 10:26 am
Sok sanajan raga aya di Bandung, tapi hate tetep di wewengkon Kampung Naga. Kulantaran Nyai, Akang jadi teu genah cicing. Tulungan akang… neundeun hate teh geuningan beurat,teu kawasa, teu ngeunah sagala rupa. Iraha atuh Nyai urang tiasa patepang deui, sangkan teu aya jarak deui.. sadeupa ge teu tega.. akang sono pisan.
April 9th, 2008 @ 7:12 am
Saya pernah ke Kampung Naga 2 kali, tahun 1993 dan tahun 1999.
Satu yang harus diperhatikan kalau pergi ke Kampung Naga, jangan hanya melihat, tetapi juga merasa.
Yang saya lihat Kampung Naga, adalah sebuah kampung yang ditata dengam falsafah hidup yang dalam. Yang menyangkut aspek spritualitas, sosial, budaya dan ekonomi/ fisik. Di dalam anya unsur keserasian dan keseimbangan.
dampak dari falsafah tersebut dapat dirasakan geterannya dalam batin kita. Adanya aora spiritual yang mendalam.
Itu yang saya lihat dan saya rasa, yang sangat subyektif. Ini sangat berbeda dengan komplek perumahan yang dibangun hanya pertimbangan fisik dan sosial saja seperti yang ada saat ini.
April 11th, 2008 @ 1:32 pm
ada yang tahu tentang masalah hukum waris dan cara pernikahan di kampung naga ga . . .?lagi dijadiin tugas neeh. . .thanks ya. . .
August 30th, 2008 @ 4:22 am
GiLLLe………….
SmPh……
Kampoeng naGA tu………?????
asyIK….BnGt,…..
UdaRAnYA mAsiH aSLi bO………
aDAT isTIaDAtnyA jG Ke jAga bnGT……
G kn nYESEL deh loe” pD yG KEsaNA…..
dijAMin dech……
WalAu……paS naeKK tanGGanya bUSHET,,,,, cPe bngT,,,,,,
September 5th, 2008 @ 3:56 am
aq bNcI bNGt……..Sm Yg NaMAnyA CwOOOO….
TEruTAma BARRY!!!!!!!!!!!
He make me ancurrr….
I very broken heart!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
I VERY HEAT U BARRY!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
November 8th, 2008 @ 10:10 am
g abru kmrn balik dari kampung naga.. ada nanya2 jg sih ttg sejarahnya gt.. tp warga sono aja ga taw krn dokumen2 mereka ilang terbakar waktu peristiwa DI/TII tahun 1956 yang lalu..
kampung naga bgs dari segi gotong royong dan kebersamaan mereka. tapi sptnya masyarakat sana agak pasif y?
mgkn itu kli y kecenderungan orang desa?
bwt yg maw ke sono untuk live in dll, bs survei dulu.. hehee..
December 4th, 2008 @ 1:03 pm
bulan januari sekolah gw ngadain karya wisata gitu kekampung naga kita disuruh neliti gimana hehidupan disana. kata ny seru y!!!!
December 18th, 2008 @ 1:17 pm
punten saya widya saya mahasiswa yang mau penelitian di kampung naga. saya pernah dengar di kampung naga itu ada ritual terbang buhun, kira-kira saya harus menghubungi siapa untuk mencari informasinya??maksih
December 27th, 2008 @ 6:47 am
menarik…
Saya sudah pernah amazing race di jalan asia afrika.
Tapi baru tahu ada kegiatan seperti ini.
kalo ongkosnya kira2 berapa ya?
January 30th, 2009 @ 4:57 am
bulan ini ak ru ja balix dr KAMPUNG NAGA DESA NEGLASARI KEC SALAWU KABUPATEN TASIKMALAYA,,
SUMPAH DISANA TUH SERU BGD DEH…
Bnyak pelajran yg lita dapetin dari sna.
dari mulai ilmu pengetahuan,hidup sederhana dan hidup tentram..
pokoknya penelitian disana seruuuuuuuu abiezzzz……..deh….
yang lum coba cpetan kesana…
dijamin ga bkal nyesel..
kok sistem pertanian disana ga da cie?kan aku butuh itu smua..
I LOVE KAMPUNG NAGA..
MISS U.
February 5th, 2009 @ 3:05 am
Rencananya saya pengen ke kampung naga tgl 14 Februari nanti…Mau tanya donk ke temen2 yg pernah kesana, kita tuh harus daftar dulu, bayar kemana dan berapa, ada “syarat2″ lain, atau langsung datang kesana aja???
Makasih ya buat bantuannya…. =)
February 27th, 2009 @ 1:46 am
kampung naga…..
wis pas ngdenger’y jg lgsg fantastis…
February 27th, 2009 @ 1:46 am
sasas
February 27th, 2009 @ 1:48 am
kampung naga…
pas nge dengernya…jga langsung fantastis…
ech…dklo bleh tau d pa aja obyek wisata d sn?….
March 31st, 2009 @ 2:59 pm
ada sejarah terbentuknya ato apapun gitu sumber informasi yg penting2 trus detail gitu gak ya ? i really2 need those thing immediatly haaaaaaaaaaa, <3 kampung naga
April 27th, 2009 @ 9:05 am
Sabtu siang gua dan temen-temen bala-bala.com menuju Garut untuk renang di Tirtangga Cipanas, memasuki kabupaten Garut rasanya kurang sregg… kalo renang cuacanya panas banget. Akhirnya gua usul ke temen-temen sebelum renang ke Kampung Naga. Mereka setuju.
Sudah lama banget pengen lihat kampung naga, yang menurut keponakan gua, Brayen so nice view . ….
Perjalanan ditempuh + 25 km dari Kota Garut. Kami menuruni ratusan anak-tangga dengan begitu semangatnya miskipun hujan deras. Kelelahan yang kami rasa hilang seketika, …. saat melihat kampung yang dihuni 200 kk (112 rumah).
Masyarakat menerima kami dengan ramah dan wakil ketua adat antusias menjelaskan silsilah dan keberadaan kampung Naga.
Mereka hidup dengan gotong-royong, menjalankan, menjaga dan melestarikan tatanan adat leluhur. Keberadaan dan kekayaan alam sekitar sangat menyokong kehidupan mereka sehari-hari.
Sebuah pembelajaran yang patut ditiru.
May 4th, 2009 @ 10:34 am
oll plend ….
kalo mao tau lbh lnjut,, dateng jja …
gga dda uang msuk kek n2 …
gratis buu
May 22nd, 2009 @ 6:04 am
kampung naga masih ditutup kah? padahal musim musim sekarang sedang banyak acara buat studi tour
May 22nd, 2009 @ 2:40 pm
Mau tanya
rencananya saya bulan depan akan ke kampung naga.
teman saya ada yang pernah lewat,tapi belum pernah masuk kesana
Apa kalo kesana harus pake pemandu?
Rencananya saja juga akan menginap, sekitar 10 org,Kalau menginap dirumah warga,Apakah perlu konfirmasi dulu ke ketua adat atau lainnya?
Dan berapa biayanya kalo menginap selama semalam(termasuk makan)?apakah sukarela saja?
Terima kasih sebelumnya…
May 25th, 2009 @ 1:21 pm
wahhhhhhhh
kmpung naga mang seru abis dah , pgen balik agy ,,,
yang pling seru tu pas malem2 : kepeleset w di d’dlm kamar mandi’a,gra2 k’glapan g ad lampu hehehehe
truz paz k’hm stay’a jg sndal w copot , haduh2,,,