Wanadri: Putra Alam Yang Tangguh
Posted on | October 31, 2008 | No Comments
Wanadri: Putra Alam Yang Tangguh
Oleh Mohammad Hilmi Faiq
Alam akan mendidik Anda setiap saat, setiap kondisi, setiap medan, dan setiap situasi. Bila semua itu mampu Anda hadapi, menjelmalah Anda menjadi seorang putra alam yang baik dan tangguh. Itu pesan Harry Hardiman W, perintis Wanadri: Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung.
Dari alam, Wanadri belajar kearifan, termasuk sikap egaliter dan menghargai sesama. Nuansa egaliter sangat menonjol di kalangan anggota Wanadri. Antara tua dan muda terjalin interaksi tanpa kendala psikologis.
“Kami memang dididik untuk mengedepankan kebersamaan. Tidak ada yang berbeda apakah Anda Islam atau Kristen, Jawa atau Sunda. Kalau berada di alam, satu kedinginan berarti semua kedinginan,” kata Ketua Wanadri Feby Nugraha menggambarkan bagaimana alam berlaku adil terhadap manusia.
Wanadri juga menekankan watak sukarela. Mereka siap menolong sesama tanpa berharap pamrih. Sebagai organisasi pencinta alam, Wanadri menekankan kepada anggota untuk menjaga keutuhan alam dan segenap isinya.
“Mentalitas seperti itu yang membekas dalam diri saya. Setelah menjadi anggota Wanadri, saya makin paham apa itu makna pantang menyerah,” papar Teo Tri Prasetyana (62).
Wanadri lahir dari sebuah kesadaran pentingnya wadah pencinta alam yang bebas tekanan penguasa. Saat itu pemerintah mengubah nama Kepanduan menjadi Praja Muda Karana (Pramuka). Mereka merasa nilai-nilai yang diajarkan dalam Pramuka tidak sesuai lagi dengan semangat kepanduan. Mereka pun membentuk Wanadri pada 17 Januari 1964.
Oleh karena harus mengurus keperluan administrasi, organisasi yang didirikan enam orang antara lain Hary Hardiman W dan Ronny Nurzaman ini secara de jure berdiri pada 16 Mei 1964. Alam bebas
Wanadri terdiri dari sekelompok anak muda yang mencintai hidup dan kehidupan di alam bebas. Dalam lembaga ini terdapat aturan, nilai, dan norma yang harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota. Mereka yang “melenceng” dari nilai Wanadri dipersilakan keluar.
Internalisasi nilai-nilai ini dilakukan dengan berbagai latihan, ekspedisi, dan perenungan mendalam atas fenomena alam yang ditemui anggota Wanadri. Oleh karena itu, setiap orang harus menjalani latihan selama 28 hari sebelum dilantik menjadi anggota.
Mereka diajak berjalan kaki hingga puluhan kilometer, mengarungi sungai berarus deras, merambat tebing, dan menyusuri pantai. Wanadri tidak akan memelonco Anda, tetapi Wanadri akan membimbing Anda. Alamlah yang akan mendidik Anda. Begitulah pesan Harry Hardiman W yang sangat dihafal anggota Wanadri.
Etos dan disiplin tinggi melahirkan sosok tangguh dalam Wanadri. Berbagai gunung dan rimba mereka tempuh. Sebutlah nama semua gunung di negeri ini. Bagi mereka, nama itu tak asing lagi. Wanadri juga selalu aktif memberi pertolongan saat bencana alam datang.
Keluarga? “Soal membagi waktu dengan keluarga, pekerjaan, dan Wanadri, tidak terlalu sulit. Apalagi istri saya sudah paham saya cinta mati Wanadri,” kata Eddy Beruang yang pada tahun 1991 mengarungi Sungai Membrano di Irian Jaya.
Kecintaan anggota Wanadri terhadap organisasinya ini mendarah daging. Saat ada kegiatan seperti Pendidikan Dasar Wanadri (PDW), semua anggota senior dan yunior bahu-membahu. “Wanadri sudah menjadi way of life bagi saya,” kata Uko yang menjadi anggota Wanadri sejak Desember 1964.
Uko yang masih terbilang kakek Feby ini sempat meninggalkan Bandung selama 12 tahun untuk menjadi dosen di Medan. Namun, begitu kembali ke Bandung dia makin aktif di Wanadri. Sekarang di usianya yang lebih dari 60 tahun, dia masih terlibat dalam program terbang solo dari Sabang sampai Merauke.
Sumber: Kompas, Sabtu, 10 Mei 2008.
Comments
Leave a Reply